Rabu, 06 November 2013

Cerepen "Susah & Senang Bersama"



Susah dan Senang Bersama
Karya : Ismi Roichatul Jannah           
Juli 2011
            Hari ini hari pertama chaca masuk sekolah menengah. Untuk tiga hari kedepan hanya masa orientasi. Ternyata sekarang chaca satu kelas dengan temannya dulu ditaman kanak – kanak, yaitu sepri. Sedangkan teman – teman nya dari sekolah dasar (Ozi,Malik,Okta dan Yanu), tak ada yang satu kelas dengan nya. Setelah selesai Masa Orientasi, kelas di pecah lagi.
Saat chaca masuk kelasnya yang baru, bangku yang kosong hanya tersisa satu. Akhirnya chaca langsung duduk di bangku itu. Chaca tak mengenal siapapun di kelasnya yang baru, hanya mitha dan cika yg kemarin satu kelas dengannya waktu MOS. Chaca langsung berkenalan dengan teman sebangkunya.
            “Hai, namamu siapa?” sapa Chaca memulai perkenalan. “Aku Alvia.” Jawab temannya. “Oohh. Kenalin, namaku chaca.” Timpal Chaca memperkenalkan diri. Sepertinya teman sebangkunya itu anak yang pendiam.
            Lama kelamaan, Chaca akrab dengan teman satu kelas nya. Kepandaiannya membuat Chaca di dekati oleh teman – teman nya. Tapi chaca tidak akrab dengan mereka semua. Karena chaca takut dimanfaatkan. Chaca mempunya dua sahabat dekat yaitu Ela, dan Bulan. Mereka bertiga sering dikenal dengan nama ELLANCHA (Ela, Bulan, Chaca). Selain Bulan dan Ela, chaca juga dekat dengan Febri dan Luri. Kalau sedang berlima, mereka menyebut diri mereka dengan geng smart girl. Selain teman perempuan, chaca juga punya 3 sahabat laki – laki yaitu umar, ahmad, dan sofi.
            Kelas tujuh ini membuat chaca sering naik darah gara – gara kelakuan temannya. Namun karena sahabat – sahabat nyalah chaca bisa menghadapinya. Mungkin chaca tak bisa melakukan apa – apa saat teman – teman  nya memaksa untuk menyontek. Karna waktu itu chaca masih seorang anak yang pendiam dan pemalu. Dan lagian, dia bukan siapa – siapa di kelasnya. Terkadang chaca merasa capek dengan semua kelaskuan teman – temannta padanya ‘seenaknya’.
Tak terasa setahun sudah berlalu Chaca berada dikelas tujuh. Diakhir semester chaca menjadi juara kelas walaupun awalnya dia agak pesimis untuk mendapat juara kelas. Akhirnya chaca bisa terbebas dari terbebas dari teman – temannya yang gak tau terimakasih.
Juli 2012
            Hari ini adalah hari pembagian kelas untuk kelas delapan. Ternyata chaca masuk kelas 8D bersama Ela, Sepri, Ozi, Ahmad, Muiz (temannya waktu kelas tujuh) dan teman – teman lain yang chaca kenal meskipun tak satu kelas. Ternyata kelas 8D ini adalah kelas unggulan, yahh.. bisa dibilang anak – anak yang pintar.
Chaca sangat menyukai kelasnya kali ini. Di kelas ini chaca bisa tertawa, merasakan hangatnya keluarga, dan merasakan tulusnya persahabatan meskipun ada persaingan diantara mereka untuk merebut juara kelas. 8D atau sering disebut WDPC sudah seperti keluarga. Anak – anak di dalamnya sangat menyenangkan. Apalagi disaat kelas chaca harus mandiri karena wali kelas mereka sakit.
Chaca mempunyai banyak sahabat baru di kelas 8 ini, ada Eka, Warda, Ruffa, Yuli, Grace, Nanda, Aisya dan masih banyak lagi. Buat Chaca, teman satu kelasnya adalah sahabatnya semua. Tapi tak semuanya dekat dengan Chaca. Hanya beberapa lebih tepatnya.
