Rabu, 16 April 2014

Cerpen "Tak kan Pernah Tergapai"

Tak kan Pernah Tergapai
Karya : Ismi Roichatul Jannah  
Berharap itu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi kalau itu hanya sekedar angan yang tak akan pernah nyata. Aku tau, bagaimanapun aku tak mungkin bisa menandingi Puspita. Dia adalah gadis yang baik, cantik, pintar, dan menyenangkan, meskipun agak egois. Semua orang yang mengenalnya pasti akan langsung menyukainya. Aku yang tak punya banyak teman tidak ada apa – apanya dibanding Puspita.
~~~
Hari baru dimulai di sekolah yang baru. Rere Novita Dewi yang biasa dipanggil Rere adalah seorang siswi yang baru saja masuk sekolah menengah atas. Dia adalah anak yang tidak mudah bergaul. Jadi di kelasnya yang baru, dia hanya mempunyai beberapa teman. Rifa Ananda, dan Lyla Anggraeni. Dia juga satu kelas dengan sepupunya sekaligus sahabatnya yaitu Anindya Dwi Puspita.
“Hai, Re..” sapa Puspita ketika Rere masuk kelas.
“Hay juga Puspita. Gak nyangka kita satu kelas.” Kata Rere ramah.
“Duduk sama aku aja Re.” Kata Puspita menawari.
“Ya udah. Makasih.” Kata Rere
Akhirnya Rere duduk bersama Puspita. Toh Puspita adalah sahabat sekaligus sepupuya. Rere sering sekali bercerita masalahnya kepada Puspita. Karena Puspita adalah orang yang Rere percaya selain Lyla.
Setiap hari Rere sering bermain bersama Rifa dan Lyla. Meskipun Puspita juga sahabatnya dan sepupunya, Rere jarang bermain dengan Puspita karena Puspita lebih sering bermain dengan teman – temannya. Waktu istirahat Rere, Rifa dan Lyla mengobrol di depan kelas setelah dari kantin.
“Re, Puspita kan sepupu kamu. Kok kamu jarang kelihatan main sama dia?” tanya Lyla membuka pembicaraan.
“Dia kan punya banyak teman selain aku..” Kata Rere menjelaskan.
“Tapi kamu kan sepupunya Re?” tanya Rifa.
“Terus kenapa kalau aku sepupu Puspita? Aku berbeda dengan Puspita. dia pandai bergaul dan punya banyak teman.” Kata Rere lagi.
“Terus apa masalahnya?” tanya Lyla.
“Aku gak begitu akrab dengan teman Puspita. Jadi biarin aja. Udahlah jangan dibahas.” Kata Rere dengan agak ketus. Lalu meninggalkan Rifa dan Lyla
---
Di sekolah Rere mendapat tugas kelompok dari gurunya. Jadi sepulang sekolah Rere akan kerja kelompok di rumah Bagas. Tapi sebelum ke rumah Bagas, Rere dan teman – temannya pulang dulu untuk ganti baju.
Kebetulan kali ini Rere satu kelompok dengan Puspita, Kevin, Rifa, Bagas dan Aldi. Rere dan Aldi udah ada di rumah Bagas tapi yang lain belum ada yang datang. Akhirnya, Rere mengirim pesan kepada teman – temannya.
Entah bagaimana nomor kontak Kevin bisa ada di hp nya. Padahal dia tidak pernah merasa punya nomornya Kevin.
“Aku kok punya nomernya Kevin yah?” kata Rere pada diri sendiri.
“Kemarin – kemarin kan kamu mintak nomernya Kevin ke Andre.” Kata Aldi mengingatan.
“Hm.. kayaknya gak jadi dikasi deh. Ahh gakpapalah. Ngapain dibuat pusing.” Kata Rere lagi.
Akhirnya beberapa menit kemudian, semuanya udah sampe di rumah Bagas.
“Kalian lama banget. Sumpah. Aku sama Rere nunggu kalian hampir satu jam.” Kata Aldi
“Tadi nungguin Rifa ini yang lama.” Kata Puspita menjelaskan.
“Ya maaf. Habis gak ada yang ngasi tau aku mau berangkat jam berapa.” Kata Rifa membela diri.
“Aku udah kirim ribuan pesan ke kamu kali Fa, tapi gak ada yang masuk satupun.” Kata Rere menjelaskan.
