Kamis, 21 Agustus 2014

Cerpen RETAC "PUTIH BIRU TAHUN KETIGA"


Putih Biru Tahun Ketiga
Karya : Ismi Roichatul Jannah     
“Menthog-menthog... tak kandani.. mung rupamu angisin isini mbok yo aja ngethok ono kandhang wae.. enak-enak ngorok ora nyambut gawe.. Menthog-menthog.. mung lakumu megal megol nggawe guyu..”
Drama Bahasa Daerah yang di praktekkan kelas IX-A berjalan dengan seru. Semua tertawa saat salah seorang menembang menthog-menthog dan menirukan gayanya.
~~~
Sekarang, aku sudah duduk di kelas X Sekolah Menengah Atas mengenakan seragam putih abu – abu. Sekarang tak ada lagi putih biru, putih biru sekarang hanyalah bisa dikenang. Dulu aku selalu berpikir. Apakah masa putih biru akan bisa aku lewati dengan baik? Apakah putih biru akan memberikan sejuta kenangan? Akankah aku meninggalkan putih biru dengan sebuah kesan?
Pulang sekolah hari ini kebetulan barengan sama anak SMP, saat aku melihat siswa sekolahku dulu keluar dari sekolah mengenakan seragam putih biru, aku jadi teringat masa saat aku masih mengenakan seragam putih biru. Putih biru saat tahun ketiga.
Pikiranku melayang membawaku mengingat masa – masa terakhirku di putih biru. Masa – masa penentuan di putih biru. Tapi juga memberikan kesan yang indah untuk tahun terakhirku.
FLASHBACK ON
Awal masuk kelas 3 SMP, aku ditempatkan di kelas IX-A. Sebagian di kelas IX-A belum pernah aku tau dan belum pernah kenal. Rasanya seperti membosankan siihh...
Tapi entah sejak kapan dan bagaimana aku mulai akrab sama mereka semua teman – temanku. Ya aku tau, mau gak mau aku harus adaptasi sama mereka semua. Mungkin awalnya aku gak pernah kenal akrab mereka semua. Aku cuma tau beberapa dari mereka dari cerita teman – temanku.
Dan mayoritas anak – anak di kelas IX-A banyak yang narsis. Kalau dibuat dalam album foto itu.. mungkin udah bertumpuk – tumpuk album foto yang ada.
“Hei.. IX-A buat slogan ayo..” usul Andri.
“Slogan apa’an?” kata Shafira.
“Chongo’-A chibi chibi cemungudt cemungudt Eeaaa.” Kata Andri lagi.
“Hahaha”
Ada satu anak yang namanya Jihan. Anak yang terlalu pendiam, gakk asikk, dan sokk akrab. Tiap hari Jihan dibuat nangis, dibuly habis – habisan. Tapi niatnya siih cuma bercanda, anaknya aja yang terlalu pendiam. Soalnya rata – rata anak di kelas IX-A itu pada freak semua.
Banyak keseruan – keseruan lain yang ada di kelas IX-A. Apalagi waktu pelajaran Bahasa Inggris.
“Ya.. Aris coba jawab nomer 3.” Kata Bu Kris.
Belum sempet Aris jawab, Bu Kris udah ngomong lagi “Yes, good.”
“Hehehe” semua satu kelas tertawa.
Waktu istirahat, Aris jadi sering ngomong kata “Yes, Good” sama niru gayanya Bu Kris. Pokoknya seru deh. Entah kenapa, kalau setiap Aris bicara itu ngebuat semua anak ketawa.
Setelah istirahat selesai, waktunya pelajaran IPA. Mungkin pelajaran yang paling menyebalkan. Padahal aku suka banget sama pelajaran IPA. Sayang aja gurunya gak bisa diajak kompromi –atau lebih tepatnya gak bisa ngerti anak – anak. Jadinya pelajaran jadi boring. Kerjaannya itu Cuma nyatet sampe berlembar – lembar tanpa jeda.
“Pak, Capek. Isrirahat bentar Pak. 5 menit Pak.” Kataku.
“Iya pak. Capek.” Kata anak – anak lain mendukung.
“Ngebut ae rekk. Pulang pak” Kata Yunus.
“Ya sudah saya terangkan dulu.” Sementara guru IPA menjelaskan, Yunus yang duduk di belakang sibuk sendiri.
“Yunus, dari tadi ngomong sendiri. Coba jawab LKS hal 17 nomer 3.” Kata guru IPA bicara agak tegas.
“Marah ta pean?” kata Yunus agak bercanda. Semua satu kelas ketawa sama kata – katanya Yunus. Guru IPA juga ikut ketawa.
Pelajaran berakhir terasa lambat. Setelah itu waktunya pelajaran IPS, guru IPS komplain ngomel – ngomel tentang hasil ulangan.
“Marah ta pean?” kata Aris menirukan kata - kata Yunus.
Guru IPS yang baru denger kata – kata itu, jadi nasehatin lagi. “Itu tidak baik. Bicara dengan guru menggunakan bahasa begitu. Kalau tidak bisa menggunakan bahasa jawa krama, gunakan bahasa indonesia saja.”
Semua satu kelas jadi diam semua. Setelah itu dilanjut pelajaran. Waktu guru IPS menjelaskan, temen – temen bergurau lagi –gak pernah bisa diam. “Nung ning nang ning nung ning ning nang ning nung.........” kata temen – temen kayak mainan topeng monyet. Akhirnya sampe waktunya pulang, guru IPS juga ikut – ikutan.
Tapi ada yang paling menyebalkan di antara semua yang menyenangkan. Entah karena apa, kayaknya guru – guru itu pada gak suka sama kelas IX-A. Tapi siapa peduli! Kelas IX-A tetep kompak. Bisa dibilang kelas IX-A kelas paling rame dan paling kompak. Gak ada kelas lain yang kayak IX-A.
Hari berikutnya, aku lupa pelajaran apa. Waktu itu, anak – anak satu kelas rame semua. Ketua kelas paling kece sedunia ‘Anif Novitasari’ :p *just kidd* nyuru anak – anak diem.
“He rekk diem, Hello...” kata Anif.
Waktu anak – anak rame, Anif sering bilang kata – kata itu. Akhirnya temen – temen banyak yang niruin kata – kata plus gaya bicaranya Anif.
Semester pertama jadi berakhir dengan cepat tanpa terasa dengan kegilaan – kegilaan, kekompakan dan keseruan yang ada di dalamnya. Akhir semester pertama, sekolah mengadakan studytour ke Yogyakarta.
Menyenangkan banget sih.. ada perasaan yang gak bisa dijelaskan dengan logika. Meskipun aku agak lemas karena aku paling benci yang namanya naik bis. Tapi bis tempatku paling seru, tapi juga paling lemot. Tapi intinya.. trip to Jogja-nya menyenangkan.
