Selasa, 15 September 2015

Cerpen "The First Rain"

The First Rain
Hari ini adalah hari pertama Rey Ferdinand pindah ke sekolah barunya. Rey harus tinggal bersama dengan kakaknya karena orang tuanya harus pindah jauh dan Rey tidak mau ikut dengan orang tuanya. Rey memilih tinggal dengan kakaknya meskipun akhirnya dia juga harus pindah sekolah.
Sepertinya, hari ini Rey terlalu pagi untuk datang ke sekolah.
“Kayaknya salah nih dateng jam segini.” Kata Rey pada diri sendiri.
Saat matanya sibuk melihat sekeliling sekolahnya yang baru, tiba – tiba... Brakkk..
“Maaf.” Kata seseorang yang menabrak Rey tadi sambil membereskan bukunya yang terjatuh.
Rey membantu orang yang menabraknya tadi untuk membereskan bukunya. “Saya juga minta maaf. Tadi gak lihat jalan.” Kata Rey sambil memberikan buku milik orang yang tadi ditabraknya.
“Terimakasih. Permisi.” Kata orang yang menabrak Rey. Sekilas orang tersebut menatap Rey lalu langsung pergi.
---
Sejak pagi, mentari sudah terhalang oleh awan hitam yang siap menjatuhkan airnya kapan saja. Membuat suasana masih terlihat sangat pagi. Namun hal itu tidak membuat gadis blasteran Indonesia-Inggris yang bernama Meisya Wilson menjadi malas. Meisya berangkat sekolah sejak pukul 6 pagi.
Saat Meisya memasuki kelas, sudah ada Dwi Ariani—teman Meisya dan beberapa murid lainnya.
“Tumben dateng pagi Mei?” tanya Dwi.
“Belom ngerjain PR. Nyontek dong!”
“Dikirain udah tobat sekarang dateng pagi. Eh—ternyata modus dateng pagi.”
“Ngomelnya nanti aja ya Dwi sayang. Kamu kan sahabatku yang paling baik.” Kata Meisya dengan nada yang manis untuk merayu Dwi. Dwi meberikan bukunya untuk di contek Mei.
“Gak mungkin banget si Mei dateng pagi kalo gak ada maksudnya. Biasanya juga datengnya mepet – mepet bel masuk.” Kata teman Mei yang lain.
“Udah deh Jo. Jangan cari gara – gara pagi – pagi kayak gini. Emang kenapa kalo gue dateng pagi cuma buat ngerjain PR? Masalah buat lo?” kata Mei menanggapi perkataan Jonathan.
“Tiap ada PR selalu nyontek. Kalo gitu mending gak sekolah lo?” kata Jonathan pada Mei.
“Kayak lo gak nyontek aja. Asal lo tau ya.. Ini pengecualian buat pelajaran kimia si guru chiller. Gue gak minat ngerjain sendiri pelajaran kimia.” Kata Mei tambah nyolot.
“Udah kalian berdua selalu gak pernah tenang. Mei kerjain aja PR kamu.” Kata Dwi menengahi.
            Mei mengerjakan PR kimianya dengan cepat sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Atau kalau enggak, Mei akan dihukum berdiri di bawah tiang bendera sampai jam istirahat. Jam pertama berlalu dengan sangat membosankan. Bukan hanya Mei, tapi semua satu kelas merasakan hal yang sama.
Tettt... Tett... Tett...
“Ye... Istirahat.”
“Jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian.” Kata guru kimia menjelaskan.
“Hadehh... kapan sih nih guru gak ngasi PR. Capek ngerjain kimia mulu. Kalau PR kamu udah selesai, aku nyontek ya Dwi... Kamu kan baik.” Kata Mei mengeluh sekaligus merayu Dwi lagi.
“Selalu gitu.” Kata Dwi menimpali.
Setelah itu Mei langsung lari keluar kelas. “Ehh Mei mau kemana?” tanya Dwi.
“Mau ke perpus. Mau pinjem buku buat ulangan fisika besok.” Kata Mei.
“Tapi aku mau ngomong dulu.”
“Udah nanti aja. Sekarang aku ke perpus dulu. Bye! Jangan kangen sama aku ya?” Mei lari keluar diikuti suara tawanya.
---
Mei memasuki perpustakaan dan mencari buku yang ingin dia pinjam. Tapi saat dia asik mencari buku, ada yang menggangu.
“Ngapain lo? Mau pinjem buku? Emang lo pernah belajar?” kata Jonathan meledek Mei.
Mei tidak memerhatikan perkataan Jonathan dan  tetap mencari bukunya.
“Sok rajin banget lo. Emang lo peduli kalo besok ulangan?” kata Jonathan lagi.
“Lo jangan cari gara – gara ya! lo jadi orang jangan nyebelin dong.” Kata Mei dengan nada tinggi.
Penjaga perpustakaan mendengar pertengkaran Jonathan dan Meisya. Jonathan dan Meisya langsung diusir keluar dari perpustakaan. Mereka jalan beriringan menuju kelas, di jalan.. mereka berdua tetap berantem dan tidak melihat jalan yang di depannya. Dan mereka berdua menabrak sesuatu. Meisya dan Jonathan melihat siapa yang baru saja mereka tabrak. Keduanya terbelalak setelah melihat siapa yang mereka tabrak.
“Hadduuhh.. si chiller!” kata Mei dalam hati.
“Kali kalau jalan itu lihat ke depan. Kalian berdiri di bawah tiang bendera sampai jam pulang sekolah.”
“Tapi Bu...” “Tidak ada yang membantah.” Sebelum Jonathan menyelesaikan perkataannya, Bu Riska sudah memotong pembicaraannya.
“Saya gak sengaja Bu. Ini nih bu gara – gara Jo.” Kata Mei menyalahkan Jo.
“Enak aja. Lo yang gak liat jalan.” Kata Jonathan menyalahkan Mei.
“Sudah! Cepat kalian berdiri di bawah tiang bendera.” Kata Bu Riska.
“Tapi kayaknya bentar lagi hujan Bu.” Kata Mei.