“Ya maaf. Handphoneku tadi mati.” Kata Rere dengan nada memelas.
“Haduh Rifa gimana siihh. Kita telat gara – gara kamu nih” kata Bagas sedikit kesal.
“Ya udahlah. Jadi ngerjain atau nggk niih? Keburu sore nanti..” kata Kevin yang dari tadi hanya memperhatikan semuanya marah pada Rifa.
Setelah menyelesaikan tugas kelompok, Rere dan teman – teman berkeliling sekitar rumah Bagas untuk mencari udara segar. Melepaskan capek setelah mengerjakan tugas yang cukup membuat pusing.
Lalu semuanya berpamit untuk pulang.
“Hati – hati ya Re.” Kata Kevin. Rere tak menjawab apa – apa. Malah Rere keheranan dengan kata – kata Kevin.
Bagas nganter semua temen – temennya sampe depan gang rumahnya. Rere ada di belakang sendiri. Setelah semua temennya pulang, Rere ngomong sebentar sama Bagas.
“Makasih ya Gas.” Kata Rere pada Bagas.
“Iya. Hati – hati Re.” Kata Bagas.
“Hati – hati Re.” Kata Kevin lagi.
Rere heran sekali hari itu. Dia gak pernah tau kalau sebenernya temennya baik – baik. Dan perhatian. Apalagi Kevin yang dari awal masuk kelas X gak pernah akrab sama Rere. Sore – sore, dia sempet sms’an sebentar sama Kevin. Rere masih mikirin sikap temen – temennya. Memang bener kata orang, jangan menilai sesuatu hanya dari covernya. Kita harus mengenalnya lebih baik untuk tau segalanya.
---
“Gimana tadi kerja kelompoknya kemarin Re?” tanya Lyla yang dari tadi sudah menunggu Rere.
“Sempet kacau gara Rifa telat. Ngomong – ngomong kemana itu anak?” tanya Rere
“Gak tau deh. Di kantin mungkin.” Kata Lyla singkat.
“Ya udah masuk kelas yuk.” Ajak Rere.
“Dimas sama Angga gimana Re?” tanya Lyla sambil berjalan menuju kelas.
“Gak tau deh. Gak ada kabar. Gak ada yang ngasi kabar sama aku.” Kata Rere
“Katanya sahabat. Kok gitu siih.” Kata Lyla
“Udahlah yah.. Temanku kan gak mereka aja. Jadi gak usah dibahas.” Kata Rere sedikit ketus. Lyla langsung diam tak menanggapi lagi perkataan Rere.
Di dalam kelas, Puspita ternyata sudah menunggu Rere untuk menanyakan tugas yang kemarin.
“Re, kamu gak lupa bawa tugas yang kemaren kan?” tanya Puspita yang berada disampingnya.
“Enggaklah. Aku bawa kok.” Kata Rere sambil meletakkan tasnya.
Rere sekarang mulai belajar untuk bergaul dengan teman – teman sekelasnya. Tentu saja dengan sedikit bantuan Puspita. Tapi tetap saja Puspita lah yang menjadi pusat perhatian di kelas.
---
Sore hari Rere melihat handphone-nya. Ternyata ada pesan dari Kevin. Hanya membahas tentang pelajaran sekolah siihh... tapi Rere senang bisa membantu.
Sekarang semenjak Rere punya nomernya Kevin, Rere sering sms an sama Kevin. Meskipun gak sering – sering banget. Dan gak tau sejak kapan, Rere seperti punya alasan lagi untuk tersenyum setelah kedua sahabatnya Angga dan Dimas menjauh darinya. Kehadiran Kevin, Kevin Wijaya memberikan senyuman di wajah Rere.
Rere dan Kevin mulai dekat meskipun gak deket banget. Tapi di kelas, Rere merasa diasingkan. Rere melihat Puspita tertawa dan bercanda bareng sama Kevin. Hatinya memang agak sedikit sakit melihat itu. Ekspresi dan nada bicara Kevin pun tampak bersemangat ketika berbicara dengan Puspita. Dari situ, Rere menyimpulkan kalau Kevin mempunyai perasaan sama Puspita. Meskipun Puspita udah punya pacar. Dulu Puspita juga merebut perhatian Dimas dari Rere. Puspita selalu menjadi topik pembicaraan Dimas dan Rere.