Temen – temen udah merencanakan mau merayakan ulang tahun wali kelas paling baik sedunia yang pernah anak RETAC punya, Bapak Djoko Yanuarso. Tapi karena ultah Bapak waktu liburan, tanggal 01 Januari.. jadinya ngerayainnya nunggu masuk sekolah.
---
Semester kedua sudah dimulai. Artinya dimulai juga kegilaan – kegilaan di kelas IX-A. Beberapa hari setelah awal masuk sekolah di semester kedua, temen – temen udah merencanakan untuk ngerayain ultah Bapak Djoko. Kebetulan hari itu barengan sama ada acara jalan sehat di sekolah. Setelah jalan sehat, ngadain bersih – bersih kelas. Waktu Bapak lagi ikut menanam bunga di taman, kue nya dikeluarin.
“Happy Birthday to you... Happy Birthday to you.. Happy Birthday.. Happy Birthday.. Happy Birthday Bapak...” kata temen- temen nyanyi bareng. “Selamat ulang tahun bapak.” Kata anak – anak lagi. “Tiup lilinnya pak.”
Setelah lilinnya di tiup... “Ya sudah. Kuenya dimakan aja. Dibagikan.” Lalu kuenya dipotong, gak sampe lima menit. Kue nya udah habis. Habis dimakan sama habis di hancurin, dibuat mainan. Mukaku sama temen – temen jadi putih kena tart. ‘itu cuma keseruan awal semester.’
Awal semester kedua sudah dibanjiri tugas – tugas kelompok. Jadi aku sering pulang sore. Hari Jum’at ada janji kerja kelompok di rumah Indah. Kelompokku sama kelompok Tya latihan drama bahasa daerah bersama. Sementara kelompok Tya latihan adegan, kelompokku latihan dialog.
“Ayo Ris. Bagian kamu hafalan.” Kataku menyuru.
“Oke. Yo opo lhek dolanan ............... hah? Apa dialognya.” Kata Aris.
“Cublek – cublek suweng Ris.” Kataku memberi tau.
Berkali – kali aku sama temenku bantu Aris hafalan. Sampe – sampe aku sama temen – temen yang lain hafal dialognya Aris. Tapi akhirnya Aris bisa juga dialog.
“Yo opo lhek dolanan cublek – cublek suweng. Carane, kita hompimpah dhisik. Sing dadi kudu mengkurep. Tangane kita di dekek ing gegere sing dadi mau karo muter watu cilik lan nembang cublek – cublek suweng. Sakwise tembange bubar, sing dadi kudu nebak sopo sing nggawa watu cilik mau. Yen bener, iku sing dadi lan oleh ukuman.” Kata Aris berdialog dengan terbata - bata. Meskipun sudah hafal, tapi Aris masih sering salah.
“Ukumane apa?” kataku melanjutkan dialog.
“Ukumane nembang menthog-menthog lan nirukake gayae.” Kata Aris lagi.
“Ya udah latihannya selesai deh. Aku pulang duluan ya?” kataku sambil berpamitan.
---
Setelah sekian lama latihan untuk mempersiapkan drama bahasa daerah, hari yang ditunggu tiba. Saatnya tampil penilaian drama. Drama memang gak berjalan lancar dengan penuh penghayatan, tapi drama berjalan dengan seru, rame, ketawa - ketawa dan gokil. Apalagi waktu pemeran Gilang nembang menthog-menthog dan niru gayanya. Dan karena rata – rata anak kelas IX-A narsis, jadi setelah itu gak lepas dari foto – foto dan upload di facebook.
Tiga jam terakhir waktunya pelajaran IPA. Pelajaran yang menjadi agak menyebalkan. Tapi kali ini jadi seru di jam – jam terakhir. Waktu setengah jam sebelum pulang, guru IPS mau masuk ke kelasku, tapi balik lagi. Karena bosan dengan pelajaran IPA, akhirnya.................
“Pak, dipanggil guru IPS tadi.” Kata Tya.
“Oh ya.. saya tinggal sebentar.” Kata guru IPA.
Setelah kembali dari ruang guru menemui guru IPS...........
“Waktunya IPS ya?”
Karena bosan pelajaran, semuanya kompak bohong “Iya pak!” padahal sih enggak. Tetep waktunya IPA. Setelah guru IPA keluar, lalu guru IPS masuk ke kelas IX-A. Semua jelas kelihatan heran karena hari itu gak ada waktunya IPS.
“Waktu saya ya?” tanya Guru IPS.
“Bukan Bu!” kata temen – temen kompak.
“Lho?? Jadwal saya di kelas IX-A.”
“Enggak bu. Besok bu waktunya IPS.”
“Mana jadwalnya?” lalu guru IPS pergi ke ruang guru untuk mengecek jadwalnya lagi. Sementara ketua kelas, mencari jadwal kelas lalu menyusul guru IPS ke ruang guru.
“Ini bu jadwalnya.” Kata Andri ketua kelas.
“Saya gak butuh itu. lihat ini jadwal saya. Hari Kamis ya.. jam terakhir. Lihat.” Kata guru IPS sambil sambil menunjuk jadwalnya.
“Itu kelas IX-C bu jadwalnya.”
“Lho iya ta? Ohh.. Iya udah. Maaf.” Kata guru IPS.
Andri dan Shafira nahan ketawa di ruang guru sampe rasanya tulang rusuk nya mau lepas karena nahan ketawa. Sampe di kelas, Andri dan Shafira nyeritain gimana kejadian di ruang guru tadi. Dan nyeritain kesombongan yang gak mau lihat jadwal kelas IX-A. Dan ternyata yang salah guru IPS. Semua satu kelas ketawa – ketawa heboh gara – gara kejadian ini. “Hahahahahahahahahahahahahahahahaha”
“Hari ini, dua guru sekaligus kena kerjain 9A. Guru IPA mau – mau aja dibohongin sama 9A.” Kata Tya.
“Hei.. guru IPA mau balik ke kelas.” Kata Indah.
“Hei cha, jam nya cepetin aja.” Kata Andri. Walaupun 15 menit lagi udah waktunya pulang.
“Ya ambil jam nya kesini.” Kataku.
Setelah jamnya di cepetin, jamnya di tempel lagi di dinding.
“Ngapain Pak?” tanya Yunus.
“Masih waktunya saya kan?” kata Guru IPA
“Udah waktunya pulang Pak, lho pak jamnya.” Kata Andri.
“Belum Bel.” Kata guru IPA.
“Belnya mati paling pak.” Kata Shafira.
“Iya wes. Saya kasih PR aja, hal...........................”
Yah begitulah akhir kegiatan kelas IX-A hari itu.