Tak terasa sudah 6 bulan berada di kelas 8 saatnya ujian semester 1. Setelah ujian semester, sekolah mengadakan lomba melukis dinding. Disinilah perjuangan Chaca dan kawan – kawan. Dengan tidak adanya wali kelas, kelas mereka di tuntut untuk mandiri. Seperti kali ini, mereka harus mengeluarkan biaya sendiri. Untuk melukis dinding saja menghabiskan dana 200.000. dan mereka rela pulang sore dan hujan – hujanan hanya untuk menyelesaikan lukisan dinding mereka.
Januari 2013
            Waktu upacara pertama di semester 2 ,diumumkan pemenang lomba lukis dinding adalah 8D. “Yeah.. hore.. hore..” sorak sorai teman sekelas chaca. Lalu pengumuman berikutnya adalah siswa dengan ranking 1 yang ada dikelas 8 yaitu chaca. Chaca sangat bangga dengan prestasinya ini. Semua teman chaca memberinya selamat. Mulai hari itu, chaca lumayan dikenal oleh warga sekolah termasuk adik kelasnya. Padahal dulunya chaca bukanlah anak yang terkenal. Karena chaca anak yang pendiam dan pemalu dan susah bergaul.
            Hari – hari pun berlalu. Beberapa bulan lagi adalah akhir tahun ajaran. Semakin mendekati kenaikan kelas, makin banyak masalah yang datang dikelas chaca yang membuat chaca sedih dan pusing. Chaca sedih karena seharusnya mereka akur karena sebentar lagi akan pisah kelas. Tapi semakin ke sini malah semakin banyak masalah.
Juni 2013
Karena akan ada pensi untuk wisuda anak kelas 9, 8D ingin menampilkan sebuah pertunjukan. Inilah puncak pertengkaran di 8D. Karena banyak yang berbeda pendapat, kerja’an setiap hari di kelas chaca adalah marah – marah dan bertengkar. Padahal sebentar lagi merek tak akan satu kelas karena gak ada lagi kelas unggulan.
Eka mau 8D menampilkan perkusi. Selama 1 minggu latihan, masih ada saja yang berbeda pendapat. Masih ada yang marah – marah dan egois. Karena laki – lakinya tak ada yang serius, akhirnya rencana semula untuk menampilkan perkusi di batalkan. Grace dan Yuli mengusulkan 8D untuk menampilkan tari tradisional. Akhirnya Yuli dan Grace melatih Eka, Warda, Liana, Yuni, Aisya untuk tampil di pensi.
Chaca tak ikut ambil bagian dalam tari tradisional itu karena chaca gak yakin dengan kemampuan menarinya. Tapi chaca senang masalahnya sudah selesai.
Juli 2013
            Tiba saatnya anak – anak 8D pisah kelas. Chaca sangat sedih, sebenarnya chaca gak mau pisah sama sahabatnya. Tapi mau bagaimana lagi. Ini keputusan sekolah. Hal yang tak mungkin chaca lupakan di 8D adalah chaca mempunyai semuanya, sahabat yang sangat baik. Dan di 8D ini sudah banyak merubah kepribadian Chaca yang dulunya pendiam jadi anak yang rame, lucu, dan sedikit agak nakal *maklum, :p*. Banyak kenangan di 8D yang gak akan Chaca lupakan. Kegilaan – kegilaan di 8D dan melewati masa – masa susah dan senang dengan kebersamaan.
~ THE END ~

Sabtu, 02 November 2013

Cerpen "Pertengkaran Pertama"



Pertengkaran Petama
Jum’at, 25 Agustus 2013.
Seperti biasa hari ini aku pergi sekolah. Aku adalah siswi di salah satu sekolah menengan pertama di kota Pasuruan. Sekarang aku udah berada di kelas 9. Tepatnya 9A. Seperti biasa di kelas, banyak saja kegilaan – kegilaan yang selalu bisa ngebuat semua siswa di dalamnya tertawa terpingkal – pingkal, termasuk aku.
Waktu istirahat.. Aku, Rifa, Ferdi, membicarakan tentang sebuah festival yang di adakan pada hari Minggu. Kita berencana untuk pergi bersama ke festival tersebut. Kebetulan festival itu dekat dengan rumah Ferdi. Akhirnya Kita bertiga berencana untuk pergi bersama. Aku sebenarnya mau mengajak Eka, tapi ternyata Eka ada try out di tempat lesnya.
