Selasa, 17 Juni 2014

Cerpen "Cinta Datang Terlambat"


Cinta Datang Terlambat
Karya : Ismi Roichatul Jannah           
Takdir kita sudah jelas. Kau, aku, tau itu. Tak ada bagian yang perlu kita ubah. Tak ada sela yang harus kita isi. Bukankah takdir kita sudah jelas? Aku tau kau dan aku tak akan pernah berada dalam cerita yang sama. Sekarang, kau dan aku tak kan pernah menjadi ‘kita’.
Untuk apa mengaharap sesuatu yang tak akan pernah mungkin kita miliki, kalau kenyataannya itu hanya akan membuat kita tambah sakit. Aku tau rasanya berharap itu sakit,tapi kenapa aku tak pernah berhenti berharap kepadanya. Orang yang jelas – jelas tak pernah melirik ke arahku. Kenapa aku malah tak bisa memberikan harapan kepada orang yang sayang padaku?
Mungkin aku bodoh terlalu berharap lebih terhadap sesuatu yang sangat mustahil untuk aku miliki.tapi menghentikan hati ini untuk tidak berharap lagi, tak semudah saat hati ini memutuskan untuk berharap. Mungkin untuk saat ini yang bisa ku lakukan adalah terus berharap sampai akhirnya hati ini lelah dan tak akan pernah berharap lagi.
~~~
Rere Novita Dewi atau biasa dipanggil Rere sudah hampir 3 tahun berada di sekolah menengah atas. Tak terasa Rere sudah kelas 3 SMA dan setahun lagi Rere akan lulus dari sekolahnya sekarang dan tak akan mengenakan seragam putih abu – abu lagi. Rere mempunyai teman dekat bernama Brian Revaldo yang akrab disapa Valdo. Valdo adalah orang yang baik dan selalu ada untuk Rere, Valdo juga yang membantu Rere untuk tak mengingat lagi tentang Kevin Wijaya atau Kevin.
“Pagi princess Rere.” Goda Lyla.
“Apaan siih La?”
“Barengan sama prince Valdo lagi?”
“Ya kamu tau kan La, dia selalu memaksa untuk bareng ke sekolah?”
“Dia baik kan?”
“Memang.”
“Dia keren kan?”
“Lumayan.”
“Dia ketua OSIS loh”
“Yupz. I know.”
“Terus kenapa kamu masih gak mau nerima dia Re?”
“Ahh Lyla, udah jangan bahas itu lagi.” Kata Rere dengan nada childish-nya
“Jangan bilang kamu masih mikirin Kevin?” tanya Lyla.
“Stop sebut nama Kevin. Kenapa setiap ngebicarain Valdo selalu dihubung – hubungin sama Kevin siihh? Udah jangan di bahas lagi. Please!”
Sebenarnya Rere masih kepikiran pengalamannya. Waktu dia tak bisa bersama Kevin. Sakit hati yang dia rasakan, Rere gak mau sakit hati lagi. Setelah perdebatan kecil itu, Rere dan Lyla berjalan menuju kelas. Waktu menuju kelas mereka, Rere dan Lyla melihat Kevin jalan bareng Putri.
“Re, itu Kevin kan?” tanya Lyla.
“Mana?” kata Rere yang tak melihat Kevin.
“Itu.. dia jalan bareng Putri. Sejak kapan?” kata Lyla penasaran.
“Mana aku tau.” Kata Rere dengan cuek.
“Setahuku, Kevin gak pernah deket sama cewek deh.” Kata Lyla menerka – nerka.
“Nah itu.. dia deket sama Putri. Putri Amelia, wakil ketua OSIS.” Kata Rere. “Udah yukk.. ke kelas.” Ajak Rere untuk melanjutkan pergi ke kelas mereka.
Tett.. tett.. tett.. Bel tanda istirahat berbunyi. Anak – anak berhamburan keluar kelas. Rere dan Lyla langsung menuju kantin yang dari tadi di kelas, sudah mengeluh kelaparan. Setelah memesan makanan mereka mencari tempat duduk
“Eh.. aku masih penasaran sama Putri dan Kevin deh Re.”  Kata Lyla memulai pembicaraan.
“Gak ada kerjaan lain selain kepo’in orang apa?” kata Rere ketus.
“Yaelah Re.. kamu kan tau gimana aku.” Kata Lyla membela diri.
“Ya udah gak usah bahas masalah itu lagi.”
“Nada bicara kamu kok gitu sih Re, atau jangan.. jangan...”
“Jangan.. jangan apa? Jangan mikir macem – macem deh La.” Kata Rere.
Lalu Valdo datang menghampiri Rere dan Lyla yang dari tadi terlihat berdebat itu.
“Hai.. ngapain sih kalian, kok kayak seru banget.” Sapa Valdo yang baru datang.
“Eh, Valdo.. kamu kan ketua OSIS niih.. kamu tau tentang Kevin sama Putri?” tanya Lyla penasaran.
“Kenapa emangnya?” tanya Valdo.
“Kayaknya ada yang cemburu gitu deh.” Kata Lyla sambil melirik ke arah Rere.
“Apaan siihh La..” kata Rere ketus
“Iiihh.. aku kan gak nyebut nama kamu Re. Berarti kamu merasa dong.” Kata Lyla meledek.
“Enggak merasa sama sekali.” Kata Rere.
“Putri sekarang emang lagi deket sama Kevin. Sejak beberapa hari yang lalu setelah Kevin bantuin Putri gitu. Emang bener kamu cemburu Re?” tanya Valdo. Valdo tau kalau dulu Rere pernah suka sama Kevin.
“Kok kamu jadi ikut – ikutan Lyla siih. Aku tegasin sekali lagi. Aku gak cemburu. Sama sekali nggak.” Kata Rere dengan nada tegas.
“Aku harap begitu. Aku harap kamu gak ada perasaan lagi sama Kevin.” Kata Valdo.
“Ekhem.. Ekhem..” kata Lyla.
“Udahlah gak usah bahas itu lagi. Ayo balik ke kelas La.” Ajak Rere. Tiba – tiba, Valdo memegangi tangan Rere.
“Re, nanti pulang bareng ya? Aku tunggu.” Kata Valdo sambil melepaskan tangannya dari tangan Rere.
“Iyah.” Kata Rere singkat. Lalu Rere dan Lyla kembali ke kelas karena bel masuk akan segera berbunyi.
Ternyata guru yang mengajar di kelas Rere dan Lyla tidak bisa datang. Jadi hanya diberikan tugas saja. Kevin menghampiri Rere untuk bertanya tugas tersebut. Bukan tanya, lebih tepatnya mencontek. Sudah lama Kevin tak pernah menyapa Rere.