“Lalu? Daripada kalian kepanasan. Cepat!” kata Bu Riska tegas.
Meisya dan Jonathan terpaksa menjalani hukuman yang menurut mereka gak adil. Tapi itulah yang harus dilakukan jika melakukan kesalahan apalagi sama guru ‘chiller’. Saat di tengah hukuman, Jonathan dipanggil untuk menemui guru BK yang artinya Jonathan selamat dari hukuman. Sekarang tinggal Meisya sendirian. Dan bel pulang sekolah tinggal 15 menit lagi. Namun, hujan sudah turun dengan deras dan membuat seluruh badan Meisya basah.
Teett... Teett.. Teett.. Teett.. bel pulang sekolah berbunyi.
Meisya kembali ke kelasnya untuk mengambil tas dan barang – barangnya. Semua temannya sudah pulang. Dwi juga sudah tidak ada di kelas. Setelah itu, Meisya menunggu jemputan di luar sekolah sambil hujan – hujanan. Entah hanya perasaan Meisya atau memang laki – laki yang dari tadi berteduh di depan kelas memperhaikannya.
Tiba – tiba..
“Ngapain lo hujan – hujanan? Masa kecil lo gak menyenangkan sampe – sampe sekarang lo main hujan – hujanan.” Kata Jonathan meledek Meisya. Meisya tidak menjawab, Meisya menyimpan tenaganya karena sudah kedinginan.
“Gue lagi baik sama lo. Lo mau bareng gak?” tanya Jonathan. Tapi Meisya tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Jonathan. “Ya udah kalo gak mau.” Jonathan langsung meninggalkan Meisya.
---
Kelas Rey berada di dekat lapangan upacara. Sedari istirahat, Rey memperhatikan dua orang yang dihukum di bawah tiang bendera. Rey memerhatikan sosok perempuan yang sedari tadi dilihatnya terus – terusan bertengkar dengan laki – laki disebelahnya yang sedang dihukum juga.
“Mereka siapa?” tanya Rey pada temannya.
“Mereka? Mei sama Jonathan? Mereka udah sering dihukum kayak gitu.” Kata teman Rey.
“Sering?” tanya Rey heran.
“Iya itu karena ulah mereka sendiri. Mereka selalu berantem. Dan itu yang membuat mereka sering dihukum. Mereka udah satu kelas sejak awal masuk sekolah ini.” Kata teman Rey menjelaskan.
Sepulang sekolah, Rey menunggu hujan reda di depan kelasnya. Matanya menemukan sosok yang sedang berdiri di depan sekolah dan sedang hujan – hujanan. Sosok itu adalah orang yang sama yang Rey lihat di lapangan upacara tadi ketika perempuan itu di hukum.
Entah apa yang menarik dari diri perempuan yang sedari istirahat tadi Rey perhatikan. Rey merasa ada yang tidak asing pada diri perempuan itu. Rey menghampiri perempuan yang sedang kehujanan itu. Rey memayungkan tasnya agar dia tidak kehujanan.
“Kenapa tidak berteduh?” Rey bertanya saat dia sudah di sebelah perempuan yang sedari tadi dia perhatikan. Meisya langsung melihat orang yang berbicara di sebelahnya.
“Aku?” kata Mei bertanya seperti orang bodoh.
“Ya. kau! Kenapa tidak berteduh?” tanya Rey lagi.
“Seragamnya juga udah basah. Ngapain berteduh.” Jawab Mei enteng.
“Gak takut sakit?”
Bukan menjawab pertanyaan Rey, Mei malah melihat Rey dengan tatapan aneh. Membuat Rey risih. “Kenapa?” tanya Rey lagi.
“Kamu anak baru? Kok gak pernah lihat?” pertanyaan Rey dijawab dengan pertanyaan pula dari Mei.
“Oh ya.. Aku Rey.” Rey mengucapkan salam kenal dan mengulurkan tangannya.
Mei melihat uluran tangan Rey dan sedikit berpikir sebelum akhirnya dia menerima uluran tangan Rey. “Meisya.” Kata Mei menyebutkan namanya sambil tersenyum.
---
Sesampainya di rumah, Mei langsung mandi dan ganti baju. Setelah itu, Mei langsung menghadap bukunya di meja belajar untuk mengerjakan PR kimianya. Buku kimianya memang sudah dibuka, namun hanya diletakkan disampingnya. Sedangkan, tangannya menulis sesuatu di buku yang lain.
The First Rain on 2014
Aku selalu tidak suka hujan. Apalagi hujan pertama saat baru masuk musim hujan. Setiap hujan pertama turun, aku selalu mengingatnya. Mengingat kejadian saat dimana aku mendapatkan buku ini.
Tapi hari ini, saat hujan pertama turun.. Aku bisa tersenyum di bawah tetesan airnya.. Karena seseorang yang baru kukenal.
Mei memikirkan lagi saat dia bertemu dan berkenalan dengan Rey. “Kenapa tiba – tiba anak baru itu nyamperin aku ya?” pikir Mei.
Mei tertidur di atas meja belajarnya. Akhirnya, paginya Mei terburu – buru dan memasukkan semua buku yang ada di atas meja belajarnya.
Sesampainya di sekolah, Mei langsung berlari menuju ke perpustakaan.
“Mei mau kemana?” tanya Dwi yang berteriak pada Mei.
“Mau ke perpustakaan dulu. Mau ngembaliin buku.”
Karena 10 menit lagi bel masuk, Mei cepat – cepat mengeluarkan buku yang ingin dia kembalikan dan kembali ke kelas sebelum dia telat dan mendapat hukuman lagi.
---
Pagi ini Rey berangkat sekolah agak pagi karena harus pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Setelah menemukan buku yang ingin dipinjam, Rey membawanya. Saat akan keluar dari perpustakaan, Rey melihat seseorang menjatuhkan buku dari dalam tasnya. Rey ingin mengembalikannya, tapi orang itu sudah lari. Akhirnya, Rey mengambilnya dan berniat akan mengembalikannya nanti.