Sepulang sekolah, Aku dan Rifa berkomunikasi lewat handphone untuk membahas masalah festival yang tadi pagi mereka bicarakan di sekolah. Aku menyuru Rifa untuk ke rumahku dulu sebelum festival. Rifa baru memberi tau ku kalau Rifa mengajak Malik untuk ikut melihat festival itu juga. Dan Rifa meminta Malik untuk menjemputnya dan mengantarnya ke rumahku. Malik adalah sahabat ku, Rifa mengenal Malik karena aku yang mengenalkannya.
Setelah tau kalau Malik yang akan menjemput Rifa, Aku langsung mengirim pesan kepada Malik. “Lo mau ikut hari minggu ke festival? N katanya lo mau nganterin Rifa ke rumah?” isi pesan ku. Malik langsung membalas pesan dariku itu, dan dia mengiyakan pertanyaanku tadi.
Aku ngerasa ada yang aneh. Gak biasanya Malik mau jemput temen cewek. Dan aku inget cerita Malik sama mantannya Lyla. Dulu Malik suka sama Lyla karena Lyla anaknya asik dan kalau di sekolah selalu ramah. Dan... sifat Rifa sama Malik juga sama. “gak menutup kemungkinan Malik suka sama Rifa”. Gumamku dalam hati.
Akhirnya aku langsung menanyakannya sama Malik. Apa dia suka sama Rifa?? Tapi Malik gak mau jawab pertanyaanku. Berkali – kali aku tanya sama Malik, Malik gak pernah jawab. Malik tanya lokasi rumah Rifa sama aku. Aku bilang mau ngasi tau rumah Rifa asalkan Malik mau ngasi tau tentang perasaannya pada Rifa. Tapi Malik gak mau ngasi tau.
Akhirnya aku marah sama Malik. Aku bilang sama dia kalau aku nyuru dia lihat festival sendiri sama Rifa, biar aku lihat sama Ferdi. Dia malah bilang dia gak mau ikut kalau aku gak ikut. Ya udah aku biarin.
Mungkin memang bukan masalah besar dan ini bukan urusanku. Tapi ini berkaitan sama kepercayaan. Malik gak mau ngasi tau aku, berarti Malik gak percaya sama aku sebagai sahabatnya. Akhirnya semalaman aku cuekin dia. Semua pesan Malik aku balas dengan sinis dan singkat, ada juga yang gak aku balas. Biarin aja aku tinggal dia tidur.
---
Sabtu, 26 Agustus 2013.
Pagi ini di sekolah free karena ada pengambilan raport tengah semester atau raport sisipan dan rapat wali murid kelas 9. Jadi hari ini bebas bawa hp. Sebenernya aku masih kepikiran masalahku tadi malam sama Malik. Aku gak bilang sama Rifa kalau aku berantem sama Malik gara – gara dia, karena lebih baik gak ada yang tau. Tapi yaudahlah. Aku hari ini akan sibuk. Jadi gak perlu mikirin itu.
Pagi – pagi aku harus membuatkan pidato yang akan dibacakan ketua kelas di depan wali murid kelas 9A untuk penarikan uang pembuatan baju. Sekitar jam 8, aku ke depan ruang multimedia untuk menunggu ibu ku. Dan.. di sana aku, Chandra, Rifa, Sepri dan Ferdi di suru menjaga absen wali murid dan juga membagikan aqua ke wali murid kelas 9 yang sedang rapat. Setelah selesai membagikan aqua, aku kembali menjaga absen wali murid dan memasang muka seramah mungkin.
Dan waktu aku sama temen – teman duduk menjaga absen, aku lihat Malik sama Ozy. Itu pertama aku lihat Malik hari ini di sekolah. Malik terus – terusan ngelihat aku. Tapi aku cuekin dia. Jujur aku masih sebel sama dia. Setelah rapat selesai, aku di suru wali kelas ku untuk ke kelas mengurusi semua keperluan wali murid.
Waktu wali murid ada di dalam kelas untuk mengambil raport, aku dan teman – teman menunggu di depan kelas. Aku gak tau kalau Rifa ternyata sms’an sama Malik. Tiba – tiba aja Rifa menunjukkan sms Malik sama aku dan nanya kenapa aku marah sama Malik. Aku bilang sama Rifa kalau aku gak marah sama Malik. Tentu saja aku bohong. Dan Rifa menyuruku untuk membalas sms Malik tadi. Aku membalasnya masih sama kata – kata yang agak kasar. Aku menyuruhnya untuk tak bilang masalahku dengannya sama Rifa. Lebih baik Rifa gak tau apa – apa.