“Re, boleh nyontek kan? Kan udah ngomong baik – baik.” Tanya Kevin.
“Kesambet apaan tiba – tiba aja nyapa Rere dan minta contekan?” kata Lyla.
“Udah La.” Kata Rere mendiamkan Lyla. Lalu Rere memberikan bukunya pada Kevin untuk dicontek.
“Re, kamu gimana sih? Dia udah lama gak nyapa tiba – tiba.....”
“Dari kelas satu emang gitu kan?” kata Rere memotong omongan Lyla.
“Rere.. setahun mungkin kamu gak pernah komunikasi sama dia. Nyapa aja enggak.” Kata Lyla.
“Dan sekarang waktunya perbaikin itu semua.” Kata Rere menjelaskan.
“Kamu masih ngarep Kevin?” tanya Lyla.
“Enggak. Aku bilang kan memperbaiki pertemanan aku sama Kevin.” Kata Rere lagi.
“Ya udah terserah kamu. Tapi jangan lupa sama kebaikan Valdo.” Kata Lyla mengingatkan.
Setelah mereka selesai berdebat, Lyla pergi ke toilet meninggalkan Rere sendiri. Lalu Kevin mengembalikan buku Rere.
“Makasih Re.” Kata Kevin.
“Sama – sama.” Kata Rere singkat.
“Sejak kapan Lyla bawel kayak gitu?” tanya Kevin.
“Uda dari dulu. Kamu aja baru tau.” Rere cukup terkejut saat pembicaraan mereka sedikit berlanjut, Rere kira Kevin akan langsung pergi.
“Nomer handphone kamu tetep kan?” tanya  Kevin lagi.
“Tetep.”
“Boleh kan kalau aku sms kamu.”
“Anytime.”
“Oke. Thanks.”
---
Sepulang sekolah Valdo sudah menunggu Rere. “Maaf lama. Tadi nunggu Lyla dulu.” Kata Rere meminta maaf. Setelah sampai di rumah Rere, Rere berterima kasih pada Valdo.
“Thanks Valdo.”
“:You’re welcome.”
“Btw, nanti aku boleh main ke rumah kamu? Sekalian mau minta bantuan ngerjain tugas.”
“Boleh.”
“Ya udah. Nanti sore aku ke sini. See you.” Lalu Valdo meninggalkan Rere.
Saat menuju ke dalam rumahnya, Rere mendapat pesan dr Lyla.
“Re, nanti gak kemana – mana kan? Aku nanti ke rumah kamu ya?” setelah membaca pesan dari Lyla, Rere langsung membalasnya.
“Ya udah. Nanti Valdo juga mau ke rumah.”
Rere memutuskan istirahat sebentar sebelum nanti membantu Lyla dan Valdo mengerjakan tugas. Saat udah agak sore, ada yang mengetuk pintu rumahnya.
“Aku kira, Lyla dan Valdo masih akan datang 1 jam lagi.” Kata Rere pada diri sendiri. Lalu Rere pergi keluar kamar untuk membuka pintu. Dan ternyata yang datang bukan Lyla dan Valdo.
“Kevin?” kata Rere kaget.
“Hai Re.” Kata Kevin santai
“Ngapain ke rumah?”
“Emang gak boleh?”
“Yah boleh, tapi tau dari mana rumah ku? Kamu gak pernah ke rumah ku deh.”
“Kata Puspita sama Bagas.”
“Hm.. ya udah masuk dulu.”
“Aku sebenernya mau minta bantuan ngerjain tugas yang banyak itu.”
Rere masuk ke dalam untuk mengambil bukunya.
“Ini punya aku. Udah selesai sih. Di baca aja buat dipelajarin. Aku ke belakang dulu.” Lalu Rere pergi ke dapur untuk membuat minum. Lalu Rere kembali dengan membawa minuman.
“Ini minum dulu. Kesini sendirian?” tanya Rere.
“Iya. Bagas di ajak gak mau!”
“Kamu gak bilang dulu kalau mau ke rumah.”
“Gak sempet.”
“Ini anak banyak berubah selama setahun gak akrab.” Gumam Rere dalam hati
“Re, ini gimana?” kata Kevin menanyakan tugas dan membuyarkan lamunan Rere.
Lalu Rere mengajari Kevin. Selama hampir satu jam, lalu ada yang mengetuk pintu rumah Rere. Rere pergi membukakan pintu.
“Valdo? Lyla? Ada Stefan juga. Biasanya langsung masuk aja La tanpa ketuk pintu.” Kata Rere.
“Itu kan kalo sendiri. Sekarang kan sama Valdo dan Stefan.” Kata Lyla membela diri. Valdo hanya tersenyum melihat tingkah Lyla dan Rere.
“Ya udah ayo masuk.” Ajak Rere. Lyla, Stefan dan Valdo langsung menuju ruang tamu.
“Udah aku siapin minum tuh.” Kata Rere.
“Kevin? Ngapain disini?” kata Lyla yang melihat Kevin di ruang tamu Rere.
“Ngerjain tugas.” Kata Kevin santai. Sedangkan Valdo dan Stefan hanya diam.
“Kenapa gak minta bantuan Putri?” tanya Lyla ketus.
“Putri katanya sibuk. Makanya aku minta bantuan Rere.” Kata Kevin.
“Oohh.. kalau Putri gak ada baru inget sama Rere.”
“Kenapa sih La? Sejak kapan sih jadi bawel?”
“Udah gak usah berantem. Kan mau ngerjain tugas.” Kata Rere menghentikan pertengkaran Kevin dan Lyla.
Lalu mereka mengerjakan tugas bersama meskipun Lyla dan Valdo agak keberatan dengan keberadaan Kevin. Setelah selesai mengerjakan tugas, Kevin langsung pulang duluan.
“Kamu gak bilang kalau Kevin juga ikutan.” Tanya Valdo.
“Aku aja gak tau kalau dia mau ke rumah. Aku gak mungkin ngusir dia kan? Dia temen aku Valdo.” Kata Rere
“Ekhem.. cemburu Do?” tanya Lyla.
“Dikit.” Jawab Valdo.
“Hahaha.. dikit, banyak juga gakpapa.” Goda Lyla.
“Kevin itu temen aku.” Kata Rere.
“Tapi kita gak mungkin lupa sama apa yang udah pernah kamu rasain sama Kevin kan Re.” Kata Valdo.
“Kenapa siih kalian? Gak suka banget aku temenan sama Kevin?” kata Rere mulai marah. Lalu Rere sibuk dengan laptopnya. Tak mau melanjutkan perdebatan itu. Sejenak, mereka semua diam. Hening.
“Maaf Re.” Kata Valdo memulai pembicaraan.