“Kenapa harus Puspita lagi? Aku harus ngalah lagi?” kata Rere dalam hati. Rere memang tak seperti Puspita yang cantik dan mudah bergaul. Tapi dia gak suka melihat semua yang diinginkannya selalu didapatkan oleh Puspita. meskipun begitu Rere tak pernah membenci Puspita. Rere tetap menyayangi Puspita sbagai sepupunya. Karna bagaimanapun, Puspita telah banyak membantu Rere.
Biasanya Rere selalu cerita sama Puspita kalau Rere lagi ada masalah. Tapi kali ini Rere gak mau ada yang tau dulu tentang ini. “Selalu Puspita. Kenapa harus sepupuku?” gumam Rere. Rere tak pernah menyalahkan Puspita. Rere tau kalau Puspita mempunyai banyak kelebihan yang membuatnya disukai banyak orang.
Setiap hari Rere melihat Kevin tertawa bersama Puspita. Puspita tak pernah merasa jika Rere mengharap pada Kevin. “Dari sekian banyak teman cowok Puspita, kenapa harus Kevin yang aku lihat tertawa bersamanya?” gumam Rere. Akhirnya Rere mengalah dan menjauh dari Kevin.
---
Tak terasa sudah setahun Rere berada di kelas satu. Dan sudah setahun juga dia memperhatikan Kevin tapi tak pernah mendapat perhatiannya. Beberapa minggu lagi, sekolah Rere mengadakan liburan ke pantai untuk menutup tahun ajaran.
Hari ini Rere beranikan untuk cerita tentang perasaannya sama Kevin kepada salah satu sahabatnya Lyla. Dari dulu tak ada yang tau tentang Rere dan Kevin.
“Jadi kamu suka sama Kevin Re?” kata Lyla setelah mendengar cerita Rere.
“Ini gak seperti yang kamu maksud La, dia itu seperti menjadi pengganti Dimas buat aku. Dimas dan Angga yang udah ngejauh dari aku.” Kata Rere.
“Hm.. terus gimana?” kata Lyla singkat.
“Yah gak gimana – gimana La, Kevin keliatannya suka sama Puspita. ya udah.” Kata Rere pasrah.
“Tapi kan Puspita udah punya pacar setahuku!” kata Lyla menebak – nebak.
“Emang iya. Udah deh jangan dibahas. Aku mohon jangan cerita siapa – siapa La. Cuma kamu aja yang tau. Aku percaya sama kamu.” Kata Rere.
“Oke deh Rere.”
---
Akhirnya waktu liburan pun tiba. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Setelah sampai di pantai, semuanya langsung berlarian. Ada yang foto – foto, main pasir. Kali ini Rere bawa kamera. Dan entah gimana caranya, Rere dapet kesempatan foto bareng Kevin. Rere seneng banget.
“Makasih Vin. Buat kenang – kenangan.” Kata Rere pada Kevin.
“Sama – sama.” Balas Kevin
“Btw, senyum kamu gak ikhlas banget siih..” gurau Rere.
“Yaelah. Gak makasih malah ngeledek.” Kata Kevin
“Tadi kan aku udah bilang makasih Kevin. Perlu aku ulang? MAKASIH KEVIN.” Kata Rere sambil menekan kata ‘makasih’.
Kevin langsung pergi bermain tanpa menghiraukan Rere. Rere seneng banget dapet foto berdua sama Kevin. Meskipun Rere tau harapannya sama Kevin tak akan pernah tercapai. Setelah itu Lyla menghampiri Rere.
 “La, aku dapet foto bareng Kevin.” Kata Rere kegirangan.
“Seneng niih. Buat kenang – kenangan.” Kata Lyla
“Hehehe.. mengaharapkan Kevin itu lebih sakit dari pada mengharapkan Dimas La. Dimas bukan hanya sekedar mimpi, dia pernah jadi bagian dari hidupku. Tapi Kevin? Dia hanyalah mimpiku yang tak akan pernah bisa aku gapai sampai kapanpun.” Kata Rere mencoba ikhlas.
Lalu Rere dan Lyla menghabiskan waktu foto – foto bersama baren temen – temen lainnya.