Aku langsung nge-delete pesan yang aku kirimkan pada Malik lewat handphonnya Rifa. Lalu aku langsung mengirimkan pesan ke Malik lewat handphoneku sendiri. Aku menyurunya untuk tak bilang apa – apa sama Rifa. Malik nurut juga, dia tidak bilang apa yang aku bicarakan dengannya lewat handphonenya Rifa. Rifa memaksa mau tau dan terus tanya sama Malik. Tapi Malik gak ngasi tau. Dan kalau Rifa tanya pada ku, aku selalu menjawab “bukan pesan apa – apa”.
Akhirnya Rifa tak membahas itu lagi. Aku dan Rifa langsung pergi ke kelas 9D untuk mengerjai teman ku yang hari ini ultah. “pyarr” telurnya langsung kena kepala temanku. Berhasil dech ngerjain temenku. Lalu Rifa pulang sama Om nya. Aku masih nunggu ibu ku karena ibu ku masih ada keperluan dengan wali kelas ku dan sama ibu Eka juga.
Sambil nunggu ibu ku, aku masih sms’an sama Malik. Malik terus merayuku dengan nada memelas agar mau memaafkannya. Aku emang udah bilang aku udah maafin dia. Tapi aku masih tetep cuek sama dia. Akhirnya, malamnya aku sama Malik udah baikan dan ngebahas masalah besok hari Minggu mau lihat festival. Dan blablabla.. intinya dia jadi mau ikut.
---
Minggu, 27 Oktober 2013.
Aku udah memasang alarm jam 12 malam buat ngucapin ultah pada salah satu sahabatku. Lalu aku langsung tidur lagi karena besok aku mau main lihat festival sama teman – teman. Pagi – pagi aku langsung bangun dan menyelesaikan pekerjaan rumah biar aku gak telat. Aku sama temen – temen udah janjian jam 8 di rumah Ferdi.
Jam 8 Rifa datang ke rumah, aku dan Rifa langsung cepat – cepat pergi ke rumah Ferdi karena Ferdi dan Sepri udah nungguin. Acara festivalnya udh mau di mulai. Aku dan Rifa udah ada di rumah Ferdi. Tapi aku masih nungguin Malik sama Firman. Karena lama, Malik menyuruhku untuk berangkat duluan. Dan janjian ketemu di tempat festival.
Aku, Rifa, Sepri dan Ferdi langsung pergi ke tempat festival rakitan anak smanike. Malik dan Firman menyusul. Tapi kami gak satu tempat. Aku, Rifa, Sepri, Ferdi, Iwan, dan Febri di sisi kanan sungai. Sedangkan Malik dan Firman ada di sisi kiri sungai. Aku, Rifa, Ferdi, Febri, Sepri, dan Iwan masih main di rumah Ferdi bentar. Sekitar setengah jam lalu kami semua pulang. Sedagkan Malik dan Firman langsung pulang gitu aja.
Malmnya.. seperti biasa. Tiada hari tanpa sms’an sama Malik. Aku mengiriminya sebuah biodata. Dan Malik mengisinya. Terdapat sebuah pesan di biodata tersebut. “Jangan pernah marah lagi sama aku” Isi pesan itu. Lalu aku sama Malik ngebahas masalah pertengkaan kami itu. Dan Malik bilang kalau pertengkaran itu harus dikenang. Karena pertengkaran itu adalah pertengkaran ku yang pertama dengan Malik selama aku sudah bersahabat dengannya. Aku berharap gak akan ada lagi pertengkaran, anggap saja pertengkaranku yang kali ini adalah ujian untuk persahabatanku dengan Malik.
~ THE END ~

Pertengkaran Petama
Jum’at, 25 Agustus 2013.
Seperti biasa hari ini aku pergi sekolah. Aku adalah siswi di salah satu sekolah menengan pertama di kota Pasuruan. Sekarang aku udah berada di kelas 9. Tepatnya 9A. Seperti biasa di kelas, banyak saja kegilaan – kegilaan yang selalu bisa ngebuat semua siswa di dalamnya tertawa terpingkal – pingkal, termasuk aku.