“Untuk apa?” kata Rere.
“Untuk semuanya kalau aku punya salah.”
“Misalnya”
“Ngelarang kamu temenan sama Kevin.”
“Alasannya?”
“Ya aku gak mau kamu mengharap lagi sama Kevin.”
“Itu lagi. Aku tau Kevin sama Putri. Nyantai aja.”
“Jadi kamu gak marah lagi kan Re?” tanya Lyla.
“Aku gak pernah marah.” Kata Rere.
Setelah baikan, Lyla dan Valdo pamit pulang karena udah sore. Malam hari, waktu Rere lagi nonton tv handphone-nya berdering satu kali menandakan ada pesan masuk. Rere langsung membaca pesan yang ternyata berasal dari Kevin.
“Re, aku minta maaf ya? Udah bikin kacau semuanya. Aku tau Lyla sama Valdo gak suka dengan keberadaanku tadi.”
Rere langsung membalas pesan dar Kevin. “Gakpapa kok Vin. Harusnya aku yang minta maaf atas sikap mereka.”
“Jadi lain kali aku boleh minta bantuan lagi dong.”
“Bukannya aku gak mau. Tapi kan kamu bisa minta bantuan Putri.”
“Kok jadi Putri sih?”
Rere tak membalas lagi pesan dari Kevin.
---
Pagi – pagi di sekolah, sudah ada bahan pembicaraan. Seperti biasa, Rere pergi sekolah bareng Valdo..
“Re.. ada gosip. Kevin jadian sama Putri.” Kata Lyla bersemangat.
Rere tak menjawab. “Tadi malem perasaan baru sms’an bareng Kevin.” Kata Rere dalam hati.
“Wooyy Re. Gakpapa kan?” tanya Lyla.
“Ya gakpapalah. Ke kelas yuk!” ajak Rere.
Saat istirahat, Lyla dan Rere duduk di kantin membicarakan masalah gosip yang menyebar di sekolahnya.
“Eh Re, tau gak? Katanya ya.. Putri yang nembak sih Kevin.” Kata Lyla memulai pembicaraan.
“Terus?”
“Yah Re, masak cewek yang nembak cowok.”
“Ini zaman emansipasi kale La, ya terserah si Putri.”
“Susah ya ngomong sama orang kayak kamu.”
“Ya udah jangan ngomong sama aku.”
Lyla hanya menghembuskan nafas panjang. Lalu Rere dan Lyla memakan makanan yang sudah mereka pesan.
“Re, besok gak ada acara kan? Jalan bareng yuk!” tanya Lyla.
“Boleh. Kemana?”
“Gimana kalau ke taman?”
“Oke dah.” Kata Rere menyetujui.
“Nanti kamu pulang bareng Valdo?”
“Enggak. Kak Fera baru pulang. Dia bilang mau jemput aku sekolah.”
“Waahh.. nebeng dong!”
“Oke.”
Tett.. Tett.. Tett.. Tett.. bel sekolah berbunyi. Tanda untuk waktunya pulang. Hari ini Rere dijemput oleh kakaknya, Kak Vera. Jadi, Rere tidak pulang bareng Valdo.
Keesokan harinya Rere langsung pergi ke taman. Rere dan Lyla udah janjian ketemu di taman. Sesampainya Rere di taman, ternyata Lyla belum datang. Akhirnya Rere berkeliling taman sendirian dengan sepeda nya. Karena Rere bersepeda sambil meneria telephon, Rere hampir saja menabrak orang. Dan orang itu ternyata...
“Putri? Hm.. aku minta maaf ya. Kamu gakpapa kan?” tanya Rere.
“Gakpapa. Ya udahlah. Lain kali hati – hati dong kalau bawa sepeda.” Kata Putri nyolot.
“Kan aku udah minta maaf baik – baik.”
“Putri, kamu gakpapa?” tanya Kevin yang tiba – tiba datang seperti super hero yang mau nyelametin Putri. “Rere?” tanya Kevin yang heran melihat keberadaan Rere.
“Sorry. Aku udah minta maaf. Aku gak sengaja.” Kata Rere mengulang permintaan maafnya.
“Rere.. ayo pergi dari sini.” Kata Lyla yang baru datang, yang ternyata Lyla lihat semua kejadian itu.
“Aku duluan Vin, Put.” Kata Rere berusaha ramah.
Lalu Rere dan Lyla pergi dengan sepeda mereka masing – masing untuk mencari bangku kosong di taman.
“Gak habis pikir sama Putri. Udah minta maaf masih nyolot aja.” Kata Lyla yang kesal dengan kejadian tadi. Padahal yang mengalami Rere bukan Lyla.
“Biarin aja.”
“Cuek banget siih. Gak bisa di biarin. Aku baru tau kalau wakil ketua Osis kayak gitu.”
“Jangan di hubung-hubungin sama di sekolah.”
“Kamu tau kenapa dia kayak gitu?”
“Enggaklah.”
“Dia itu tau apapun tentang Kevin. Dia udah ngincer Kevin dari kelas 2. Dan dia tau kalau belakangan ini Kevin akrab sama kamu!”
“So why? Berarti Kevin gak boleh temenan sama cewek dong ya?”
“Enggak juga. Mungkin Putri tau kalau kamu dulu suka sama Kevin.”
“Hey.. itu lagi? Ya udahlah. Males bahas nya.” Kata Rere menutup pembicaraan.
Rere sudah capek mendengar teman – temannya bahas masa lalunya. Setelah itu, Rere dan Lyla bersepeda sebentar lalu pulang. Waktu perjalanan pulang, Rere dan Lyla ketemu Valdo.
“Hay.. Rere.. Lyla.” Kata Valdo memanggil Rere dan Lyla.
“Hayy Valdo.” Kata Lyla.
“Re, main yuk.” Ajak Valdo.
“Sorry Valdo. Lagi gak mood nih. Kamu pergi sama Lyla aja ya. Sorry.” Kata Rere lalu pergi meninggalkan Lyla dan Valdo.
---
Hari minggu Rere tak ada kegiatan. Hanya menonton tv. Tiba – tiba ada pesan masuk yang ternyata dari Kevin.
“Re, temenin ke toko buku yukk! Jangan tanya kenapa aku gak sama Putri. Putri lagi sibuk. Please ya temenin.”
Belum sempat Rere membalasnya, uda ada yang mengetuk pintu rumah Rere. Lalu Rere pergi membukakan pintu.
“Kevin?” kata Rere kaget melihat Kevin sudah ada di depan rumahnya.
“Siap?”
“Siap apa?”
“Temenin aku ke toko buku.”
“Aku aja belom bilang iya.”
“Aku pikir, kamu akan bilang iya deh.”