~ THE END ~

Rabu, 19 Februari 2014

Naskah Drama



PERSELISIHAN YANG BERAKHIR BAHAGIA
April adalah anak yang selalu merasa dirinya paling cantik di sekolah. Tapi sayangnya dia sombong, dan karna kesombongannya itu ia tidak mempunyai teman. Berbeda sekali dengan Agustin. Agustin adalah anak yang baik dan juga cantik. Dan Agustin juga mempunyai banyak teman. Karena hal itu, April sangat benci kepada Agustin.
April    : “Aku adalah anak paling cantik di sekolah ini.”
Tiba – tiba Mei, Okta, Agustin dan Geny datang
       Mei      : “Dasar sok cantik, padahal Agustin lebih cantik daripada kamu.”
       Geny   : “Iya benar.”
       Okta    : “Agustin sudah cantik, baik lagi.”
       Mei      : “Iya, gak kayak kamu sombong.”
            April    : “Eh, kalau bicara jangan sembarangan ya! Emang kamu siapa berani bicara gitu ke aku?”
            Agustin: “Sudah jangan bertengkar. Maafkan teman – temanku ya April?”
April langsung pergi dan tidak menghiraukan perkataan Agustin. Saat April berjalan ke kantin, ia bertemu dengan Vebry.
            Vebry  : “Kenapa kamu benci sama mereka?”
            April    : “Aku tak suka dengan Agustin yang sok baik.”
            Vebry  : “Memang dari dulu dia begitu.”
            April    : “Kamu juga benci sama dia?”
            Vebry  : “Menurutmu?”
            April    : “Kelihatannya sih gitu. Ya sudahlah ayo kita ke kantin.”
Saat tiba di kantin Vebry & April bertemu dengan Agustin & teman-temannya.
            Geny   : “Kenapa Vebry si anak baru itu bisa sama April?”
            Okta    : “Mungkin sekarang mereka berteman.”
            Mei      : “Sepertinya begitu.”
            Agustin: “Sudah dong, jangan suka ngomongin orang. Gak baik.”
Mendengar  percakapan mereka, April dan Vebry langsung menghampiri Agustin dan teman – teman.
            Vebry  : “Hey, ngomongin apa kalian?”
            April    : “Berani banget kalian ngomongin kita berdua?”
            Mei      : “Memangnya kenapa? Kita gak takut sama kalian.”
            Vebry  : “Jangan pernah bentak-bentak kita ya!”
            Okta    : “Diam saja kamu. Baru sekolah di sini udah ikutan sombong.”
Agustin: “Sudah – sudah. Kalian itu setiap ketemu bertengkar terus. Sekarang kalian baikan.”
            April    : “Enak saja, gak mau!”
            Geny   : “Kita juga gak mau baikan sama kalian.”
            Vebry  : “Udah ayo kita pergi saja April. Bosen liat mereka.”
Keesokan harinya April & Vebry bertemu dengan Agustin dan teman-temannya, mereka  berniat memecah persahabatan Agustin & temen – temannya.
       April    : “Hai Vebry kamu tau ga sih Okta itu bilang kalau Agustin itu sok baik.”
       Vebry  : “Oh ya?”
Agustin dan teman-temannya mendengar percakapan April dan Vebry
       Agustin: “Apa benar kamu bilang begitu Okta??”
       Okta    : “Nggak aku ga bilang gitu.”
       April    : “Iya emang , aku loh denger sendiri kok.”
       Okta    : “Kamu jangan fitnah dong.”
       Vebry  : “Ngaku aja deh.”
Okta    : “Jangan ngada-ngada deh kamu, kamu pasti ingin memecah belah persahabatan kita.”
       Mei      : “Iya, pasti itu cuma akal-akalan kalian saja.”
       Agustin: “Udah jangan bertengkar itu cuma kesalah pahaman aja.”
Tanpa menghiraukan perkataan Agustin, April & Vebry langsung pergi meninggalkan mereka.Keesokan harinya Agustin, Mei, Okta dan Geny bertemu dengan Vebry. Tapi mereka tidak melihat April.
            Geny   : “Kemana si April?”
            Vebry  : “Emang kenapa kalian nanyain April? Penting buat kalian?”
            Mei      : “Nanya baik – baik jawabnya malah gitu.”
            Agustin: “Memangnya April kemana kok belum datang?”
            Vebry  : “Dia sakit. Kenapa?”
            Okta    : “Mana mungkin orang sombong kayak dia bisa sakit.”
            Geny   : “Iya, bener.”
            Agustin: “Sudah, bagaimana kalau kita nanti menjenguk April.”