Waktu istirahat.. Aku, Rifa, Ferdi, membicarakan tentang sebuah festival yang di adakan pada hari Minggu. Kita berencana untuk pergi bersama ke festival tersebut. Kebetulan festival itu dekat dengan rumah Ferdi. Akhirnya Kita bertiga berencana untuk pergi bersama. Aku sebenarnya mau mengajak Eka, tapi ternyata Eka ada try out di tempat lesnya.
Sepulang sekolah, Aku dan Rifa berkomunikasi lewat handphone untuk membahas masalah festival yang tadi pagi mereka bicarakan di sekolah. Aku menyuru Rifa untuk ke rumahku dulu sebelum festival. Rifa baru memberi tau ku kalau Rifa mengajak Malik untuk ikut melihat festival itu juga. Dan Rifa meminta Malik untuk menjemputnya dan mengantarnya ke rumahku. Malik adalah sahabat ku, Rifa mengenal Malik karena aku yang mengenalkannya.
Setelah tau kalau Malik yang akan menjemput Rifa, Aku langsung mengirim pesan kepada Malik. “Lo mau ikut hari minggu ke festival? N katanya lo mau nganterin Rifa ke rumah?” isi pesan ku. Malik langsung membalas pesan dariku itu, dan dia mengiyakan pertanyaanku tadi.
Aku ngerasa ada yang aneh. Gak biasanya Malik mau jemput temen cewek. Dan aku inget cerita Malik sama mantannya Lyla. Dulu Malik suka sama Lyla karena Lyla anaknya asik dan kalau di sekolah selalu ramah. Dan... sifat Rifa sama Malik juga sama. “gak menutup kemungkinan Malik suka sama Rifa”. Gumamku dalam hati.
Akhirnya aku langsung menanyakannya sama Malik. Apa dia suka sama Rifa?? Tapi Malik gak mau jawab pertanyaanku. Berkali – kali aku tanya sama Malik, Malik gak pernah jawab. Malik tanya lokasi rumah Rifa sama aku. Aku bilang mau ngasi tau rumah Rifa asalkan Malik mau ngasi tau tentang perasaannya pada Rifa. Tapi Malik gak mau ngasi tau.
Akhirnya aku marah sama Malik. Aku bilang sama dia kalau aku nyuru dia lihat festival sendiri sama Rifa, biar aku lihat sama Ferdi. Dia malah bilang dia gak mau ikut kalau aku gak ikut. Ya udah aku biarin.
Mungkin memang bukan masalah besar dan ini bukan urusanku. Tapi ini berkaitan sama kepercayaan. Malik gak mau ngasi tau aku, berarti Malik gak percaya sama aku sebagai sahabatnya. Akhirnya semalaman aku cuekin dia. Semua pesan Malik aku balas dengan sinis dan singkat, ada juga yang gak aku balas. Biarin aja aku tinggal dia tidur.
---
Sabtu, 26 Agustus 2013.
Pagi ini di sekolah free karena ada pengambilan raport tengah semester atau raport sisipan dan rapat wali murid kelas 9. Jadi hari ini bebas bawa hp. Sebenernya aku masih kepikiran masalahku tadi malam sama Malik. Aku gak bilang sama Rifa kalau aku berantem sama Malik gara – gara dia, karena lebih baik gak ada yang tau. Tapi yaudahlah. Aku hari ini akan sibuk. Jadi gak perlu mikirin itu.
Pagi – pagi aku harus membuatkan pidato yang akan dibacakan ketua kelas di depan wali murid kelas 9A untuk penarikan uang pembuatan baju. Sekitar jam 8, aku ke depan ruang multimedia untuk menunggu ibu ku. Dan.. di sana aku, Chandra, Rifa, Sepri dan Ferdi di suru menjaga absen wali murid dan juga membagikan aqua ke wali murid kelas 9 yang sedang rapat. Setelah selesai membagikan aqua, aku kembali menjaga absen wali murid dan memasang muka seramah mungkin.
Dan waktu aku sama temen – teman duduk menjaga absen, aku lihat Malik sama Ozy. Itu pertama aku lihat Malik hari ini di sekolah. Malik terus – terusan ngelihat aku. Tapi aku cuekin dia. Jujur aku masih sebel sama dia. Setelah rapat selesai, aku di suru wali kelas ku untuk ke kelas mengurusi semua keperluan wali murid.