Rey penasaran dengan isi buku yang dia temukan tadi. Rey membuka buku bersampul pink yang ia temukan tadi. Dan Rey menemukan nama pemilik buku itu.
---
Setelah sampai di kelas, Mei langsung duduk di sebelah Dwi dengan nafas terengah – engah. Untungnya Mei tepat waktu. Sebelum pelajaran pertama di mulai, Mei sudah ada di kelas. Di kelas, Mei memerhatikan teman sebangkunya—Dwi yang sedari tadi gak fokus senyum – senyum sendiri. Padahal sedang ada pelajaran matematika, dan faktanya Dwi tidak pernah melewatkan pelajaran matematika sedikitpun.
“Dwi!” panggil Mei.
“Hm.. Apa?” tanya Dwi.
“Kamu kenapa sih?”
“Gakpapa.”
“Gakpapa apanya? Dari tadi senyum – senyum sendiri.”
“Dari kemaren aku mau cerita sama kamu tapi kamu ke perpustakaan.” Kata Dwi berbicara kepada Mei dengan sedikit berbisik.
“Emang mau cerita apa’an? Sampe senyum – senyum gitu.”
“Kamu tau atau belom kalo ada murid baru di sekolah kita?”
“Kelas berapa? Kelas 10 apa kelas 12?”
“Emang kelas 10 ada siswa baru?”
“Ada. Aku juga gak tau kenapa dia baru masuk sini di tengah semester. Kalo gak salah sih dia adiknya Rey.”
“Apa? Rey siapa?”
“Anak baru di kelas 12. Anak cowok yang katanya pinter itu?”
“Kamu kok tau namanya?”
Kemaren aku ketemu sama dia waktu pulang sekolah!”
“Apa?” Dwi berbicara terlalu keras dan membuat guru matematika yang sedang mengar di kelas menjadi menoleh ke arahnya.
“Kenapa Dwi?” tanya guru.
“Mm.. gakpapa Pak.” Jawab Dwi.
“Paling itu ulah Mei yang ganggu Dwi, Pak.” Kata Jonathan tiba – tiba berbicara.
“Eh—kok lo nyamber – nyember aja sih. Jangan sok tau deh.” Kata Mei marah.
“Kalo bukan lo yang ganggu Dwi siapa lagi? Dwi kan anaknya pendiam dan selalu dengerin pelajaran. Gak kayak lo.” Kata Jonathan mengejek Mei.
“Eh kayak lo kerajinan aja.” Jawab Mei.
“Sudah.. Mei.. Jonathan.. kalian sering sekali buat keributan di kelas.”
“Mei yang selalu buat keributan, Pak!” kata Jonathan.
“Enak aja. Jo duluan yang mulai, Pak!” kata Mei gak mau kalah.
“Sudah. Kalian ini selalu saja seperti ini. Kalian berdua berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai. Cepat! Sekarang.”
Mei dan Jonathan terpaksa keluar kelas dan berdiri di depan kelas. Saat berdiri di depan kelas, Mei melihat Rey yang masuk ke kelas sebelah. Rey melihatnya, dan Mei hanya tersenyum melihat tatapan Rey.
---
Rey pergi ke kelas XII-MIA 1 untuk memberikan tugasnya kepada seorang guru. Saat akan memasuki kelas XII-MIA 1, Rey melihat Mei dan satu orang lagi bersama Mei sedang ada di depan kelas XII-MIA 2. Rey melihat Mei yang sedang di hukum, Mei memberikan senyum pada Rey. Kebetulan saat Rey akan masuk kelas XII-MIA 1, bel pergantian jam sudah berbunyi. Jadi Rey menunggu guru yang ada di kelas XII-MIA 1 keluar.
Saat menunggu, guru di dalam kelas XII-MIA 1 keluar.
“Ternyata pelajaran matematika. Tapi kenapa mereka di luar? Apa mereka dihukum lagi?” pikir Rey.
Rey mendengarkan perkataan guru matematika itu terhadap Mei dan Jonathan.
“Kalian berdua, temui saya nanti saat jam istirahat di ruang guru.”
“Baik, Pak!” jawab Mei dan Jonathan bersamaan.
Setelah guru matematika sudah pergi, Mei dan Jonathan bertengkar sebelum masuk ke dalam kelas. Dan Rey melihat Mei dan Jonathan sedang beradu mulut.
“Ini semua gara – gara lo.” Kata Jonathan.
“Kenapa nyalahin gue? Lo yang ikut campur masalah gue sama Dwi.”
Bu Dian—guru yang baru saja mengajar kelas XII-MIA 1 keluar, membuat Rey mengalihkan perhatiannya dari Jonathan dan Mei kepada Bu Dian.
“Ada apa Rey?” tanya Bu Dian.
“Ini Bu saya mau mengumpulkan tugas.” Rey memberikan kertas tugasnya kepada Bu Dian.
Perhatian Bu Dian teralihkan oleh pertengkaran Mei dan Jonathan.
“Mei.. Jo..” kata Bu Dian menegur Mei dan Jonathan.
Mei dan Jonathan tersenyum melihat Bu Dian lalu masuk ke dalam kelas.
“Saya permisi Bu.” Kata Rey.
Saat kembali ke kelas, ternyata guru yang mengajar kelas Rey—XII-MIA 5 belum datang ke kelas. Rey mengobrol dengan temannya.
“Lo kenal yang namanya Meisya Wilson?” tanya Rey pada temannya.
“Emang kenapa? Dari kemaren lo tanya tentang Mei terus. Lo suka sama dia?” kata teman Rey.
“Dari kemaren? Maksudnya?” tanya Rey tidak mengerti.
“Meisya Wilson is Mei. Dia yang selalu dihukum bareng Jo.” Kata teman Rey menjelaskan.
“Gue gak tau kalau nama lengkapnya Mei itu Meisya Wilson.”
---
“Mei, maaf ya.. gara – gara aku, kamu jadi dihukum.”