“Oke, tunggu bentar.”
Lalu Rere masuk ke rumahnya untuk bersiap – siap. Setelah bersiap – siap, Rere pergi ke toko buku bareng Kevin. Sesampainya di toko buku, Kevin langsung memilih buku.
“Cari buku apa siih Vin?” tanya Rere.
“Disuru beli buku buat persiapan ujian. Tapi aku rasa uang nya lebih dari cukup, jadi aku mau beli buku tentang sport juga.”
“Hm..” kata Rere singkat. Lalu Rere memegang sebuah buku novel yang menurutnya menarik. Buku itu berjudul You’re my everything
“Mau beli?” tanya Kevin
“Rencananya. Tapi setelah ujian.”
“Kenapa?”
“Mau fokus belajar dulu. Udah belom milih bukunya? Udah siang Vin.”
“Udah. Ayo keluar.”
Sebelum mengantar Rere pulang, Kevin mengajak Rere makan siang.
“Kenapa masih kesini?” tanya Rere.
“Ya makan lah. Aku yang traktir deh. Sebagai tanda terimakasih udah mau nemenin aku ke toko buku.”
“Terserahlah.”
“Mau makan apa?”
“Terserah.”
“Dari tadi terserah terus. Kalo aku pesen batu emang mau di makan?”
“Jangan bercanda deh Vin.”
“Iyah .. Iyah .. maaf.”
Setelah makanan yang mereka pesan sudah ada, mereka makan bersama.
“Kenapa sih Re?” tanya Kevin.
“Kenapa apa?” kata Rere yang tak mengerti dengan pertanyaan Kevin.
“Kamu gak pernah ketawa lagi deh. Seenggaknya saat sama aku. Gak kayak dulu.”
“Kenapa harus ketawa kalau gak ada yang lucu. Emang aku orang gila?”
“Dulu kan kamu selalu ketawa – ketawa. Waktu kelas satu kita sekelas?”
“Ya itu karna ada yang lucu. Mungkin kemampuan ngelawak kamu udah hilang kale.”
“Hahaha.. bisa aja.”
“Bisa kan berhenti bahas topik yang gak penting.”
“Oke. Sorry.”
Setelah makan, Kevin mengantar Rere pulang. “Thanks buat hari ini.”
“Lain kali nggak lagi. Bisa dihabisin nanti aku sama Putri.”
Begitulah akhir dari kagiatan mereka hari itu.
---
Hari demi hari Rere lewati. Minggu ini Rere akan disibukkan dengan test persiapan menghadapi ujian dengan soal yang mungkin bisa dibilang rumit. Tapi Rere sudah belajar keras untuk ini. Jadi Rere akan tetap berusaha dengan baik.
“Rere...” kata Kevin memanggil Rere.
“Ada apa Vin?” tanya Rere.
“Aku mau tanya satu materi yang aku gak bisa. Kemarin aku hubungi kamu tapi gak bisa.”
“Ooohh.. Handphone ku mati. Materi apa emang Vin?”
“Yang ini.” Kata Kevin sambil menunjuk. Lalu Rere menjelaskan pada Kevin.
Valdo dan Lyla melihat Kevin dan Rere. Mereka melihat dari kejauhan.
“Sejak kapan mereka seakrab itu?” tanya Valdo yang gak suka melihat keakraban mereka.
“Gak tau. Mungkin sejak minggu kemarin mereka jalan bareng.” Kata Lyla.
“Jalan bareng?” kata Valdo kaget.
“Iya. Rere sama Kevin ke toko buku bareng.”
“Kok aku gak tau siih?”
“Kamu kan waktu itu sibuk di acara OSIS. Putri ada sama kamu juga kan? Makanya Kevin bisa pergi bareng Rere. Lebih tepatnya sih.. si Kevin kesannya agak maksa. Dia langsung dateng ke rumah Rere. Rere gak bisa nolak dong?” kata Lyla menjelaskan.
Tak terasa hari – hari berlalu begitu cepat. Pekan ujian sudah selesai. Pengumuman hasil ujian pun sudah keluar. Nilai Rere lumayan bagus, cukup untuk masuk perguruan tinggi di luar negeri. Sudah beberapa bulan lagi, Rere akan meninggalkan sekolahnya tercinta. Hari ini Rere makan siang di luar bareng Valdo dan Lyla.
“Nanti pada mau ngelanjutin kuliah dimana?” tanya Valdo
“Aku siih yang deket sini aja deh.” Kata Lyla
“Kalau kamu Re?” tanya Valdo lagi.
“Mungkin aku pindah keluar negeri.” Kata Rere.
“Hah? Pindah?” kata Lyla kaget.
“Kenapa pindah Re?” tanya Valdo.
“Kak Fera kerja di Singapore. Jadi aku akan ikut Kak Fera.” Kata Rere menjelaskan.
Ya Rere harus menerima kalau dia akan pindah ke luar negeri. Entah dari mana berita kepindahan Rere udah banyak yang tau. Waktu istirahat Rere memutuskan untuk ke perpustakaan. Waktu Rere sedang membaca buku, tiba – tiba ada yang bicara sama dia yang ternyata itu Kevin.
“Kenapa pindah Re?” tanya Kevin.
“Bukannya udah tau alasannya, emangnya kenapa?” kata Rere
“Ya karena.... karena...”
“Karena apa Vin?”
“Karna aku.. aku.. aku sayang sama kamu, aku gak mau kehilangan kamu Re.”
Kata – kata Kevin mampu membuat Rere terdiam. “Aku ke kelas dulu Vin.” Kata Rere yang tak menanggapi perkataan Rere barusan.
---
Kevin Wijaya, teman sekelas Rere waktu kelas satu dan kelas tiga sekarang. Dulu Rere emang pernah suka sama Kevin. Tapi untuk Rere, Kevin itu hanya mimpi yang tak akan pernah tergapai. Entah sejak kapan Kevin memiliki perasaan itu sama Rere. Tapi semuanya sudah terlambat. Rere sudah memendam dan mengubur perasaannya dalam – dalam.
Soal Kevin sama Putri, Putri yang cari perhatian Kevin. Putri juga yang nembak Kevin. Kevin itu tipe cowok yang gak berani nyakitin cewek. Jadi Kevin menerima Putri sementara perasaannya untuk Rere. Tapi perasaan Kevin ke Rere itu udah terlambat, semuanya sudah berkahir.
---
Setelah mendengar perkataan Kevin di perpustakaan, Rere agak menjauh dari Kevin. Dan Kevin merasa kalau Rere menjauhi dia. Hari ini Rere, Lyla dan Valdo menonton film kesukaan mereka dirumah Lyla. Drrtt.. drrtt..