Waktu wali murid ada di dalam kelas untuk mengambil raport, aku dan teman – teman menunggu di depan kelas. Aku gak tau kalau Rifa ternyata sms’an sama Malik. Tiba – tiba aja Rifa menunjukkan sms Malik sama aku dan nanya kenapa aku marah sama Malik. Aku bilang sama Rifa kalau aku gak marah sama Malik. Tentu saja aku bohong. Dan Rifa menyuruku untuk membalas sms Malik tadi. Aku membalasnya masih sama kata – kata yang agak kasar. Aku menyuruhnya untuk tak bilang masalahku dengannya sama Rifa. Lebih baik Rifa gak tau apa – apa.
Aku langsung nge-delete pesan yang aku kirimkan pada Malik lewat handphonnya Rifa. Lalu aku langsung mengirimkan pesan ke Malik lewat handphoneku sendiri. Aku menyurunya untuk tak bilang apa – apa sama Rifa. Malik nurut juga, dia tidak bilang apa yang aku bicarakan dengannya lewat handphonenya Rifa. Rifa memaksa mau tau dan terus tanya sama Malik. Tapi Malik gak ngasi tau. Dan kalau Rifa tanya pada ku, aku selalu menjawab “bukan pesan apa – apa”.
Akhirnya Rifa tak membahas itu lagi. Aku dan Rifa langsung pergi ke kelas 9D untuk mengerjai teman ku yang hari ini ultah. “pyarr” telurnya langsung kena kepala temanku. Berhasil dech ngerjain temenku. Lalu Rifa pulang sama Om nya. Aku masih nunggu ibu ku karena ibu ku masih ada keperluan dengan wali kelas ku dan sama ibu Eka juga.
Sambil nunggu ibu ku, aku masih sms’an sama Malik. Malik terus merayuku dengan nada memelas agar mau memaafkannya. Aku emang udah bilang aku udah maafin dia. Tapi aku masih tetep cuek sama dia. Akhirnya, malamnya aku sama Malik udah baikan dan ngebahas masalah besok hari Minggu mau lihat festival. Dan blablabla.. intinya dia jadi mau ikut.
---
Minggu, 27 Oktober 2013.
Aku udah memasang alarm jam 12 malam buat ngucapin ultah pada salah satu sahabatku. Lalu aku langsung tidur lagi karena besok aku mau main lihat festival sama teman – teman. Pagi – pagi aku langsung bangun dan menyelesaikan pekerjaan rumah biar aku gak telat. Aku sama temen – temen udah janjian jam 8 di rumah Ferdi.
Jam 8 Rifa datang ke rumah, aku dan Rifa langsung cepat – cepat pergi ke rumah Ferdi karena Ferdi dan Sepri udah nungguin. Acara festivalnya udh mau di mulai. Aku dan Rifa udah ada di rumah Ferdi. Tapi aku masih nungguin Malik sama Firman. Karena lama, Malik menyuruhku untuk berangkat duluan. Dan janjian ketemu di tempat festival.
Aku, Rifa, Sepri dan Ferdi langsung pergi ke tempat festival rakitan anak smanike. Malik dan Firman menyusul. Tapi kami gak satu tempat. Aku, Rifa, Sepri, Ferdi, Iwan, dan Febri di sisi kanan sungai. Sedangkan Malik dan Firman ada di sisi kiri sungai. Aku, Rifa, Ferdi, Febri, Sepri, dan Iwan masih main di rumah Ferdi bentar. Sekitar setengah jam lalu kami semua pulang. Sedagkan Malik dan Firman langsung pulang gitu aja.
Malmnya.. seperti biasa. Tiada hari tanpa sms’an sama Malik. Aku mengiriminya sebuah biodata. Dan Malik mengisinya. Terdapat sebuah pesan di biodata tersebut. “Jangan pernah marah lagi sama aku” Isi pesan itu. Lalu aku sama Malik ngebahas masalah pertengkaan kami itu. Dan Malik bilang kalau pertengkaran itu harus dikenang. Karena pertengkaran itu adalah pertengkaran ku yang pertama dengan Malik selama aku sudah bersahabat dengannya. Aku berharap gak akan ada lagi pertengkaran, anggap saja pertengkaranku yang kali ini adalah ujian untuk persahabatanku dengan Malik.