“Nyantai aja kali Dwi. Aku kan udah biasa dihukum. Ini bukan gara – gara kamu. Tapi ini semua itu salahnya Jo. Udahlah gak usah dibahas. Tadi kenapa tiba – tiba berteriak gitu?”
“Kamu tau nama anak baru di kelas MIA 5?”
“Rey?”
“Iya.”
“Aku kenalan sama dia kemaren.”
Dwi hanya diam. Lalu Mei yang bicara lagi. “Kamu suka ya sama Rey?” goda Mei.
“Eng—Eng-Enggak.”
“Gak usah bohong.” Goda Mei lagi.
“Aku mau ke perpustakaan dulu.” Kata Dwi mengelak dan langsung pergi.
---
“Dwi, nanti aku ke rumah kamu ya mau belajar bareng.” Kata Mei pada Dwi.
“Maaf. Aku gak bisa.” Jawab Dwi.
“Lho kenapa?”
“Aku ada acara.”
Beberapa saat sebelumnya....
“Hay.” Kata salah satu siswa yang menyapa Dwi di perpustakaan. Dwi kaget melihat siapa yang baru saja menyapanya. Melihat reaksi Dwi yang tidak merespon, Rey menjadi heran.
“Kamu gakpapa?” tanya Rey pada Dwi. Pertanyaan Rey membuat Dwi menemukan kembali kesadarannya.
“Eh—Iya gakpapa.” Jawab Dwi sedikit gugup.
“Kamu anak kelas MIA 2 kan?” tanya Rey.
“Iya.”
“Berarti kamu tau Meisya dong?”
Dwi terkejut mendengar nama sahabatnya disebut oleh yang membuatnya kagum. “Iya memangnya kenapa?” tanya Dwi akhirnya. Raut wajahnya berubah ketika nama sahabatnya disebut – sebut.
“Gakpapa sih. Cuma nanya aja! Aku duluan ya.
Setelah itu, Rey pergi meninggalkan Dwi.
---
Rey melihat Mei sedang duduk membaca sebuah buku di perpustakaan. Rey masuk ke dalam dan menghampiri Mei.
“Hai Mei..” Sapa Rey.
“Oh.. Hai Rey.” Jawab Mei.
“Lagi baca apa?” tanya Rey.
“Baca novel. Aku bukan anak rajin yang tiap hari bacaannya buku pelajaran.”
“Suka baca novel?” tanya Rey.
“Iya daripada baca buku pelajaran.”
“Dari tadi nyambunginnya sama pelajaran terus. Kayaknya otak kamu perlu di refresh biar gak selalu ngomong kata ‘pelajaran’.”
“Iya emang otakku itu gak pernah di refresh sejak masuk sekolah ini. Tiap hari mikirin pelajaran yang gak aku ngerti.”
“Gimana kalo lusa kita nonton. Ada film baru yang bagus di bioskop. Gimana?” kata Rey menawari.
Mei tidak menjawab tawaran dari Rey. Malah Mei menatap Rey aneh. “Kenapa ngeliatinnya kayak gitu?” tanya Rey.
“Lo ngajak gue nge-date?” tanya Mei, tapi hanya bercanda.
“Cuma nonton. Terserah kamu nyebutnya apa!”
“Tapi....” Mei memikirkan sesuatu dan tidak meneruskan kata – katanya.
“Gak ada tapi. Pokoknya lusa kita nonton.”
“Lah kok maksa?”
Ditengah pembicaraan Rey dan Mei, tiba – tiba Jonathan datang dan menyela.
“Heh.. Ini perpustakaan, bukan tempat pacaran.” Kata Jonathan pada Mei dan Rey.
“Sirik aja lo.” Kata Mei yang sedang malas berdebat dengan Jonathan.
---
Hari ini, Rey pergi ke rumah Mei. Saat memasuki kompleks perumahan, Rey mengecek alamat Mei yang dia dapat dari temannya. Setelah mencari, akhirnya Rey menemukan rumah Mei.
“Permisi..”
Seseorang datang membukakan pintu...
“Iya mas, nyari siapa ya?” tanya orang paruh baya yang membukakan pintu.
“Mei. Mei nya ada?” tanya Rey.
“Ada. Sebentar ya, Mas.” Kata wanita paruh baya tadi.
Setelah beberapa lama, Mei keluar menemui Rey. Dari ekspresinya, sepertinya Mei kaget melihat Rey ada di depan pintu rumahnya. “Rey?” kata Mei dengan nada tinggi.
“Hay.. Kamu belum siap?” tanya Rey. Mei heran mendengar perkataan Rey.
“Siap?” kata Mei tidak mengerti.
“2 hari yang lalu kan kita janjian mau nonton.” Kata Rey dengan nada ringan.
“Aku kira itu hanya bercanda. serius?”
“Ya ini aku udah disini. Masak aku harus pulang sia – sia?”
“Baik. Tunggu!” Mei langsung lari masuk ke dalam. Sekitar 5 menit, Mei sudah berganti baju dan siap untuk pergi.
Sesampainya di gedung biosop..
“Tau dari mana alamat rumahku?” tanya Mei pada Rey.
“Itu gak penting. Anggep aja aku ini fans kamu jadi aku tau segalanya tentang kamu.” Mei tertawa mendengar perkataan Rey. Lalu Mei dan Rey masuk ke gedung bioskop.
Itu adalah awal kedekatan antara Rey dan Mei. Mei lupa dengan perasaan Dwi yang menyukai Rey. Dan sepertinya, Mei mulai merasakan rasa yang sama seperti yang dialami Dwi pada Rey. Setelah kejadian ini, Mei dan Rey semakin dekat dan sering jalan berdua.
---
“Dwi.. Dwi...” Mei memanggil Dwi dari kejauhan. Mei melihat Dwi berjalan ke arah lapangan basket. Mei yakin suaranya sudah cukup keras. Tapi mungkin Dwi tidak mendengarnya. Karena Dwi tidak menghiraukannya, Mei pergi ke kelas karena beberapa menit lagi sudah bel masuk kelas.
“Kamu dari mana tadi Dwi?” tanya Mei ketika Dwi masuk kelas.