---
Hari senin, semua pasti sudah tau kalau hari Senin di semua sekolah pasti mengadakan upacara. Setiap upacara, diumumin lomba kebersihan kelas yang di adain setiap minggu. Dan akhir – akhir ini memang kelas IX-A gak pernah menang di lomba kebersihan kelas. Tapi kelas IX-A tetep PD aja.
“Kebersihan sudah lebih baik, hanya perlu di tingkatkan. Pemenang lomba kebersihan kelas 7.....” kata pembina upacara.
“IX-A” kata Tya, Anif dan yang lain dalam barisan. Sementara barisan lain diam.
“Kelas 7C. Pemenenang lomba kebersihan kelas 8...” kata pembina upaca melanjutkan.
“IX-A” kata anak – anak lagi.”
“Kelas 8D. Pemenang lomba kebersihan kelas 9....!!” pembina melanjutkan.
“9A.” Kata anak – anak lagi.
“Kelas IX-G. Kelas yang menjadi pemenang lomba kebersihan, ketua kelasnya harap maju ke depan.”
Meskipun bilangnya kenceng banget dan kenyataannya kalah, gak ada rasa malu sama sekali. Mungkin semuanya sadar kalau IX-A kurang layak jadi pemenang. Udah kalau masuk kelas gak pernah mau lepas sepatu, gak ada yang mau piket, dan buang sampah seenaknya di dalam kelas.
Setelah upacara, langsung pelajaran IPS. Guru IPS bilang kalau kelas IX-A mau dibuat penilaian mengajarnya.
“Saya mau pakek kelas IX-A buat listen study saya. Mungkin minggu depan, nanti saya kabari. Karena saya lihat kelas IX-A paling hidup kalau diajak diskusi.” Kata guru IPS.
Semua siswa satu kelas berpandangan satu sama lain dan bisik – bisik entah apa. Mungkin keheranan mendengar guru IPS memuji IX-A. Karena kelihatannya banyak guru yang gak suka sama IX-A karena rame sendiri. Apalagi guru IPS yang merupakan wali kelas IX-B. Tapi wajah anak IX-A jadi berubah kayak gimana gitu habis denger....
“Walaupun rata – rata kelas IX-A itu lebay, 90% lebay.” Kata guru IPS.
“Jiiaahh.. habis muji langsung nyela. Kalau ibarat terbang itu ya.. langsung dijatuhin dari ketinggian.” Kataku berbisik pada Tya. Anak – anak lain berpandangan lagi seakan bicara dengan bahasa isyarat.
“Mungkin aku gak kayak sekarang ini. Aku seperti punya kepribadian berbeda antara di rumah dan di sekolah. Aku bersifat agak lebay di sekolah mungkin karena tuntutan adaptasi.” Kataku dalam hati. 
Aku berharap tahun terakhirku di putih biru jadi berkesan dan gak terusak sama guru – guru yang gak suka sama 9A.
Waktu itu pelajaran IPS gak ada gurunya. Kegiatan yang udah berbulan – bulan gak dilakuin di 9A, dilakuin lagi. Yaitu ngebuli Jihan.
“Jihan sekarang kok berani bantah ya?” kata Tya.
“Karena udah punya facebook.” Kataku ikut – ikut.
“Denger – denger di Bangil ada bom ya?” kata temen – temen yang lain niruin update statusnya Jihan di facebook.
“Bom nya lho di Bugul. Kok bisa salah nulis Bangil Han?” tanya Tya.
“Mikir siapa Han? Mikir pacar ta?”
Semua anak perempuan yang ikut – ikut ngebuli, ketawa.
“Wooyyy ... Diem.” Kata anak laki – laki yang dari tadi sibuk sendiri lihat film. Anak – anak perempuan ngebuli Jihan –kecuali Andi yang ikut – ikut anak perempuan.
Anak laki – laki sibuk lihat film. Sementara Jihan bisa bebas dari bulian anak – anak. Indah dari tadi nyanyi – nyanyi lagu galau terus..
“Galau rekk!! Semalam habis berantem.” Kata Anif.
“Apa seh?” kata Indah.
“Gak usah di tutup – tutupi. Semua udah tau kalau Indah pacaran sama Yusuf.” Kata Anif lagi.
“Biarlah orang berkata apa.” Kata Indah sok puitis.
“Biaralah orang berkata apa... aaa...aaa...” kata temen – temen bareng nyanyiin lagunya Armada.
Ujian semakin dekat. Bulan berikutnya, seluruh kelas 3 sudah sibuk dengan ujian – ujian yang cukup memusingkan kepala. Tapi untuk anak Spansix, ujian gak ada artinya. Seperti tak ada beban sama sekali waktu menghadapi ujian.
FLASHBACK OFF
Sekarang semua hanya tinggal memory yang bisa dikenang. Entah apa yang terjadi beberapa tahun berikutnya pada teman – temanku. Akankah mereka tetap mengingatku atau udah melupakan semuanya!
Tapi aku senang bisa mempunyai kenangan bersama anak RETAC IX-A SPANSIX. Buatku semua sahabatku. Aku berterimakasih karena sudah membuat kenangan indah saat masa putih biru tahun ketiga. Aku tau mungkin banyak yang gak suka dan benci sama aku karena sifatku yang mungkin pelit gak mau nyontekin temen – temenku. Terserah apa yang temen – temenku bilang tentang aku. Aku tetep seneng bisa punya kenangan sama RETAC.
~ THE END ~
REmajaTiga.A.Community
Cerita ini dibuat berdasarkan kisah nyata yang pernah penulis alami waktu masa – masa putih biru. Tahun terakhir di putih biru yang mengesankan namun agak menyedihkan.


Sahabat
Karya : Ismi Roichatul Jannah
Walau tangan tak selalu berjabat
Walau mata tak selalu bertatap
Walau suara tak lagi terdengar
Tapi kita tetap sahabat
Walau jarak memisahkan
Walau waktu terus berjalan
Ikatan sahabat kan selalu teringat
Sahabat kan selalu menemani
Sahabat kan selalu menghibur hati
Karna sahabat sejati kan selalu di hati
Sahabat kan ada tuk menghapus air mata
Sahabat kan ada tuk berbagi bahagia
Karna sahabat sejati kan selalu bersama
Sahabat bagaikan bintang
Yang serlalu menemani kesendirian rembulan
Hingga mampu menerangi dunia
Dalam kebersamaan

Selasa, 17 Juni 2014

Cerpen "Cinta Datang Terlambat"


Cinta Datang Terlambat
Karya : Ismi Roichatul Jannah           
Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tau itu. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? Aku tau kau dan aku tak akan pernah berada dalam cerita yang sama. Sekarang, kau dan aku tak kan pernah menjadi ‘kita’.