“Re, handphone kamu.” Kata Valdo memberi tau.
Ternyata itu pesan dari Kevin.
“Besok ada acara? Please mau jalan bareng aku. Sebelum kamu pindah.”
“Sorry, Aku banyak acara Vin.” Kata Rere berbohong.
“Yahh.. sayang banget. Kalau kapan – kapan?”
“Aku sibuk ngurusi kepindahan aku. Sorry.”
“Ya udah deh. Kapan berangkat?”
“Minggu depan mungkin.” Setelah itu, Kevin tak membalas pesan Rere lagi.
“Siapa Re?” tanya Valdo yang sedari tadi memperhatikan Rere.
“Bukan siapa – siapa.” Kata Rere berbohong.
---
Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Hingga hari ini Rere harus berangkat pergi ke luar negeri bersama kakaknya.
“Halo? Rere? Nanti jam 2 ya kakak tunggu di bandara. See you.”  Kata Kak Fera. Dan Kak Fera langsung memutus telephon tanpa mendengar adiknya bicara.
Rere sudah siap untuk pergi. Katanya Valdo dan Lyla juga akan ke bandara nanti. Waktu menunjukkan pukul 1 siang. Rere segera berangkat ke bandara. Tiba – tiba kakaknya menelphon jika pesawatnya telat. Rere masih akan berangkat jam 5 sore. Akhirnya Rere memutuskan untuk pergi ke toko buku terlebih dahulu.
Handphone Rere bergetar. Ada pesan masuk yang ternyata dari Kevin.
“Berangkat jam berapa?” tanya Kevin.
“Jam 5 sore.”
Ketika dia masuk toko buku, ternyata buku yang dicarinya sudah tidak ada. Buku yang dulu dia lihat waktu ke toko buku bersama Kevin. Buku novel You’re my everything. Akhirnya Rere membeli buku lain karena buku yang dia cari udah gak ada. Rere segera ke kasir untuk membayarnya. Dia berjalan sambil membaca bukunya. Dan tak sengaja dia menabrak orang.
“Aduh Sorry, saya gak lihat.” Kata Rere pada orang yang ditabrak. Sambil membantu merapikan buku orang tersebut.
“Rere?” kata orang itu.
Mendengar namanya disebut orang itu, Rere langsung melihat ke arah orang yang ditabraknya tadi. “Kevin? Ngapain disini?”
“Seharusnya aku yang tanya. Ngapain disini? Harusnya kamu kan siap – siap, atau nggak udah di bandara.”
“Tadinya jadwal penerbanganku jam 2, waktu diperjalanan aku di kasi tau kalau pesawatnya telat sampai jam 5 sore. Ya aku nyari buku dulu.” Kata Rere menjelaskan.
Setelah merapikan buku masing – masing dan sedikit mengobrol, mereka membawa buku mereka ke kasir untuk dibayar. Setelah itu Kevin menawari Rere untuk makan siang.
“Makan yukk!” ajak Kevin.
“Tapi aku harus ke bandara.”
“Kan berangkat jam 5. Sekarang aja masih jam 2. Mau ya?”
“Ya udah deh.”
Lalu mereka pergi ke tempat makan yang dekat dengan toko buku. Setelah makanan mereka datang, mereka berdua makan dan mengobrol.
“Balik ke Indonesia atau nggak?” tanya Kevin.
“Gak tau.”
“Aku harap kamu kembali nanti.”
“Semoga aja bisa balik.”
“Aku punya sesuatu buat kamu Re.” Kata Kevin sambil mengeluarkan bingkisan dari dalam tas Kevin.
“Apa ini?”
“Buka aja.”
Lalu Rere membukanya. Dan isinya ternyata novel yang Rere cari “You’re my everything” dan ada foto Rere sama Kevin waktu kelas 1 mereka liburan ke pantai.
“Masih nyimpen foto ini?”
“Masih dong.”
“Terus ngapain dikasi ke aku.”
“Kalau di Singapore kangen aku, kan tinggal liat foto itu.”
“PeDe banget kalau aku bakal kangen sama kamu?”
“Emang nggak?”
“Enggak! Sama sekali. Hehehe... berarti, kamu gak punya foto ini lagi dong?”
“Tenang. Udah aku copy kok.”
“Hm.... dari mana kamu dapet buku ini? Tadi aku cari udah gak ada di toko buku.”
“Hm.. kasi tau gak ya?”
“Iiihh kok gitu?”
“Mau tau aja apa mau tau banget?”
“Gak usah sok misterius deh Mr. Kevin.”
“Iyah.. Iyah.. dulu waktu kamu pegang buku itu, aku diam – diam beli buku itu. Keliatannya kamu suka buku itu. Emang sengaja mau aku kasi ke kamu siih setelah ujian.”
“Hm.. makasiih deh.”
“Sama – sama Re.”
Setelah selesai makan, Kevin nganterin Rere ke bandara.
“Masih jam 15.30. masih satu setengah jam lagi berangkat.” Kata Rere.
“Tenang aja. Aku temenin kok sampe kamu berangkat.”
“Gakpapa?”
“Gapapalah. Nyantai aja.”
“Makasih.”
“Sama – sama.”
“Lyla sama Valdo mana ya? Katanya mau dateng.”
“Tunggu dulu aja. Kamu berangkat juga masih lama kan?”
Rere dan Kevin menghabiskan waktu dengan mengobrol. Tak terasa udah hampir jam 5.
“Aku seneng hari ini kamu ketawa bareng aku lagi Re. Meskipun hari ini hari terakhir. Aku sih berharap kamu gak nolak aku Re.”
“Tapi Putri?”
“Putri bukan siapa – siapa lagi. Dulu aku nerima dia karena kasihan kan?”
“Tapi bentar lagi aku pergi jauh.”
“Aku gak peduli Re.”
“Valdo gimana?”
“Jelasin aja sama dia.”
Rere hanya diam. Tiba – tiba Lyla dan Valdo datang. Lyla dan Valdo dengar semua percakapan Rere dan Kevin tadi.
“Valdo? Lyla? Kapan dateng?” tanya Rere.
“Dari tadi.” Kata Lyla.
“Terima aja kalau kamu emang masih suka sama Kevin.” Kata Valdo.
“Kalian dengar?” tanya Rere.
“Iya semuanya.” Kata Valdo.
“Tapi Valdo?” kata Rere masih ragu.
“Aku gakpapa kok kalau kamu emang masih suka sama Kevin.”
Rere diam. Semuanya terdiam, sejenak semuanya terasa hening untuk mereka berempat.
“Maaf Vin. Semuanya udah terlambat sekarang.” Kata Rere memecah keheningan.
“Tapi kenapa Re?”