Betapa kagetnya Mei dengan sikap Dwi. Dwi tidak menghiraukan Mei. “Jo, tuker tempat duduk dong.” Kata Dwi pada Jonathan.
“Ogah.” Jawab Jonathan santai.
“Reva, tuker tempat duduk ya?” kata Dwi pada Reva—teman sebangku Jonathan—
Tettt... Tett.. Tett.. Tett...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Tapi Mei belum membereskan buku – bukunya. Kebetulan Jonathan juga belum pulang.
“Kenapa lo belum pulang?” tanya Mei pada Jonathan.
“Ngapain lo nanya – nanya? Gue emang udah sering pulang belakangan. Nah lo kenapa?” Jonathan bertanya balik kepada Mei.
“Em---.” Mei menimbang – nimbang untuk bertanya sesuatu kepada Jonathan. Setelah berpikir akhirnya Mei melanjutkan kata – katanya “Em—lo tau Dwi kenapa? Dia kayaknya marah sama gue. Bener – bener marah. Gue gak pernah liat Dwi semarah itu sama siapapun. Lo tau?”
Dengan entengnya, Jonathan menjawab. “Enggak.”
“Haahh.. Percuma ngomong sama lo.” Mei menyesali keputusannya untuk cerita kepada Jonathan.
“Lagian siapa yang nyuru lo ngomong sama gue?” kata Jonathan. Mei langsung pergi meninggalkan Jonathan sendirian di kelas.
Di luar sekolah, Mei bertemu dengan Rey.
“Mau pulang Mei?” tanya Rey.
“Iya. Ini mau minta jemput.” Jawab Mei. Tiba – tiba Jonathan keluar dari sekolah dengan motornya.
“Gimana kalo barengan aja. Rumah kita searah kan? Dan kalo kamu mau, kita bisa makan dulu sebelum pulang.”
“Hm.. Boleh juga... Kalo gak ngerepotin..”
“Gak papa lagi Mei. Ayo!” ajak Rey.
---
“Sampai kapan kamu nyimpen semuanya?” tanya seorang cewek kepada cowok yang duduk di sebelahnya.
“Maksud lo?” tanya cowok pada cewek.
“Kamu simpen perasaan kamu mulai dari kecil. Sampai sekarang kamu terus menyimpan semuanya rapi – rapi. Sebentar lagi, kamu pasti kehilangan Mei.” Kata cewek memberikan penjelasan kepada cowok.
“Maksud lo kehilangan?”
“Kamu pasti tau akhir – akhir ini Mei dekat dengan Rey. Cinta kamu akan sia – sia kalau kamu gak bilang sama Mei sekarang juga. Kamu harus bilang sama dia Jo.”
“Lo bilang gini karena sebenernya lo suka sama Rey kan? Lo sekarang ngejauh dari Mei karena Mei deket sama Rey kan. Gue pasti akan bilang tentang perasaan gue, nanti. Lo gak seharusnya perlakuin Mei kayak gitu. Mei selalu baik sama lo. Mei juga hanya dekat dengan Rey. Gak ada status apa – apa diantara mereka. Kalo lo emang sahabatnya Mei, lo seharusnya bisa jelasin semuanya sama Mei. Kalo lo nyuru gue kesini cuma buat ngomong itu, itu gak penting. Tentang perasaan gue sama Mei itu urusan gue sendiri. Lo pikirin persahabatan lo sama Mei. Jangan hanya karena Rey persahabatan lo berdua hancur.”
“Aku pikirin itu nanti. Aku pulang dulu.” Dwi keluar dari kafe. Di luar kafe, Dwi melihat sesuatu yang membuat hatinya semakin sakit.
---
Rey mengajak Mei makan di sebuah kafe sebelum pulang. Mei menurut karena sebenarnya perutnya juga sudah lapar karena tidak makan saat jam istirahat. Rey memarkir motornya dan masuk ke dalam kafe.
Mei seperti melihat sosok yang dia kenal baru keluar dari kafe. “Dwi...Dwi...” kata Mei berteriak. Tapi, orang yang dipanggilnya tidak menengok. Mungkin itu hanya perasaan Mei saja...
“Kenapa?” tanya Rey.
“Gakpapa. Orang itu mirip temenku.” Jawab Mei.
Rey dan Mei masuk dan memesan makanan. Setelah pelayan pergi, Jonathan pergi. Tapi Mei melihatnya dan memanggilnya.
“Jo!” panggil Mei. Jonathan menoleh.
“Lo?” Jonathan bingung dan gelisah melihat Mei di dalam kafe.
“Lo kesini sama siapa? Atau tadi yang gue liat bener – bener Dwi?” kata Mei pada Jonathan.
“Ngomong apa sih lo?” jawab Jonathan.
“Lo kesini sama Dwi? Tadi gue panggil dia tapi gak nengok. Lo pasti tau kenapa dia hari ini? Kenapa sikapnya sama gue?” kata Mei lagi.
“Jawab dong Jo. Dwi itu sahabat gue.” Kata Mei lagi setelah tidak mendapat jawaban apapun dari Jonathan.
Akhirnya Jonathan menjawab semua pertanyaan Mei. “Iya gue kesini ketemu Dwi.” Jonathan menghembuskan nafas panjang. “Sekarang lo pikir apa yang bisa ngebuat sikap Dwi ke lo itu berubah. Lo sahabatnya kan? Seharusnya lo ngerti.”
“Maksud lo apa? Gue gak ngerti.” Tanya Mei. Rey hanya melihat perdebatan antara Jonathan dan Mei.
“Sekarang lo sadar gak lo lagi jalan sama siapa? Hari ini lo makan bareng siapa?” kata Jonathan.
“Ada apa? Kenapa? Kenapa kayaknya gue dibawa – bawa dalam masalah ini?” Rey angkat bicara.
Mei kaget dan baru menyadari sesuatu. Mei mengingat sesuatu yang telah dia lupakan selama ini.
---
Setelah dari kafe, Mei pergi dengan Jonathan.