            Okta    : “Ngapain kita jenguk dia! Dia kan sombong, sering jahatin kamu lagi Agustin.”
            Agustin: “Tapi bagaimanapun April tetap teman kita.”
            Mei      : “Ya udah dech. Kita ikut saja.”
Sepulang sekolah Agustin, Mei, Vebry, Okta dan Geny pergi ke rumah April untuk menjenguknya.
            Agustin: “Assalamualaikum.”
            April    : “Waalaikumsalam.” (Sambil menghampiri Agustin & teman – teman)
            Agustin: “Bagaimana keadaanmu April?”
            April    : “Aku sudah agak baikan. Kalian menjengukku?”
            Mei      : “Kamu pikir kita ngapain ke sini kalau bukan ngejenguk kamu?”
            April    : “Kalian tidak marah dengan ku dan Vebry?”
            Agustin: “Kenapa kita harus marah sama kamu?”
            Vebry  : ”Aku dan April kan sudah jahat sama kalian?”
            Agustin: “Kita semua udah maafin kalian berdua kok. Iya kan teman-teman.”
            Mei      : “Iya aku sudah  maafin kalian.”
            Okta    : “Iya, aku juga.”
            Geny   : “Aku juga udah maafin kalian.”
            Vebry  : “Terimakasih ya kalian semua udah mau maafin kita.”
            Agustin: “Itulah gunanya teman.”
April    : “Iya terimakasih ya, kalian memang teman – teman terbaikku.”
Vebry  : “Temen aku juga dong.”
Akhirnya setelah mereka berselisih cukup lama, sekarang mereka semua bersahabat untuk selamanya.

Narrative text



BUAYA TAK TAHU DIRI
Pada suatu hari, di tepi hutan yang subur ada sapi betina, sapi jantan dan anak mereka seekor sapi yang baru saja beranjak dewasa. Pemandangan tepi hutan yang yang indah dan rumput yang yang hijau subur membuat mereka gembira. Anak sapi berlarian ke sana ke mari.
Suatu hari si anak sapi minta izin kepada orang tuanya untuk bermain di tepi sungai. Sapi muda itu berjalan ke tepi sungai, ia melihat berbagai hewan kecil di sekitar sungai. Hatinya merasa senang saat melihat katak berloncatan kian kemari.
            Tak terasa ia sudah sangat jauh meninggalkan tempat kedua orang tuanya. Tiba – tiba ia mendengar suara rintihan minta tolong. Ternyata ada seekor buaya sedang tertindih pohon yang patah.
            Sang buaya merintih minta tolong kepada anak sapi. Buaya itu mengaku tertindih pohon setelah terjadi gempa bumi dua hari yang lalu. Sapi tidak mau menolong buaya tersebut karena sapi teringat akan pesan ibunya bahwa bangsa buaya tidak bisa dipercaya, mereka licik sekali. Suka makan daging hewan lainnya.
            Tapi buaya merayu sambil mengeluarkan air mata. Buaya janji bahwa dia tidak akan melukai sapi setelah sapi menolongnya. Sapi muda terpengaruh, Lama – lama ia merasa kasihan juga dan menolong buaya. Lalu sapi berusaha mendorong kayu itu sekuat tenaganya, dan akhirnya buaya terlepas dari tindihan kayu.
            Tapi...... astaga! begitu terlepas dari tindihan kayu, buaya itu langsung meloncat ke punggung sapi dan menerkam punuk si api. Sapi memekik kesakitan dan mengingatkan akan janji sang buaya bahwa dia tidak akan memakannya. Namun, buaya mengelak bahwa dia sudah minta tolong pada sapi untuk membebaskannya dari rasa haus dan lapar setelah tertindih kayu selama dua hari dengan memakan sapi.
            Lalu sapi meminta keadilan pada yang lain. Kebetulan saat itu ada tikar lapuk hanyut di sungai. Sapi menceritakan kerjadian yang menimpanya dan meminta pendapat tikar lapuk. Apa jawabannya? Tikar lapuk menjawab bahwa “sapi harus menerima nasibnya karna tikar juga mengalaminya. Ketika keadaannya masih bau dipakai, jika koto di besihkan setelah lapuk dan banyak yang bolong di buang ke sungai begitu saja.”