“Aku gak yakin dengan semua ini. Please hargai keputusan aku.”
“Oke.”
“Kita masih berteman baik kan Vin?”
“Tentu.”
Lalu terdengar panggilan bahwa pesawat Rere akan segera berangkat. Mereka berempat berpelukan dan berjabat tangan.
“Kita pasti kangen kamu Re.” Kata Lyla.
“Jangan lupain kita ya Re.” Kata Valdo.
“Take care Rere.” Kata Kevin.
“Makasih buat semuanya. Makasih udah mau jadi temenku.” Kata Rere hampir menangis.
Setelah berjabat tangan dengan Valdo dan Kevin, tiba – tiba Rere mencium pipi kedua cowok itu. hal itu mampu membuat wajah mereka merah, termasuk Lyla. “Take care ya? See you.” kata Rere dan setelah itu Rere melambaikan tangan dan pergi. Rere menunjukkan tiketnya dan masuk ke pintu menuju lapangan terbang. Kakaknya sudah menunggu sejak tadi.
Valdo, Kevin dan Rere baru pulang setelah pesawat Rere pergi.
~ THE END ~

Rabu, 16 April 2014

Cerpen "Tak kan Pernah Tergapai"

Tak kan Pernah Tergapai
Karya : Ismi Roichatul Jannah  
Berharap itu menyakitkan. Lebih menyakitkan lagi kalau itu hanya sekedar angan yang tak akan pernah nyata. Aku tau, bagaimanapun aku tak mungkin bisa menandingi Puspita. Dia adalah gadis yang baik, cantik, pintar, dan menyenangkan, meskipun agak egois. Semua orang yang mengenalnya pasti akan langsung menyukainya. Aku yang tak punya banyak teman tidak ada apa – apanya dibanding Puspita.
~~~
Hari baru dimulai di sekolah yang baru. Rere Novita Dewi yang biasa dipanggil Rere adalah seorang siswi yang baru saja masuk sekolah menengah atas. Dia adalah anak yang tidak mudah bergaul. Jadi di kelasnya yang baru, dia hanya mempunyai beberapa teman. Rifa Ananda, dan Lyla Anggraeni. Dia juga satu kelas dengan sepupunya sekaligus sahabatnya yaitu Anindya Dwi Puspita.
“Hai, Re..” sapa Puspita ketika Rere masuk kelas.
“Hay juga Puspita. Gak nyangka kita satu kelas.” Kata Rere ramah.
“Duduk sama aku aja Re.” Kata Puspita menawari.
“Ya udah. Makasih.” Kata Rere
Akhirnya Rere duduk bersama Puspita. Toh Puspita adalah sahabat sekaligus sepupuya. Rere sering sekali bercerita masalahnya kepada Puspita. Karena Puspita adalah orang yang Rere percaya selain Lyla.
Setiap hari Rere sering bermain bersama Rifa dan Lyla. Meskipun Puspita juga sahabatnya dan sepupunya, Rere jarang bermain dengan Puspita karena Puspita lebih sering bermain dengan teman – temannya. Waktu istirahat Rere, Rifa dan Lyla mengobrol di depan kelas setelah dari kantin.
“Re, Puspita kan sepupu kamu. Kok kamu jarang kelihatan main sama dia?” tanya Lyla membuka pembicaraan.
“Dia kan punya banyak teman selain aku..” Kata Rere menjelaskan.
“Tapi kamu kan sepupunya Re?” tanya Rifa.
“Terus kenapa kalau aku sepupu Puspita? Aku berbeda dengan Puspita. dia pandai bergaul dan punya banyak teman.” Kata Rere lagi.
“Terus apa masalahnya?” tanya Lyla.
“Aku gak begitu akrab dengan teman Puspita. Jadi biarin aja. Udahlah jangan dibahas.” Kata Rere dengan agak ketus. Lalu meninggalkan Rifa dan Lyla
---
Di sekolah Rere mendapat tugas kelompok dari gurunya. Jadi sepulang sekolah Rere akan kerja kelompok di rumah Bagas. Tapi sebelum ke rumah Bagas, Rere dan teman – temannya pulang dulu untuk ganti baju.
Kebetulan kali ini Rere satu kelompok dengan Puspita, Kevin, Rifa, Bagas dan Aldi. Rere dan Aldi udah ada di rumah Bagas tapi yang lain belum ada yang datang. Akhirnya, Rere mengirim pesan kepada teman – temannya.
Entah bagaimana nomor kontak Kevin bisa ada di hp nya. Padahal dia tidak pernah merasa punya nomornya Kevin.
“Aku kok punya nomernya Kevin yah?” kata Rere pada diri sendiri.
“Kemarin – kemarin kan kamu mintak nomernya Kevin ke Andre.” Kata Aldi mengingatan.
“Hm.. kayaknya gak jadi dikasi deh. Ahh gakpapalah. Ngapain dibuat pusing.” Kata Rere lagi.
Akhirnya beberapa menit kemudian, semuanya udah sampe di rumah Bagas.
“Kalian lama banget. Sumpah. Aku sama Rere nunggu kalian hampir satu jam.” Kata Aldi
“Tadi nungguin Rifa ini yang lama.” Kata Puspita menjelaskan.
“Ya maaf. Habis gak ada yang ngasi tau aku mau berangkat jam berapa.” Kata Rifa membela diri.
“Aku udah kirim ribuan pesan ke kamu kali Fa, tapi gak ada yang masuk satupun.” Kata Rere menjelaskan.
“Ya maaf. Handphoneku tadi mati.” Kata Rere dengan nada memelas.
“Haduh Rifa gimana siihh. Kita telat gara – gara kamu nih” kata Bagas sedikit kesal.
“Ya udahlah. Jadi ngerjain atau nggk niih? Keburu sore nanti..” kata Kevin yang dari tadi hanya memperhatikan semuanya marah pada Rifa.
Setelah menyelesaikan tugas kelompok, Rere dan teman – teman berkeliling sekitar rumah Bagas untuk mencari udara segar. Melepaskan capek setelah mengerjakan tugas yang cukup membuat pusing.
Lalu semuanya berpamit untuk pulang.
“Hati – hati ya Re.” Kata Kevin. Rere tak menjawab apa – apa. Malah Rere keheranan dengan kata – kata Kevin.
Bagas nganter semua temen – temennya sampe depan gang rumahnya. Rere ada di belakang sendiri. Setelah semua temennya pulang, Rere ngomong sebentar sama Bagas.
“Makasih ya Gas.” Kata Rere pada Bagas.
“Iya. Hati – hati Re.” Kata Bagas.
“Hati – hati Re.” Kata Kevin lagi.