Untuk apa mengaharap sesuatu yang tak akan pernah mungkin kita miliki, kalau kenyataannya itu hanya akan membuat kita tambah sakit. Aku tau rasanya berharap itu sakit,tapi kenapa aku tak pernah berhenti berharap kepadanya. Orang yang jelas – jelas tak pernah melirik ke arahku. Kenapa aku malah tak bisa memberikan harapan kepada orang yang sayang padaku?
Mungkin aku bodoh terlalu berharap lebih terhadap sesuatu yang sangat mustahil untuk aku miliki.tapi menghentikan hati ini untuk tidak berharap lagi, tak semudah saat hati ini memutuskan untuk berharap. Mungkin untuk saat ini yang bisa ku lakukan adalah terus berharap sampai akhirnya hati ini lelah dan tak akan pernah berharap lagi.
~~~
Rere Novita Dewi atau biasa dipanggil Rere sudah hampir 3 tahun berada di sekolah menengah atas. Tak terasa Rere sudah kelas 3 SMA dan setahun lagi Rere akan lulus dari sekolahnya sekarang dan tak akan mengenakan seragam putih abu – abu lagi. Rere mempunyai teman dekat bernama Brian Revaldo yang akrab disapa Valdo. Valdo adalah orang yang baik dan selalu ada untuk Rere, Valdo juga yang membantu Rere untuk tak mengingat lagi tentang Kevin Wijaya atau Kevin.
“Pagi princess Rere.” Goda Lyla.
“Apaan siih La?”
“Barengan sama prince Valdo lagi?”
“Ya kamu tau kan La, dia selalu memaksa untuk bareng ke sekolah?”
“Dia baik kan?”
“Memang.”
“Dia keren kan?”
“Lumayan.”
“Dia ketua OSIS loh”
“Yupz. I know.”
“Terus kenapa kamu masih gak mau nerima dia Re?”
“Ahh Lyla, udah jangan bahas itu lagi.” Kata Rere dengan nada childish-nya
“Jangan bilang kamu masih mikirin Kevin?” tanya Lyla.
“Stop sebut nama Kevin. Kenapa setiap ngebicarain Valdo selalu dihubung – hubungin sama Kevin siihh? Udah jangan di bahas lagi. Please!”
Sebenarnya Rere masih kepikiran pengalamannya. Waktu dia tak bisa bersama Kevin. Sakit hati yang dia rasakan, Rere gak mau sakit hati lagi. Setelah perdebatan kecil itu, Rere dan Lyla berjalan menuju kelas. Waktu menuju kelas mereka, Rere dan Lyla melihat Kevin jalan bareng Putri.
“Re, itu Kevin kan?” tanya Lyla.
“Mana?” kata Rere yang tak melihat Kevin.
“Itu.. dia jalan bareng Putri. Sejak kapan?” kata Lyla penasaran.
“Mana aku tau.” Kata Rere dengan cuek.
“Setahuku, Kevin gak pernah deket sama cewek deh.” Kata Lyla menerka – nerka.
“Nah itu.. dia deket sama Putri. Putri Amelia, wakil ketua OSIS.” Kata Rere. “Udah yukk.. ke kelas.” Ajak Rere untuk melanjutkan pergi ke kelas mereka.
Tett.. tett.. tett.. Bel tanda istirahat berbunyi. Anak – anak berhamburan keluar kelas. Rere dan Lyla langsung menuju kantin yang dari tadi di kelas, sudah mengeluh kelaparan. Setelah memesan makanan mereka mencari tempat duduk
“Eh.. aku masih penasaran sama Putri dan Kevin deh Re.”  Kata Lyla memulai pembicaraan.
“Gak ada kerjaan lain selain kepo’in orang apa?” kata Rere ketus.
“Yaelah Re.. kamu kan tau gimana aku.” Kata Lyla membela diri.
“Ya udah gak usah bahas masalah itu lagi.”
“Nada bicara kamu kok gitu sih Re, atau jangan.. jangan...”
“Jangan.. jangan apa? Jangan mikir macem – macem deh La.” Kata Rere.
Lalu Valdo datang menghampiri Rere dan Lyla yang dari tadi terlihat berdebat itu.
“Hai.. ngapain sih kalian, kok kayak seru banget.” Sapa Valdo yang baru datang.
“Eh, Valdo.. kamu kan ketua OSIS niih.. kamu tau tentang Kevin sama Putri?” tanya Lyla penasaran.
“Kenapa emangnya?” tanya Valdo.
“Kayaknya ada yang cemburu gitu deh.” Kata Lyla sambil melirik ke arah Rere.
“Apaan siihh La..” kata Rere ketus
“Iiihh.. aku kan gak nyebut nama kamu Re. Berarti kamu merasa dong.” Kata Lyla meledek.
“Enggak merasa sama sekali.” Kata Rere.
“Putri sekarang emang lagi deket sama Kevin. Sejak beberapa hari yang lalu setelah Kevin bantuin Putri gitu. Emang bener kamu cemburu Re?” tanya Valdo. Valdo tau kalau dulu Rere pernah suka sama Kevin.
“Kok kamu jadi ikut – ikutan Lyla siih. Aku tegasin sekali lagi. Aku gak cemburu. Sama sekali nggak.” Kata Rere dengan nada tegas.
“Aku harap begitu. Aku harap kamu gak ada perasaan lagi sama Kevin.” Kata Valdo.
“Ekhem.. Ekhem..” kata Lyla.
“Udahlah gak usah bahas itu lagi. Ayo balik ke kelas La.” Ajak Rere. Tiba – tiba, Valdo memegangi tangan Rere.
“Re, nanti pulang bareng ya? Aku tunggu.” Kata Valdo sambil melepaskan tangannya dari tangan Rere.
“Iyah.” Kata Rere singkat. Lalu Rere dan Lyla kembali ke kelas karena bel masuk akan segera berbunyi.
Ternyata guru yang mengajar di kelas Rere dan Lyla tidak bisa datang. Jadi hanya diberikan tugas saja. Kevin menghampiri Rere untuk bertanya tugas tersebut. Bukan tanya, lebih tepatnya mencontek. Sudah lama Kevin tak pernah menyapa Rere.
“Re, boleh nyontek kan? Kan udah ngomong baik – baik.” Tanya Kevin.
“Kesambet apaan tiba – tiba aja nyapa Rere dan minta contekan?” kata Lyla.
“Udah La.” Kata Rere mendiamkan Lyla. Lalu Rere memberikan bukunya pada Kevin untuk dicontek.
“Re, kamu gimana sih? Dia udah lama gak nyapa tiba – tiba.....”
“Dari kelas satu emang gitu kan?” kata Rere memotong omongan Lyla.
“Rere.. setahun mungkin kamu gak pernah komunikasi sama dia. Nyapa aja enggak.” Kata Lyla.