            Buaya membenarkan pekataan tika. Sapi protes dan bertanya lagi kepada keranjang hanyut. Namun, keranjang menjawab persis seperti tikar. Lagi – lagi buaya membenarkan pendapat keranjang tersebut. Tiba – tiba ada seekor bebek betina tua berenang, sapi dan buaya meminta pendapat bebek. dan bebek membenarkan perkataan buaya.
            Saat itu kebetulan Kancil lewat di depan Buaya dan Sapi. Kali ini Buaya yang meminta pendapat kancil. Ia yakin Kancil juga akan membenarkan pendiriannya. Lalu Kancil menjadi hakim dan Kancil meminta Sapi dan Buaya untuk mengulang kejadian yang di alami tadi. Buaya dan Sapi pun tidak keberatan untuk mengulanginya.
            Maka dilakukanlah pengulangan itu. Buaya kembali ke tempatnya semula Sapi mengembalikan kayu besar ke punggung buaya. Setelah buaya kembali di posisi semula, Kancil mendekati Sapi dan berbisik lirih “Ayo kita tinggalkan buaya jahat ini.”  Sapi baru sadar inilah kesempatan baginya lolos dari bahaya maut. Tanpa basa basi lagi Sapi mengikuti lari arah Kancil yang sudah meloncat lebih dulu.
            Buaya berteriak. Tapi Sapi dan Kancil tak menghiraukannya. Buaya itu meraung – raung dan siapakah yang akan menolongnya? Sapi dan Kancil sudah tidak mempercayainya lagi, hewan – hewan lain mungkin juga tidak akan percaya pada mulut manis buaya itu.
            Makanya jangan terlalu rakus dan tak tahu balas budi akibatnya bisa celaka sendiri.
English :
Crocodiles Doesn't Know It self
One day, on the edge of the lush forests exist cows, bulls and cow their children just grow up. Stunning views of the beautiful forests and lush green grass that makes them happy. The calf ran thither.
One day the cow boy asked his parents for permission to play on the river bank. Veal walked to the edge of the river, he saw a variety of small animals around the river. His heart was pleased to see frogs leaping to and from.
There was so much he had to leave his parents. Suddenly he heard the sound of groaning for help. Apparently there is a crocodile being crushed broken trees. The crocodiles moaning for help to the calf. Crocodile was admitted after a tree crushed an earthquake two days ago. Cows do not want to help because cow mother remembered the message that the crocodiles can not be trusted, they are very sneaky. Like to eat the flesh of other animals.
But woo her crocodile tears. Crocodile promise that he would not hurt the cow after cow to help him. Veal affected, Lama - long she felt sorry for and help the crocodile. Then the cow tried to push it as hard as wood strength, and finally crocodiles apart from under the wood.
But ...... gosh! so apart from under the wood, crocodile jumped into the back of the cow and the flames pounced hump. Cattle squealed in pain and will remind the alligator promise that he will not eat it. However, crocodiles deny that he ask the cow to free him from thirst and hunger after a crushed timber for two days by eating beef.
Then the cow asked for justice on the other. Just then there was a mat weathered drift in the river. Cows tell kerjadian that happened and ask my weathered mat. What is the answer? Mat weathered replied that "cows must accept his fate also experienced mat karna. When the situation is still the smell of worn, if koto in besihkan after decomposed and many are missing in the waste into the river just like that. "
Crocodile justify pekataantika. Cows protest and asked again to float basket. However, just like answering basket mat. Again - again crocodile justify the basket. Arrived - arrived there was an old female ducks swim, cows and crocodiles ask the opinion of a duck. and confirming the word duck crocodile.
When the hare happened to pass in front of the Crocodile and Cow. This time the crocodile who seek the deer. He believes hare would also justify its establishment. Then the hare hare a judge and ask for a repeat Cows and Crocodiles natural occurrence in earlier. Crocodiles and Cows would not mind to repeat it.
We conducted the repetition. Crocodile back into place large wooden cow returns to the back of a crocodile. After the alligator back in its original position, hare approached and whispered softly Cow "Let's leave this evil crocodiles." Cow realized this was a chance for him to escape danger. No strings attached anymore Cows follow a hare running direction'd jumped first.
Crocodile yelled. But cows and Kancil ignored. Crocodile roared - wailing and who will help him? Cows and hare are not believed anymore, animals - other animals probably would not have believed the crocodile's mouth sweet.
So do not be too greedy and ignorant reciprocation consequences could harm himself.