Rere heran sekali hari itu. Dia gak pernah tau kalau sebenernya temennya baik – baik. Dan perhatian. Apalagi Kevin yang dari awal masuk kelas X gak pernah akrab sama Rere. Sore – sore, dia sempet sms’an sebentar sama Kevin. Rere masih mikirin sikap temen – temennya. Memang bener kata orang, jangan menilai sesuatu hanya dari covernya. Kita harus mengenalnya lebih baik untuk tau segalanya.
---
“Gimana tadi kerja kelompoknya kemarin Re?” tanya Lyla yang dari tadi sudah menunggu Rere.
“Sempet kacau gara Rifa telat. Ngomong – ngomong kemana itu anak?” tanya Rere
“Gak tau deh. Di kantin mungkin.” Kata Lyla singkat.
“Ya udah masuk kelas yuk.” Ajak Rere.
“Dimas sama Angga gimana Re?” tanya Lyla sambil berjalan menuju kelas.
“Gak tau deh. Gak ada kabar. Gak ada yang ngasi kabar sama aku.” Kata Rere
“Katanya sahabat. Kok gitu siih.” Kata Lyla
“Udahlah yah.. Temanku kan gak mereka aja. Jadi gak usah dibahas.” Kata Rere sedikit ketus. Lyla langsung diam tak menanggapi lagi perkataan Rere.
Di dalam kelas, Puspita ternyata sudah menunggu Rere untuk menanyakan tugas yang kemarin.
“Re, kamu gak lupa bawa tugas yang kemaren kan?” tanya Puspita yang berada disampingnya.
“Enggaklah. Aku bawa kok.” Kata Rere sambil meletakkan tasnya.
Rere sekarang mulai belajar untuk bergaul dengan teman – teman sekelasnya. Tentu saja dengan sedikit bantuan Puspita. Tapi tetap saja Puspita lah yang menjadi pusat perhatian di kelas.
---
Sore hari Rere melihat handphone-nya. Ternyata ada pesan dari Kevin. Hanya membahas tentang pelajaran sekolah siihh... tapi Rere senang bisa membantu.
Sekarang semenjak Rere punya nomernya Kevin, Rere sering sms an sama Kevin. Meskipun gak sering – sering banget. Dan gak tau sejak kapan, Rere seperti punya alasan lagi untuk tersenyum setelah kedua sahabatnya Angga dan Dimas menjauh darinya. Kehadiran Kevin, Kevin Wijaya memberikan senyuman di wajah Rere.
Rere dan Kevin mulai dekat meskipun gak deket banget. Tapi di kelas, Rere merasa diasingkan. Rere melihat Puspita tertawa dan bercanda bareng sama Kevin. Hatinya memang agak sedikit sakit melihat itu. Ekspresi dan nada bicara Kevin pun tampak bersemangat ketika berbicara dengan Puspita. Dari situ, Rere menyimpulkan kalau Kevin mempunyai perasaan sama Puspita. Meskipun Puspita udah punya pacar. Dulu Puspita juga merebut perhatian Dimas dari Rere. Puspita selalu menjadi topik pembicaraan Dimas dan Rere.
“Kenapa harus Puspita lagi? Aku harus ngalah lagi?” kata Rere dalam hati. Rere memang tak seperti Puspita yang cantik dan mudah bergaul. Tapi dia gak suka melihat semua yang diinginkannya selalu didapatkan oleh Puspita. meskipun begitu Rere tak pernah membenci Puspita. Rere tetap menyayangi Puspita sbagai sepupunya. Karna bagaimanapun, Puspita telah banyak membantu Rere.
Biasanya Rere selalu cerita sama Puspita kalau Rere lagi ada masalah. Tapi kali ini Rere gak mau ada yang tau dulu tentang ini. “Selalu Puspita. Kenapa harus sepupuku?” gumam Rere. Rere tak pernah menyalahkan Puspita. Rere tau kalau Puspita mempunyai banyak kelebihan yang membuatnya disukai banyak orang.
Setiap hari Rere melihat Kevin tertawa bersama Puspita. Puspita tak pernah merasa jika Rere mengharap pada Kevin. “Dari sekian banyak teman cowok Puspita, kenapa harus Kevin yang aku lihat tertawa bersamanya?” gumam Rere. Akhirnya Rere mengalah dan menjauh dari Kevin.
---
Tak terasa sudah setahun Rere berada di kelas satu. Dan sudah setahun juga dia memperhatikan Kevin tapi tak pernah mendapat perhatiannya. Beberapa minggu lagi, sekolah Rere mengadakan liburan ke pantai untuk menutup tahun ajaran.
Hari ini Rere beranikan untuk cerita tentang perasaannya sama Kevin kepada salah satu sahabatnya Lyla. Dari dulu tak ada yang tau tentang Rere dan Kevin.
“Jadi kamu suka sama Kevin Re?” kata Lyla setelah mendengar cerita Rere.
“Ini gak seperti yang kamu maksud La, dia itu seperti menjadi pengganti Dimas buat aku. Dimas dan Angga yang udah ngejauh dari aku.” Kata Rere.
“Hm.. terus gimana?” kata Lyla singkat.
“Yah gak gimana – gimana La, Kevin keliatannya suka sama Puspita. ya udah.” Kata Rere pasrah.
“Tapi kan Puspita udah punya pacar setahuku!” kata Lyla menebak – nebak.
“Emang iya. Udah deh jangan dibahas. Aku mohon jangan cerita siapa – siapa La. Cuma kamu aja yang tau. Aku percaya sama kamu.” Kata Rere.
“Oke deh Rere.”
---
Akhirnya waktu liburan pun tiba. Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya sampai juga di tempat tujuan. Setelah sampai di pantai, semuanya langsung berlarian. Ada yang foto – foto, main pasir. Kali ini Rere bawa kamera. Dan entah gimana caranya, Rere dapet kesempatan foto bareng Kevin. Rere seneng banget.
“Makasih Vin. Buat kenang – kenangan.” Kata Rere pada Kevin.
“Sama – sama.” Balas Kevin
“Btw, senyum kamu gak ikhlas banget siih..” gurau Rere.
“Yaelah. Gak makasih malah ngeledek.” Kata Kevin
“Tadi kan aku udah bilang makasih Kevin. Perlu aku ulang? MAKASIH KEVIN.” Kata Rere sambil menekan kata ‘makasih’.
Kevin langsung pergi bermain tanpa menghiraukan Rere. Rere seneng banget dapet foto berdua sama Kevin. Meskipun Rere tau harapannya sama Kevin tak akan pernah tercapai. Setelah itu Lyla menghampiri Rere.
 “La, aku dapet foto bareng Kevin.” Kata Rere kegirangan.