“Dan sekarang waktunya perbaikin itu semua.” Kata Rere menjelaskan.
“Kamu masih ngarep Kevin?” tanya Lyla.
“Enggak. Aku bilang kan memperbaiki pertemanan aku sama Kevin.” Kata Rere lagi.
“Ya udah terserah kamu. Tapi jangan lupa sama kebaikan Valdo.” Kata Lyla mengingatkan.
Setelah mereka selesai berdebat, Lyla pergi ke toilet meninggalkan Rere sendiri. Lalu Kevin mengembalikan buku Rere.
“Makasih Re.” Kata Kevin.
“Sama – sama.” Kata Rere singkat.
“Sejak kapan Lyla bawel kayak gitu?” tanya Kevin.
“Uda dari dulu. Kamu aja baru tau.” Rere cukup terkejut saat pembicaraan mereka sedikit berlanjut, Rere kira Kevin akan langsung pergi.
“Nomer handphone kamu tetep kan?” tanya  Kevin lagi.
“Tetep.”
“Boleh kan kalau aku sms kamu.”
“Anytime.”
“Oke. Thanks.”
---
Sepulang sekolah Valdo sudah menunggu Rere. “Maaf lama. Tadi nunggu Lyla dulu.” Kata Rere meminta maaf. Setelah sampai di rumah Rere, Rere berterima kasih pada Valdo.
“Thanks Valdo.”
“:You’re welcome.”
“Btw, nanti aku boleh main ke rumah kamu? Sekalian mau minta bantuan ngerjain tugas.”
“Boleh.”
“Ya udah. Nanti sore aku ke sini. See you.” Lalu Valdo meninggalkan Rere.
Saat menuju ke dalam rumahnya, Rere mendapat pesan dr Lyla.
“Re, nanti gak kemana – mana kan? Aku nanti ke rumah kamu ya?” setelah membaca pesan dari Lyla, Rere langsung membalasnya.
“Ya udah. Nanti Valdo juga mau ke rumah.”
Rere memutuskan istirahat sebentar sebelum nanti membantu Lyla dan Valdo mengerjakan tugas. Saat udah agak sore, ada yang mengetuk pintu rumahnya.
“Aku kira, Lyla dan Valdo masih akan datang 1 jam lagi.” Kata Rere pada diri sendiri. Lalu Rere pergi keluar kamar untuk membuka pintu. Dan ternyata yang datang bukan Lyla dan Valdo.
“Kevin?” kata Rere kaget.
“Hai Re.” Kata Kevin santai
“Ngapain ke rumah?”
“Emang gak boleh?”
“Yah boleh, tapi tau dari mana rumah ku? Kamu gak pernah ke rumah ku deh.”
“Kata Puspita sama Bagas.”
“Hm.. ya udah masuk dulu.”
“Aku sebenernya mau minta bantuan ngerjain tugas yang banyak itu.”
Rere masuk ke dalam untuk mengambil bukunya.
“Ini punya aku. Udah selesai sih. Di baca aja buat dipelajarin. Aku ke belakang dulu.” Lalu Rere pergi ke dapur untuk membuat minum. Lalu Rere kembali dengan membawa minuman.
“Ini minum dulu. Kesini sendirian?” tanya Rere.
“Iya. Bagas di ajak gak mau!”
“Kamu gak bilang dulu kalau mau ke rumah.”
“Gak sempet.”
“Ini anak banyak berubah selama setahun gak akrab.” Gumam Rere dalam hati
“Re, ini gimana?” kata Kevin menanyakan tugas dan membuyarkan lamunan Rere.
Lalu Rere mengajari Kevin. Selama hampir satu jam, lalu ada yang mengetuk pintu rumah Rere. Rere pergi membukakan pintu.
“Valdo? Lyla? Ada Stefan juga. Biasanya langsung masuk aja La tanpa ketuk pintu.” Kata Rere.
“Itu kan kalo sendiri. Sekarang kan sama Valdo dan Stefan.” Kata Lyla membela diri. Valdo hanya tersenyum melihat tingkah Lyla dan Rere.
“Ya udah ayo masuk.” Ajak Rere. Lyla, Stefan dan Valdo langsung menuju ruang tamu.
“Udah aku siapin minum tuh.” Kata Rere.
“Kevin? Ngapain disini?” kata Lyla yang melihat Kevin di ruang tamu Rere.
“Ngerjain tugas.” Kata Kevin santai. Sedangkan Valdo dan Stefan hanya diam.
“Kenapa gak minta bantuan Putri?” tanya Lyla ketus.
“Putri katanya sibuk. Makanya aku minta bantuan Rere.” Kata Kevin.
“Oohh.. kalau Putri gak ada baru inget sama Rere.”
“Kenapa sih La? Sejak kapan sih jadi bawel?”
“Udah gak usah berantem. Kan mau ngerjain tugas.” Kata Rere menghentikan pertengkaran Kevin dan Lyla.
Lalu mereka mengerjakan tugas bersama meskipun Lyla dan Valdo agak keberatan dengan keberadaan Kevin. Setelah selesai mengerjakan tugas, Kevin langsung pulang duluan.
“Kamu gak bilang kalau Kevin juga ikutan.” Tanya Valdo.
“Aku aja gak tau kalau dia mau ke rumah. Aku gak mungkin ngusir dia kan? Dia temen aku Valdo.” Kata Rere
“Ekhem.. cemburu Do?” tanya Lyla.
“Dikit.” Jawab Valdo.
“Hahaha.. dikit, banyak juga gakpapa.” Goda Lyla.
“Kevin itu temen aku.” Kata Rere.
“Tapi kita gak mungkin lupa sama apa yang udah pernah kamu rasain sama Kevin kan Re.” Kata Valdo.
“Kenapa siih kalian? Gak suka banget aku temenan sama Kevin?” kata Rere mulai marah. Lalu Rere sibuk dengan laptopnya. Tak mau melanjutkan perdebatan itu. Sejenak, mereka semua diam. Hening.
“Maaf Re.” Kata Valdo memulai pembicaraan.
“Untuk apa?” kata Rere.
“Untuk semuanya kalau aku punya salah.”
“Misalnya”
“Ngelarang kamu temenan sama Kevin.”
“Alasannya?”
“Ya aku gak mau kamu mengharap lagi sama Kevin.”
“Itu lagi. Aku tau Kevin sama Putri. Nyantai aja.”
“Jadi kamu gak marah lagi kan Re?” tanya Lyla.
“Aku gak pernah marah.” Kata Rere.
Setelah baikan, Lyla dan Valdo pamit pulang karena udah sore. Malam hari, waktu Rere lagi nonton tv handphone-nya berdering satu kali menandakan ada pesan masuk. Rere langsung membaca pesan yang ternyata berasal dari Kevin.