“Lo tau Dwi suka sama Rey? Lo tau Dwi marah sama gue karena Rey deket sama gue? Tapi lo gak bilang apa – apa?” kata Mei marah – marah.
“Gue gak punya hak buat bilang itu. Ini masalah antara lo sama Dwi. Buat apa gue ikut campur.” Kata Jonathan dengan tenang.
“Sejak kapan Dwi cerita sama Lo?” tanya Mei.
“Sejak Dwi ngeliat Lo sama Rey nonton bareng.” Kata Jonathan dengan ekspresi yang tenang.
“Apa?” kata Mei kaget.
“Iya waktu itu dia keluar sama kakaknya dan ngeliat lo sama Rey. Dan mungkin, tadi Dwi juga ngeliat lo masuk ke kafe bareng Rey.”
Mei terdiam... memikirkan semuanya. Persahabatannya yang sudah lama harus hancur karena seorang Rey. “Tunggu! Kenapa Dwi cerita sama lo? Kenapa gak sama orang lain?” tanya Mei.
Jonathan tidak langsung menjawab pertanyaan Mei. “Kenapa Jo?” tanya Mei lagi.
“Karena Dwi tau kalau gue suka sama lo.” Jawab Jonathan tetap tenang.  Mei kaget dengan pernyataan Jonathan. Mei melihat ke arah Jonathan, sedangkan orang yang dilihatnya hanya menatap kedepan.
Selama beberapa waktu, tidak ada yang bicara sama sekali. Setelah hening beberapa lama, Jonathan angkat bicara. “Ini udah sore. Gue anterin lo pulang.” Jonathan berdiri. Sedangkan Mei masih terdiam duduk. “Lo mau tidur di taman?” tanya Jonathan.
Akhirnya Mei beranjak dari tempat duduknya dan pergi pulang bersama Jonathan. Setelah sampai di rumah Mei, Mei turun dari motor Jonathan. Dan Jonathan langsung berbalik tanpa mengucapkan apapun.
“Jo.” Panggil Mei.
“Iya?” kata Jonathan sambil menoleh.
“Makasih udah ngenterin gue pulang.” Kata Mei. Jonathan hanya membalasnya dengan senyuman.
---
Keesokan harinya, Dwi tetap duduk dengan Jonathan. Saat pelajaran di kelas Jonathan berbicara dengan Dwi.
“Lo belum pikirin apa yang gue bilang kemarin?”
“Belum.” Jawab Dwi singkat.
---
Rey melihat Mei di perpustakaan. Akhirnya Rey masuk ke dalam dan menghampiri Mei. Tapi, saat melihat Rey, Mei malah pergi. Seperti menghindari Rey. Selama seharian, Rey mencoba untuk berbicara dengan Mei, namun Mei terus menghindar.
Akhirnya Rey memutuskan untuk pergi ke rumah Mei saat pulang sekolah. Namun, Rey mengurungkan niatnya saat melihat Mei diantar pulang Jonathan. Selama seminggu, Rey tidak bisa bicara dengan Mei.
Hari ini, Rey pulang agak telat. Saat mau pulang, hujan turun sangat deras. Akhirnya Rey memutuskan untuk menunggu hujan reda. Saat matanya melihat sekeliling sekolah, Rey melihat Mei mengulurkan tangannya menangkap tetesan air hujan. Mei menatap air yang jatuh ke tangannya dengan tatapan kosong. Rey menghampiri Mei.
“Kenapa belum pulang Mei?” tanya Rey seolah tidak pernah terjadi apa – apa diantara mereka.
Orang yang diajaknya bicara seperti terkejut melihat kehadiran Rey. “Eh—tadi mau pulang masih hujan.” Jawab Mei.
“Bukannya kamu suka hujan – hujanan. Kamu sampe gak peduli meskipun sakit.”
“Itu beda. Itu hanya hujan pertama saat musim hujan tiba.”
Hening.
“Kamu kenapa?” tanya Rey.
“He? Kenapa apanya?” Mei balik bertanya.
“Kamu berubah. Aku gak tau sih. Tapi menurutku kamu berubah. Selama seminggu ini.”
“Oh ya?”
“Iya. Kenapa?”
“Memangnya penting?”
“Kenapa pertanyaanku selalu dijawab pertanyaan? Aku hanya ingin tau alasan kamu.”
Gak ada alasan khusus. Kehidupanku juga berubah dengan cepat selama beberapa bulan terakhir.”
“Kenapa kamu ngejauhin aku?” tanya Rey to the point.
“Kamu mau tau alasannya?” Mei balik bertanya.
“Mei tolong, jawab pertanyaanku.” Kata Rey
“Karena Dwi.”
“Dwi? Teman sekelas kamu?” Rey tidak mengerti.
“Dia bukan cuma teman sekelasku. Dia sahabatku. Dan dia suka sama kamu.”
---
Sudah lama sejak itu, Mei tidak pernah berbicara lagi dengan Rey. Rey juga tidak pernah berusaha mencari Mei lagi. Mei juga berusaha menyeesaikan masalahnya dengan Dwi.
“Dwi, kamu bilang dong kalo aku ada salah? Aku kan gak tau kalo kamu gak bilang? Dan soal Rey semuanya sudah selesai. Aku gak pernah berhubungan lagi sama dia. Maafin aku yaa.”
“Seharusnya aku yang minta maaf. Gak seharusnya aku marah cuma karena hal ini. Gak seharusnya aku merusak persahabatan kita karena laki- laki.”
“Kamu seharusnya nanya ke aku. Aku sama Rey gak ada apa – apa. Cuma temen.”
“Aku gakpapa kok kalo kamu sama Rey.”
“Sudahlah semuanya sudah selesai, Dwi.”
---
Suatu sore, ada yang mengetuk pintu rumah Mei. Hari itu pembantunya sedang tidak ada di rumah. Jadi Mei sendiri yang membuka pintunya.
“Hai.” Kata seseorang yang berdiri di depan pintunya.
Mei masih diam menatap orang yang ada di depannya. “Aku kesini hanya untuk bicara sebentar.” Kata orang itu lagi.