~ THE END ~

Jumat, 25 Oktober 2013

Cerpen "Kau tetaplah sahabatku"



Kau Tetaplah Sahabatku
“Selamat tinggal, masa lalu.. aku kan melangkah, maafkanlah segala yang.. telah ku lakukan padamu” terdengar suara lagu five minutes dari handphone seorang cewek. Dialah Sabrina. Cewek yang baru saja naik kelas 3 SMP dengan hasil yang cukup memuaskan. Sabrina mempunyai sahabat cowok yang dekat dengannya. Namanya Daniel. Daniel sudah hampir 8 tahun mengenal Sabrina, dan sudah 2 tahun menjadi sahabatnya. Mereka sudah seperti saudara. Sabrina memanggil Daniel dengan sebutan ‘kakak’ dan Daniel memanggil Sabrina dengan sebutan ‘adek’.
Cewek yang selalu terlihat ceria tanpa masalah itu, rupanya sedang ada masalah alias galau. Tidak biasanya Sabrina seperti ini. Dia merasa ada yang beda dengan kehidupannya sekarang. Dia jadi sering kepikiran sesuatu, meskipun dia menyembunyikannya dari teman – temannya. Dia terpikirkan lagi kejadian itu.
Kejadiannya belum terlalu lama. Mungkin sekitar 1,5 bulan yang lalu.
Malam itu tanggal 23 Agustus 2013. Sabrina mengirim pesan kepada Daniel, yah.. mungkin semacam kata-kata untuk mengetest seseorang lah. Tetapi malam itu Daniel tak merespon pesan dari Sabrina. Akhirnya Sabrina memutuskan untuk tidur.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali tepatnya jam 05.00 pagi Daniel baru merespon pesan yang semalam dikirim Sabrina. Daniel malah marah dan ngambek. Sabrina baru membalas pesan dari Daniel satu jam kemudian. Tapi Daniel tidak membalas lagi pesan dari Sabrina.
Hari ini Sabrina mengikuti kegiatan jalan sehat di sekolahnya. Tapi rasanya hari ini Sabrina sedang tidak bersemangat gara – gara kejadian pertengkarannya tadi pagi dengan Daniel. Tapi dia berusaha menyembunyikan semua itu dari teman – temannya. Pagi itu yahh.. seperti biasa dibuka dengan ceramah dari bu kepsek. Dan saat berkumpul di lapangan, Sabrina bertemu dengan Daniel. Tapi.. yahh.. seperti biasa. *cuek*.
Rasanya Sabrina gak bisa fokus belajar karena memikirkan kejadian itu. Akhirnya pulang sekolah, Sabrina putuskan untuk minta maaf pada Daniel dengan mengirim pesan. Berkali – kali Sabrina mengirim pesan itu kepada Daniel. Tapi Daniel tak membalasnya. Pikiran Sabrina semakin kacau. Hingga kurang lebih 1 minggu dia menunggu balasan pesan  dari Daniel. Tapi Daniel tidak membalas satupun pesan dari Sabrina. Bahkan nomer ponsel Daniel tidak aktif.
Sampai akhirnya Sabrina berpikiran bahwa Daniel tak mau lagi jadi sahabatnya dan Sabrina memutuskan untuk melupakan semuanya. Karena dia harus bisa fokus pada pelajaran di sekolahnya. Karna Sabrina sudah kelas 3 SMP.
Sebenarnya Sabrina tidak akan pernah bisa melupakan semua kenangan persahabatannya dengan Daniel. Akhirnya beberapa minggu kemudian, Sabrina kembali seperti biasanya setelah dia belajar untuk tidak memikirkan semua kejadian yang terjadi pada persahabatannya. Dia kembali menjadi Sabrina yang rajin, cerdas dan ceria tanpa memikirkan apa yang sudah terjadi. Tapi bukan berarti Sabrina melupakan Daniel.
Sabrina tidak pernah berniat melupakan Daniel. Bahkan terkadang Sabrina mencari – cari informasi tentang Daniel lewat sahabatnya, Excel. Excel bilang kalau handphone Daniel hilang waktu dibawa ke sekolah. Yahh.. dengan itu Sabrina tau kenapa Daniel tak membalas pesannya. Sabrina merasa malu karena telah menuduh Daniel tanpa mengetahui alasannya. Akhirnya Sabrina berusaha berkomunikasi lagi dengan Daniel lewat facebook. Tapi Daniel juga tak membalas chatt Sabrina.