“Re, aku minta maaf ya? Udah bikin kacau semuanya. Aku tau Lyla sama Valdo gak suka dengan keberadaanku tadi.”
Rere langsung membalas pesan dar Kevin. “Gakpapa kok Vin. Harusnya aku yang minta maaf atas sikap mereka.”
“Jadi lain kali aku boleh minta bantuan lagi dong.”
“Bukannya aku gak mau. Tapi kan kamu bisa minta bantuan Putri.”
“Kok jadi Putri sih?”
Rere tak membalas lagi pesan dari Kevin.
---
Pagi – pagi di sekolah, sudah ada bahan pembicaraan. Seperti biasa, Rere pergi sekolah bareng Valdo..
“Re.. ada gosip. Kevin jadian sama Putri.” Kata Lyla bersemangat.
Rere tak menjawab. “Tadi malem perasaan baru sms’an bareng Kevin.” Kata Rere dalam hati.
“Wooyy Re. Gakpapa kan?” tanya Lyla.
“Ya gakpapalah. Ke kelas yuk!” ajak Rere.
Saat istirahat, Lyla dan Rere duduk di kantin membicarakan masalah gosip yang menyebar di sekolahnya.
“Eh Re, tau gak? Katanya ya.. Putri yang nembak sih Kevin.” Kata Lyla memulai pembicaraan.
“Terus?”
“Yah Re, masak cewek yang nembak cowok.”
“Ini zaman emansipasi kale La, ya terserah si Putri.”
“Susah ya ngomong sama orang kayak kamu.”
“Ya udah jangan ngomong sama aku.”
Lyla hanya menghembuskan nafas panjang. Lalu Rere dan Lyla memakan makanan yang sudah mereka pesan.
“Re, besok gak ada acara kan? Jalan bareng yuk!” tanya Lyla.
“Boleh. Kemana?”
“Gimana kalau ke taman?”
“Oke dah.” Kata Rere menyetujui.
“Nanti kamu pulang bareng Valdo?”
“Enggak. Kak Fera baru pulang. Dia bilang mau jemput aku sekolah.”
“Waahh.. nebeng dong!”
“Oke.”
Tett.. Tett.. Tett.. Tett.. bel sekolah berbunyi. Tanda untuk waktunya pulang. Hari ini Rere dijemput oleh kakaknya, Kak Vera. Jadi, Rere tidak pulang bareng Valdo.
Keesokan harinya Rere langsung pergi ke taman. Rere dan Lyla udah janjian ketemu di taman. Sesampainya Rere di taman, ternyata Lyla belum datang. Akhirnya Rere berkeliling taman sendirian dengan sepeda nya. Karena Rere bersepeda sambil meneria telephon, Rere hampir saja menabrak orang. Dan orang itu ternyata...
“Putri? Hm.. aku minta maaf ya. Kamu gakpapa kan?” tanya Rere.
“Gakpapa. Ya udahlah. Lain kali hati – hati dong kalau bawa sepeda.” Kata Putri nyolot.
“Kan aku udah minta maaf baik – baik.”
“Putri, kamu gakpapa?” tanya Kevin yang tiba – tiba datang seperti super hero yang mau nyelametin Putri. “Rere?” tanya Kevin yang heran melihat keberadaan Rere.
“Sorry. Aku udah minta maaf. Aku gak sengaja.” Kata Rere mengulang permintaan maafnya.
“Rere.. ayo pergi dari sini.” Kata Lyla yang baru datang, yang ternyata Lyla lihat semua kejadian itu.
“Aku duluan Vin, Put.” Kata Rere berusaha ramah.
Lalu Rere dan Lyla pergi dengan sepeda mereka masing – masing untuk mencari bangku kosong di taman.
“Gak habis pikir sama Putri. Udah minta maaf masih nyolot aja.” Kata Lyla yang kesal dengan kejadian tadi. Padahal yang mengalami Rere bukan Lyla.
“Biarin aja.”
“Cuek banget siih. Gak bisa di biarin. Aku baru tau kalau wakil ketua Osis kayak gitu.”
“Jangan di hubung-hubungin sama di sekolah.”
“Kamu tau kenapa dia kayak gitu?”
“Enggaklah.”
“Dia itu tau apapun tentang Kevin. Dia udah ngincer Kevin dari kelas 2. Dan dia tau kalau belakangan ini Kevin akrab sama kamu!”
“So why? Berarti Kevin gak boleh temenan sama cewek dong ya?”
“Enggak juga. Mungkin Putri tau kalau kamu dulu suka sama Kevin.”
“Hey.. itu lagi? Ya udahlah. Males bahas nya.” Kata Rere menutup pembicaraan.
Rere sudah capek mendengar teman – temannya bahas masa lalunya. Setelah itu, Rere dan Lyla bersepeda sebentar lalu pulang. Waktu perjalanan pulang, Rere dan Lyla ketemu Valdo.
“Hay.. Rere.. Lyla.” Kata Valdo memanggil Rere dan Lyla.
“Hayy Valdo.” Kata Lyla.
“Re, main yuk.” Ajak Valdo.
“Sorry Valdo. Lagi gak mood nih. Kamu pergi sama Lyla aja ya. Sorry.” Kata Rere lalu pergi meninggalkan Lyla dan Valdo.
---
Hari minggu Rere tak ada kegiatan. Hanya menonton tv. Tiba – tiba ada pesan masuk yang ternyata dari Kevin.
“Re, temenin ke toko buku yukk! Jangan tanya kenapa aku gak sama Putri. Putri lagi sibuk. Please ya temenin.”
Belum sempat Rere membalasnya, uda ada yang mengetuk pintu rumah Rere. Lalu Rere pergi membukakan pintu.
“Kevin?” kata Rere kaget melihat Kevin sudah ada di depan rumahnya.
“Siap?”
“Siap apa?”
“Temenin aku ke toko buku.”
“Aku aja belom bilang iya.”
“Aku pikir, kamu akan bilang iya deh.”
“Oke, tunggu bentar.”
Lalu Rere masuk ke rumahnya untuk bersiap – siap. Setelah bersiap – siap, Rere pergi ke toko buku bareng Kevin. Sesampainya di toko buku, Kevin langsung memilih buku.
“Cari buku apa siih Vin?” tanya Rere.
“Disuru beli buku buat persiapan ujian. Tapi aku rasa uang nya lebih dari cukup, jadi aku mau beli buku tentang sport juga.”
“Hm..” kata Rere singkat. Lalu Rere memegang sebuah buku novel yang menurutnya menarik. Buku itu berjudul You’re my everything
“Mau beli?” tanya Kevin
“Rencananya. Tapi setelah ujian.”
“Kenapa?”