“Oke. Masuklah.” Ajak Mei.
“Aku ke sini mau mengembalikan ini. Udah lama aku mau ngembaliin tapi lupa.” Kata Rey mengeluarkan sebuah buku bersampul pink. “Aku tidak membuka dan membacanya. Aku hanya membuka bagian depannya saja untuk mengetahu pemiliknya.” Sambung Rey lagi.
“Dar mana?” tanya Mei singkat sambil mengarahkan pandangannya ke bukunya.
“Waktu di perpustakaan kamu menjatuhkannya aku rasa.”
“Oh. Terima kasih ya Rey.”
“Hm.. Iya. Aku ke sini juga mau berbicara sesuatu.”
Mei hanya diam. Rey melanjutkan kata – katanya. “Aku hanya ingin jujur. Apapun yang akan terjadi nanti aku terima. Aku sayang sama kamu Mei. Aku tau ini terlalu cepat dan kita baru kenal beberapa bulan. Tapi kamu bisa buat aku nyaman. Aku hanya ingin jujur. Terserah apa tanggapan kamu.”
“Aku hargai semua kejujuran kamu. Jujur aku juga nyaman selama ini sama kamu. Tapi kamu tau bagaimana jawabanku dan alasanku.”
“Bagaimana kalau Dwi yang memintaku jujur padamu?” kata Rey. Mei tidak mengerti maksud perkataan Rey. “Dwi tidak keberatan dengan ini. Dengan kita.” Kata Rey menjelaskan.
“Ada yang tidak kamu mengerti Rey. Suatu saat kamu pasti akan mengerti. Dan jika Tuhan menakdirkan, kita akan bersama pada waktunya. Namun, jika tidak mungkin itu yang terbaik untuk kita.” Kata Mei akhirnya.
---
Tibalah saat pesta perpisahan sekolah. Semua siswa datang untuk mengucapkan perpisahan kepada masing – masing teman.
“Hai Mei. Kamu cantik hari ini.” Puji Rey kepada Mei yang sedang berkumpul bersama Dwi dan Jonathan. Setelah Rey datang, Dwi dan Jonathan meninggalkan Mei sendiri.
“Terima kasih, kau juga keren.” Ucap Mei dengan tulus.
“Aku mau memberimu sesuatu.” Kata Mei lagi dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Rey.
“Buku ini? Ini milikmu.” Kata Rey.
“Sekarang tidak lagi. Itu milikmu. Kau boleh membacanya. Tapi saat hujan pertama turun di Indonesia. Aku minta maaf dan berterima kasih atas semuanya selama ini. Aku akan melanjutkan sekolahku di London.”
Rey langsung memeluk Mei. Pelukan pertama mereka. “Aku mungkin akan sangat rindu padamu. Jaga diri baik – baik ya.”
---
Mei terbang ke London untuk melanjutkan pendidikannya. Saat hujan pertama turun di tahun 2015, Rey membuka buku yang diberikan Mei kepadanya.
Dari buku The First Rain itu dia mengetahui banyak tentang Mei. Dari mana Mei mendapatkan bukunya dan kenapa dinamainya The First Rain. Ayahnya meninggal tepat setelah membelikannya buku itu. Dan waktu itu keadaan sedang hujan. Hujan di awal tahun.
Dari buku itu juga Rey tahu kalau Jo dan Mei sudah mengenal dari dulu dan keadaannya selalu sama. Mereka tidak pernah akur. Sampai pada tulisan terakhir di buku itu yang bertanggalkan Maret 2014. Tulisan terakhir bukan karena lembarannya sudah habis, lembarannya masih sangat banyak. Tulisan terakhir yang Mei tulis untuk Rey. Setelah Rey membacanya, Rey menangis dan bahkan sempat bertanya – tanya kenapa dia dan Mei dipertemukan seperti waktu itu.
---
3 tahun kemudian…
Jonathan menghadiri undangan pertunangan Rey bersama dengan kekasihnya. Jonathan menggandeng perempuan yang sangat disayanginya itu menuju gedung tempat dilangsungkannya acara pertunangan itu. Dari jauh, Jonathan sudah melihat kawan – kawannya waktu SMA.
“Hai Reva… Hai Dwi… sudah punya pacar juga kalian rupanya.” Mereka tertawa mendengar perkataan Jonathan.
“Kau datang terlambat Jo. Tadi dia sangat cantik.” Kata Dwi.
“Baiklah aku minta maaf. Sekarang dimana Rey?” tanya Jonathan. “Di sana.” Kata Reva sambil menunjuk ke suatu arah.
Jonathan membawa kekasihnya untuk menemui Rey. Rey sudah melihat Jonathan yang sedang berjalan ke arahnya. “Hai Jo… Hai Mei… Syukurlah kalian bisa datang. Aku kira kalian masih di London.”
“Mana mungkin kita melewatkan pertunangan kamu.” Kata Mei
“Mana calon tunanganmu?” tanya Jonathan. Lalu Rey memanggil tunangannya.
“Hai Selly Iskandar. Nama yang cantik. Seperti orangnya.” Ucap Mei dengan tulus memuji calon tunangan Rey.
“Yah, kau beruntung Rey calon tunanganmu secantik dia.” Kata Jonathan menggoda Rey. Semuanya tertawa mendengar perkataan Jonathan. Setelah perbincangan singkat, Jonathan pamit ke toilet dan Selly kembali bersama teman – temannya meninggalkan Rey dan Mei berdua.
“Jadi Rey Ferdinand? Kau sudah menemukan takdirmu?” kata Mei memulai pembicaraan.
“Iya. Mungkin memang takdir menginginkan kita seperti ini. Dan kalau aku boleh bicara, seharusnya perbedaan tak akan menghalangi cinta. Tapi ya sudahlah, meskipun kita berbeda kita akan tetap menjadi teman?” kata Rey panjang lebar.
“Tentu saja. Dan percayalah padaku, perbedaan memang tidak bisa menghalangi cinta. Tapi perbedaan kita terlalu besar. Mungkin takdir sudah menentukan jalannya akan seperti ini.”