“Seneng niih. Buat kenang – kenangan.” Kata Lyla
“Hehehe.. mengaharapkan Kevin itu lebih sakit dari pada mengharapkan Dimas La. Dimas bukan hanya sekedar mimpi, dia pernah jadi bagian dari hidupku. Tapi Kevin? Dia hanyalah mimpiku yang tak akan pernah bisa aku gapai sampai kapanpun.” Kata Rere mencoba ikhlas.
Lalu Rere dan Lyla menghabiskan waktu foto – foto bersama baren temen – temen lainnya.
~ THE END ~

Rabu, 19 Februari 2014

Naskah Drama



PERSELISIHAN YANG BERAKHIR BAHAGIA
April adalah anak yang selalu merasa dirinya paling cantik di sekolah. Tapi sayangnya dia sombong, dan karna kesombongannya itu ia tidak mempunyai teman. Berbeda sekali dengan Agustin. Agustin adalah anak yang baik dan juga cantik. Dan Agustin juga mempunyai banyak teman. Karena hal itu, April sangat benci kepada Agustin.
April    : “Aku adalah anak paling cantik di sekolah ini.”
Tiba – tiba Mei, Okta, Agustin dan Geny datang
       Mei      : “Dasar sok cantik, padahal Agustin lebih cantik daripada kamu.”
       Geny   : “Iya benar.”
       Okta    : “Agustin sudah cantik, baik lagi.”
       Mei      : “Iya, gak kayak kamu sombong.”
            April    : “Eh, kalau bicara jangan sembarangan ya! Emang kamu siapa berani bicara gitu ke aku?”
            Agustin: “Sudah jangan bertengkar. Maafkan teman – temanku ya April?”
April langsung pergi dan tidak menghiraukan perkataan Agustin. Saat April berjalan ke kantin, ia bertemu dengan Vebry.
            Vebry  : “Kenapa kamu benci sama mereka?”
            April    : “Aku tak suka dengan Agustin yang sok baik.”
            Vebry  : “Memang dari dulu dia begitu.”
            April    : “Kamu juga benci sama dia?”
            Vebry  : “Menurutmu?”
            April    : “Kelihatannya sih gitu. Ya sudahlah ayo kita ke kantin.”
Saat tiba di kantin Vebry & April bertemu dengan Agustin & teman-temannya.
            Geny   : “Kenapa Vebry si anak baru itu bisa sama April?”
            Okta    : “Mungkin sekarang mereka berteman.”
            Mei      : “Sepertinya begitu.”
            Agustin: “Sudah dong, jangan suka ngomongin orang. Gak baik.”
Mendengar  percakapan mereka, April dan Vebry langsung menghampiri Agustin dan teman – teman.
            Vebry  : “Hey, ngomongin apa kalian?”
            April    : “Berani banget kalian ngomongin kita berdua?”
            Mei      : “Memangnya kenapa? Kita gak takut sama kalian.”
            Vebry  : “Jangan pernah bentak-bentak kita ya!”
            Okta    : “Diam saja kamu. Baru sekolah di sini udah ikutan sombong.”
Agustin: “Sudah – sudah. Kalian itu setiap ketemu bertengkar terus. Sekarang kalian baikan.”
            April    : “Enak saja, gak mau!”
            Geny   : “Kita juga gak mau baikan sama kalian.”
            Vebry  : “Udah ayo kita pergi saja April. Bosen liat mereka.”
Keesokan harinya April & Vebry bertemu dengan Agustin dan teman-temannya, mereka  berniat memecah persahabatan Agustin & temen – temannya.
       April    : “Hai Vebry kamu tau ga sih Okta itu bilang kalau Agustin itu sok baik.”
       Vebry  : “Oh ya?”
Agustin dan teman-temannya mendengar percakapan April dan Vebry
       Agustin: “Apa benar kamu bilang begitu Okta??”
       Okta    : “Nggak aku ga bilang gitu.”
       April    : “Iya emang , aku loh denger sendiri kok.”
       Okta    : “Kamu jangan fitnah dong.”
       Vebry  : “Ngaku aja deh.”
Okta    : “Jangan ngada-ngada deh kamu, kamu pasti ingin memecah belah persahabatan kita.”
       Mei      : “Iya, pasti itu cuma akal-akalan kalian saja.”
       Agustin: “Udah jangan bertengkar itu cuma kesalah pahaman aja.”
Tanpa menghiraukan perkataan Agustin, April & Vebry langsung pergi meninggalkan mereka.Keesokan harinya Agustin, Mei, Okta dan Geny bertemu dengan Vebry. Tapi mereka tidak melihat April.
            Geny   : “Kemana si April?”
            Vebry  : “Emang kenapa kalian nanyain April? Penting buat kalian?”
            Mei      : “Nanya baik – baik jawabnya malah gitu.”
            Agustin: “Memangnya April kemana kok belum datang?”
            Vebry  : “Dia sakit. Kenapa?”
            Okta    : “Mana mungkin orang sombong kayak dia bisa sakit.”
            Geny   : “Iya, bener.”
            Agustin: “Sudah, bagaimana kalau kita nanti menjenguk April.”
            Okta    : “Ngapain kita jenguk dia! Dia kan sombong, sering jahatin kamu lagi Agustin.”
            Agustin: “Tapi bagaimanapun April tetap teman kita.”
            Mei      : “Ya udah dech. Kita ikut saja.”
Sepulang sekolah Agustin, Mei, Vebry, Okta dan Geny pergi ke rumah April untuk menjenguknya.
            Agustin: “Assalamualaikum.”
            April    : “Waalaikumsalam.” (Sambil menghampiri Agustin & teman – teman)
            Agustin: “Bagaimana keadaanmu April?”
            April    : “Aku sudah agak baikan. Kalian menjengukku?”
            Mei      : “Kamu pikir kita ngapain ke sini kalau bukan ngejenguk kamu?”
            April    : “Kalian tidak marah dengan ku dan Vebry?”
            Agustin: “Kenapa kita harus marah sama kamu?”
            Vebry  : ”Aku dan April kan sudah jahat sama kalian?”
            Agustin: “Kita semua udah maafin kalian berdua kok. Iya kan teman-teman.”
            Mei      : “Iya aku sudah  maafin kalian.”
            Okta    : “Iya, aku juga.”
            Geny   : “Aku juga udah maafin kalian.”
            Vebry  : “Terimakasih ya kalian semua udah mau maafin kita.”
            Agustin: “Itulah gunanya teman.”
April    : “Iya terimakasih ya, kalian memang teman – teman terbaikku.”
Vebry  : “Temen aku juga dong.”
Akhirnya setelah mereka berselisih cukup lama, sekarang mereka semua bersahabat untuk selamanya.