“Mau fokus belajar dulu. Udah belom milih bukunya? Udah siang Vin.”
“Udah. Ayo keluar.”
Sebelum mengantar Rere pulang, Kevin mengajak Rere makan siang.
“Kenapa masih kesini?” tanya Rere.
“Ya makan lah. Aku yang traktir deh. Sebagai tanda terimakasih udah mau nemenin aku ke toko buku.”
“Terserahlah.”
“Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Dari tadi terserah terus. Kalo aku pesen batu emang mau di makan?”
“Jangan bercanda deh Vin.”
“Iyah .. Iyah .. maaf.”
Setelah makanan yang mereka pesan sudah ada, mereka makan bersama.
“Kenapa sih Re?” tanya Kevin.
“Kenapa apa?” kata Rere yang tak mengerti dengan pertanyaan Kevin.
“Kamu gak pernah ketawa lagi deh. Seenggaknya saat sama aku. Gak kayak dulu.”
“Kenapa harus ketawa kalau gak ada yang lucu. Emang aku orang gila?”
“Dulu kan kamu selalu ketawa – ketawa. Waktu kelas satu kita sekelas?”
“Ya itu karna ada yang lucu. Mungkin kemampuan ngelawak kamu udah hilang kale.”
“Hahaha.. bisa aja.”
“Bisa kan berhenti bahas topik yang gak penting.”
“Oke. Sorry.”
Setelah makan, Kevin mengantar Rere pulang. “Thanks buat hari ini.”
“Lain kali nggak lagi. Bisa dihabisin nanti aku sama Putri.”
Begitulah akhir dari kagiatan mereka hari itu.
---
Hari demi hari Rere lewati. Minggu ini Rere akan disibukkan dengan test persiapan menghadapi ujian dengan soal yang mungkin bisa dibilang rumit. Tapi Rere sudah belajar keras untuk ini. Jadi Rere akan tetap berusaha dengan baik.
“Rere...” kata Kevin memanggil Rere.
“Ada apa Vin?” tanya Rere.
“Aku mau tanya satu materi yang aku gak bisa. Kemarin aku hubungi kamu tapi gak bisa.”
“Ooohh.. Handphone ku mati. Materi apa emang Vin?”
“Yang ini.” Kata Kevin sambil menunjuk. Lalu Rere menjelaskan pada Kevin.
Valdo dan Lyla melihat Kevin dan Rere. Mereka melihat dari kejauhan.
“Sejak kapan mereka seakrab itu?” tanya Valdo yang gak suka melihat keakraban mereka.
“Gak tau. Mungkin sejak minggu kemarin mereka jalan bareng.” Kata Lyla.
“Jalan bareng?” kata Valdo kaget.
“Iya. Rere sama Kevin ke toko buku bareng.”
“Kok aku gak tau siih?”
“Kamu kan waktu itu sibuk di acara OSIS. Putri ada sama kamu juga kan? Makanya Kevin bisa pergi bareng Rere. Lebih tepatnya sih.. si Kevin kesannya agak maksa. Dia langsung dateng ke rumah Rere. Rere gak bisa nolak dong?” kata Lyla menjelaskan.
Tak terasa hari – hari berlalu begitu cepat. Pekan ujian sudah selesai. Pengumuman hasil ujian pun sudah keluar. Nilai Rere lumayan bagus, cukup untuk masuk perguruan tinggi di luar negeri. Sudah beberapa bulan lagi, Rere akan meninggalkan sekolahnya tercinta. Hari ini Rere makan siang di luar bareng Valdo dan Lyla.
“Nanti pada mau ngelanjutin kuliah dimana?” tanya Valdo
“Aku siih yang deket sini aja deh.” Kata Lyla
“Kalau kamu Re?” tanya Valdo lagi.
“Mungkin aku pindah keluar negeri.” Kata Rere.
“Hah? Pindah?” kata Lyla kaget.
“Kenapa pindah Re?” tanya Valdo.
“Kak Fera kerja di Singapore. Jadi aku akan ikut Kak Fera.” Kata Rere menjelaskan.
Ya Rere harus menerima kalau dia akan pindah ke luar negeri. Entah dari mana berita kepindahan Rere udah banyak yang tau. Waktu istirahat Rere memutuskan untuk ke perpustakaan. Waktu Rere sedang membaca buku, tiba – tiba ada yang bicara sama dia yang ternyata itu Kevin.
“Kenapa pindah Re?” tanya Kevin.
“Bukannya udah tau alasannya, emangnya kenapa?” kata Rere
“Ya karena.... karena...”
“Karena apa Vin?”
“Karna aku.. aku.. aku sayang sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu Re.”
Kata – kata Kevin mampu membuat Rere terdiam. “Aku ke kelas dulu Vin.” Kata Rere yang tak menanggapi perkataan Rere barusan.
---
Kevin Wijaya, teman sekelas Rere waktu kelas satu dan kelas tiga sekarang. Dulu Rere emang pernah suka sama Kevin. Tapi untuk Rere, Kevin itu hanya mimpi yang tak akan pernah tergapai. Entah sejak kapan Kevin memiliki perasaan itu sama Rere. Tapi semuanya sudah terlambat. Rere sudah memendam dan mengubur perasaannya dalam – dalam.
Soal Kevin sama Putri, Putri yang cari perhatian Kevin. Putri juga yang nembak Kevin. Kevin itu tipe cowok yang gak berani nyakitin cewek. Jadi Kevin menerima Putri sementara perasaannya untuk Rere. Tapi perasaan Kevin ke Rere itu udah terlambat, semuanya sudah berkahir.
---
Setelah mendengar perkataan Kevin di perpustakaan, Rere agak menjauh dari Kevin. Dan Kevin merasa kalau Rere menjauhi dia. Hari ini Rere, Lyla dan Valdo menonton film kesukaan mereka dirumah Lyla. Drrtt.. drrtt..
“Re, handphone kamu.” Kata Valdo memberi tau.
Ternyata itu pesan dari Kevin.
“Besok ada acara? Please mau jalan bareng aku. Sebelum kamu pindah.”
“Sorry, Aku banyak acara Vin.” Kata Rere berbohong.
“Yahh.. sayang banget. Kalau kapan – kapan?”
“Aku sibuk ngurusi kepindahan aku. Sorry.”
“Ya udah deh. Kapan berangkat?”
“Minggu depan mungkin.” Setelah itu, Kevin tak membalas pesan Rere lagi.
“Siapa Re?” tanya Valdo yang sedari tadi memperhatikan Rere.
“Bukan siapa – siapa.” Kata Rere berbohong.
---
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hingga hari ini Rere harus berangkat pergi ke luar negeri bersama kakaknya.
“Halo? Rere? Nanti jam 2 ya kakak tunggu di bandara. See you.”  Kata Kak Fera. Dan Kak Fera langsung memutus telephon tanpa mendengar adiknya bicara.