Sabrina agak kesal dengan itu tapi Sabrina tetap menganggap Daniel adalah sahabatnya. Sabrina tak akan mungkin pernah melupakan sahabat yang paling dia sayang. Bagi Sabrina, Daniel adalah sahabat sekaligus kakak untuknya. Sampai akhirnya sudah 1 bulan lebih kehidupannya berjalan tanpa Daniel. Sabrina sudah terbiasa menjalani hari – harinya yang sekarang.
Udah gak terasa waktu itu tanggal 13 Oktober 2013. 2 minggu lagi adalah ultah Daniel. Dan hari itu, Sabrina memutuskan untuk mencari nomer ponsel Daniel yang baru hanya sekedar untuk mengucapkan ultah kepada Daniel. Setelah itu Sabrina berjanji untuk tidak menyimpan nomer ponsel Daniel. Akhirnya setelah berdebat dengan Excel, Excel mau memberi nomer ponsel Daniel pada Sabrina. Tentu saja Excel tak akan tega melihat sahabatnya itu galau dan selalu merengek – rengek meminta nomer ponsel Daniel.
Hari itu tanggal 15 Oktober 2013. Sekolah libur karena hari itu adalah hari raya idul adha. Pagi ini Sabrina memutuskan untuk main ke sekolah dan menemani temannya. Waktu di sekolah Sabrina memutuskan untuk mengirim pesan kepada Daniel. Hanya satu kali dan tak akan membalasnya lagi. Karna sebenarnya tujuannya mencari nomor ponsel Daniel hanya untuk mengucapkan ultah.
From : 085706xxxxxx
To : Daniel

Tuhan.. cabut nyawaku sehari saja. Agar aku bisa tau siapa saja yang menangis saat aku udah gak ada
Ya. Seperti yang telah Sabrina duga. Daniel tak membalas pesan dari Sabrina. Sabrina tak mempermasalahkan hal itu. Sabrina tetap ceria menghabiskan waktu liburannya meskipun hanya di sekolahnya. Tapi tak disangka, siang hari sekitar jam 10.00 pagi saat Sabrina asyik dengan laptopnya... Daniel membalas pesan Sabrina dan bertanya siapa yang  mengirimnya pesan itu. Karena yah.. Daniel gak punya nomer ponsel Sabrina. Tapi Sabrina tak membalas lagi pesan dari Daniel itu.
Sore harinya Daniel mengirim Sabrina pesan yang sama dengan yang tadi pagi dia kirimkan. Daniel memaksa ingin tau siapa yang mengirimi nya pesan. Akhirnya Sabrina memutuskan untuk mengaku pada Daniel. Dan tidak disadari Sabrina mengingkari janjinya. Dia berkomunikasi lama dengan Daniel. Tapi apa yang dilakukan Sabrina tak salah. Daniel yang meminta persahabatan mereka untuk kembali seperti dulu. Mana mungkin Sabrina menolak sedangkan Daniel adalah sahabat sekaligus kakak yang berharga baginya. Daniel dan Sabrina berusaha mengembalikan hubungan persahabatan mereka seperti dulu. Mereka masih saling terbuka. Kecuali....... Daniel tak memanggil Sabrina dengan sebutan adek lagi.
Mungkin persahabatan mereka sudah kembali. Tapi keadaanya sudah tak seperti dulu lagi. Semuanya terasa kaku, mereka seperti harus mengulangnya dari awal. Dan yaahh.. Sabrina merasakan sifat cuek Daniel padanya. Sabrina paling tidak suka dicuekin. Tapi Sabrina tak pernah berani bicara pada Daniel. Dia tidak mau kehilangan sahabatnya itu, dia terlalu sayang pada Daniel. Dan yang bisa Sabrina lakukan sekarang adalah menjalani semua seperti biasanya. Paling tidak persahabatannya sudah kembali.
Sabrina hanya berharap sikap Daniel padanya bisa seperti dulu. Daniel yang selalu perhatian dan memanggilnya dengan kata ‘adek’ !! Sabrina akan selalu ada untuk Daniel. Karena Daniel tetaplah sahabat yang paling dia sayang.
~THE END~
Aku harap, sifat sahabat yang ku sayang kembali seperti dulu. Penuh perhatian dan selalu bisa menghibur.
For you my best friend.