Rere sudah siap untuk pergi. Katanya Valdo dan Lyla juga akan ke bandara nanti. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Rere segera berangkat ke bandara. Tiba – tiba kakaknya menelphon jika pesawatnya telat. Rere masih akan berangkat jam 5 sore. Akhirnya Rere memutuskan untuk pergi ke toko buku terlebih dahulu.
Handphone Rere bergetar. Ada pesan masuk yang ternyata dari Kevin.
“Berangkat jam berapa?” tanya Kevin.
“Jam 5 sore.”
Ketika dia masuk toko buku, ternyata buku yang dicarinya sudah tidak ada. Buku yang dulu dia lihat waktu ke toko buku bersama Kevin. Buku novel You’re my everything. Akhirnya Rere membeli buku lain karena buku yang dia cari udah gak ada. Rere segera ke kasir untuk membayarnya. Dia berjalan sambil membaca bukunya. Dan tak sengaja dia menabrak orang.
“Aduh Sorry, saya gak lihat.” Kata Rere pada orang yang ditabrak. Sambil membantu merapikan buku orang tersebut.
“Rere?” kata orang itu.
Mendengar namanya disebut orang itu, Rere langsung melihat ke arah orang yang ditabraknya tadi. “Kevin? Ngapain disini?”
“Seharusnya aku yang tanya. Ngapain disini? Harusnya kamu kan siap – siap, atau nggak udah di bandara.”
“Tadinya jadwal penerbanganku jam 2, waktu diperjalanan aku di kasi tau kalau pesawatnya telat sampai jam 5 sore. Ya aku nyari buku dulu.” Kata Rere menjelaskan.
Setelah merapikan buku masing – masing dan sedikit mengobrol, mereka membawa buku mereka ke kasir untuk dibayar. Setelah itu Kevin menawari Rere untuk makan siang.
“Makan yukk!” ajak Kevin.
“Tapi aku harus ke bandara.”
“Kan berangkat jam 5. Sekarang aja masih jam 2. Mau ya?”
“Ya udah deh.”
Lalu mereka pergi ke tempat makan yang dekat dengan toko buku. Setelah makanan mereka datang, mereka berdua makan dan mengobrol.
“Balik ke Indonesia atau nggak?” tanya Kevin.
“Gak tau.”
“Aku harap kamu kembali nanti.”
“Semoga aja bisa balik.”
“Aku punya sesuatu buat kamu Re.” Kata Kevin sambil mengeluarkan bingkisan dari dalam tas Kevin.
“Apa ini?”
“Buka aja.”
Lalu Rere membukanya. Dan isinya ternyata novel yang Rere cari “You’re my everything” dan ada foto Rere sama Kevin waktu kelas 1 mereka liburan ke pantai.
“Masih nyimpen foto ini?”
“Masih dong.”
“Terus ngapain dikasi ke aku.”
“Kalau di Singapore kangen aku, kan tinggal liat foto itu.”
“PeDe banget kalau aku bakal kangen sama kamu?”
“Emang nggak?”
“Enggak! Sama sekali. Hehehe... berarti, kamu gak punya foto ini lagi dong?”
“Tenang. Udah aku copy kok.”
“Hm.... dari mana kamu dapet buku ini? Tadi aku cari udah gak ada di toko buku.”
“Hm.. kasi tau gak ya?”
“Iiihh kok gitu?”
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Gak usah sok misterius deh Mr. Kevin.”
“Iyah.. Iyah.. dulu waktu kamu pegang buku itu, aku diam – diam beli buku itu. Keliatannya kamu suka buku itu. Emang sengaja mau aku kasi ke kamu siih setelah ujian.”
“Hm.. makasiih deh.”
“Sama – sama Re.”
Setelah selesai makan, Kevin nganterin Rere ke bandara.
“Masih jam 15.30. masih satu setengah jam lagi berangkat.” Kata Rere.
“Tenang aja. Aku temenin kok sampe kamu berangkat.”
“Gakpapa?”
“Gapapalah. Nyantai aja.”
“Makasih.”
“Sama – sama.”
“Lyla sama Valdo mana ya? Katanya mau dateng.”
“Tunggu dulu aja. Kamu berangkat juga masih lama kan?”
Rere dan Kevin menghabiskan waktu dengan mengobrol. Tak terasa udah hampir jam 5.
“Aku seneng hari ini kamu ketawa bareng aku lagi Re. Meskipun hari ini hari terakhir. Aku sih berharap kamu gak nolak aku Re.”
“Tapi Putri?”
“Putri bukan siapa – siapa lagi. Dulu aku nerima dia karena kasihan kan?”
“Tapi bentar lagi aku pergi jauh.”
“Aku gak peduli Re.”
“Valdo gimana?”
“Jelasin aja sama dia.”
Rere hanya diam. Tiba – tiba Lyla dan Valdo datang. Lyla dan Valdo dengar semua percakapan Rere dan Kevin tadi.
“Valdo? Lyla? Kapan dateng?” tanya Rere.
“Dari tadi.” Kata Lyla.
“Terima aja kalau kamu emang masih suka sama Kevin.” Kata Valdo.
“Kalian dengar?” tanya Rere.
“Iya semuanya.” Kata Valdo.
“Tapi Valdo?” kata Rere masih ragu.
“Aku gakpapa kok kalau kamu emang masih suka sama Kevin.”
Rere diam. Semuanya terdiam, sejenak semuanya terasa hening untuk mereka berempat.
“Maaf Vin. Semuanya udah terlambat sekarang.” Kata Rere memecah keheningan.
“Tapi kenapa Re?”
“Aku gak yakin dengan semua ini. Please hargai keputusan aku.”
“Oke.”
“Kita masih berteman baik kan Vin?”
“Tentu.”
Lalu terdengar panggilan bahwa pesawat Rere akan segera berangkat. Mereka berempat berpelukan dan berjabat tangan.
“Kita pasti kangen kamu Re.” Kata Lyla.
“Jangan lupain kita ya Re.” Kata Valdo.
“Take care Rere.” Kata Kevin.
“Makasih buat semuanya. Makasih udah mau jadi temenku.” Kata Rere hampir menangis.
Setelah berjabat tangan dengan Valdo dan Kevin, tiba – tiba Rere mencium pipi kedua cowok itu. hal itu mampu membuat wajah mereka merah, termasuk Lyla. “Take care ya? See you.” kata Rere dan setelah itu Rere melambaikan tangan dan pergi. Rere menunjukkan tiketnya dan masuk ke pintu menuju lapangan terbang. Kakaknya sudah menunggu sejak tadi.
Valdo, Kevin dan Rere baru pulang setelah pesawat Rere pergi.
~ THE END ~