Diluar, titik – titik air mulai berjatuhan. “Hujan di awal tahun.” Kata Mei pelan.
---
Maret 2014
Kenapa Tuhan mempertemukanku dengannya saat seperti ini? Mengapa harus tercipta perbedaan yang besar di antara kami? Kenapa Tuhan membuatku mencintainya jika tidak mungkin untuk aku memilikinya?
Aku tak bisa mengorbankan Yesusku demi duniaku, aku tak bisa mengingkari janjiku, Aku tak bisa jauh dari Tuhan dan gerejaku. Aku tidak terbiasa dengan semuanya. Meski itu ketahuilah, kamu adalah yang terindah dari semua yang terindah. Dan kamu akan tetap menjadi yang terindah di antara yang terindah.
Tuhanmu menciptakan engkau sangatlah indah. Sekarang, bila aku jatuh cinta, bilaku terlanjur sayang apalah dayaku? Apakah Tuhanmu akan marah jika aku mencintai dan menyayangimu? Bisa tanyakan Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umatnya, mencintai hambanya?

~THE END~

Cerpen "Aku dan Hujan"

Aku dan Hujan
Pelangi.. Pelangi.. Alangkah indahmu..
Merah kuning hijau di langit yang biru
Pelukismu Agung siapa gerangan
Pelangi.. Pelangi.. ciptaan tuhan.
Aku tidak suka mendengar lagu itu. Saat di sekolah dasar, aku selalu menutup telinga ketika teman – temanku menyanyikan lagu yang berhubungan dengan hujan. Aku tahu bahwa dunia ini memerlukan hujan. Aku tidak membenci hujan, hanya saja aku mempunyai kenangan buruk tentang hujan. Pelangi itu muncul setelah hujan, tetapi hujan itu telah merenggut sesuatu yang berharga dariku. Sejak itu aku tidak mau melihat hujan, meskipun setelah hujan akan muncul pelangi yang indah. Pelangi itu, tidak dapat mengembalikan apa yang telah hujan ambil dariku.
Aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku lahir dari keluarga yang kurang mampu. Alam pun meneteskan air matanya ketika aku lahir. Seolah alam memberikan pertanda bahwa kelahiranku ini membawa kesialan. Saat aku dilahirkan, ayahku sedang bekerja di pabrik, ayah rela meninggalkan pekerjaannya demi menyaksikan diriku lahir ke dunia ini. Aku tak pernah mengenal ibu dan kakakku. Ibu meninggal sesaat setelah melahirkanku. Sedangkan kakakku pergi entah kemana saat dimana hari aku dilahirkan. Katanya dia tidak mau membebani keluarga—setidaknya itu yang ayah katakan padaku.
Hanya ada sebingkai foto peninggalan. Dalam foto itu, terdapat seorang gadis kecil yang sangat manis. Dia mengenakan baju berwarna pink. Rambutnya yang lurus, dikuncir dua ke samping. Senyumnya yang masih polos, membuatnya bertambah cantik. Di sebelah kanan gadis itu, terdapat laki – laki yang mengenakan kemeja putih. Senyumnya yang hangat, memancarkan kebahagiaan yang ia rasakan. Sedangkan di sebelah kiri gadis tersebut, terdapat wanita cantik. Kepalanya ditutupi hijab yang warnanya senada dengan bajunya. Itu adalah foto keluargaku—yang bahagia—sebelum ada diriku.
Bima
Bima Bachtiar. Itulah namaku. Sekarang, aku menjadi anak tunggal ayahku. Sekarang aku hanya hidup berdua dengan ayahku. Sekarang, ayah bekerja dengan juragan meubel. Pekerjaan yang dilakukan ayah, cukup untuk hidup sehari – hari dan membiayai sekolahku saat masih SD. Sebenarnya aku yang merengek untuk minta sekolah, sampai ayah rela kerja sampai malam untuk sekolahku. Setiap pagi, aku melihat anak – anak seusiaku berangkat ke sekolah dengan mengenakan seragam. Sampai suatu hari, aku ingin menjadi seperti anak – anak lainnya.
“Ayah, aku ingin sekolah.” Pintaku pada ayah.
“Kamu belum waktunya sekolah, Nak.” Kata ayah menghiburku.
“Tapi teman – temanku yang lain sudah peri ke sekolah tiap pagi.”
Ayah memelukku dan berkata “Ayah masih belum punya uang untuk membiayai sekolahmu.” Ayah melepaskan pelukannya dan mengelus pipiku dengan kedua tangannya yang kasar. “Nanti, kalau ayah sudah punya uang, kamu pasti akan sekolah.”
Dan akhirnya, setelah mendengar permintaanku itu, ayah banting tulang mencari pekerjaan demi menyekolahkanku. Sampai akhirnya ayah bekerja pada seorang juragan meubel. Dan dari penghasilannya itu, aku bisa menuntut ilmu seperti teman – temanku yang lainnya.
Saat aku berada di jenjang SMP, aku sering meninggalkan sekolahku. Kadang aku tertidur di kelas saat pelajaran berlangsung. Dan hasilnya, aku sering dihukum di depan kelas. Setelah pulang sekolah, aku pergi ke tempat kerja ayah. Aku sering membantunya bekerja meskipun tidak mendapat bayaran. Bila ada pasokan kayu yang datang, aku akan membantu menurunkannya. Kadang, aku berkeliling melihat pengrajin – pengrajin kayu yang ada di sepanjang ruas jalan Desa Bukir. Jika sedang tidak membantu ayah, aku melihat pengarajin di sebelah tempat ayah bekerja. Orangnya sangat baik, ia mengizinkanku untuk melihat cara membuat kerajinan kayu.
Sekolahku hanya berhenti sampai SMP saja. Penghasilan ayahku, sudah tidak bisa lagi membiayai sekolahku ke jenjang berikutnya. Aku pun tidak sampai hati untuk menyusahkan ayahku lagi.
Akhirnya aku bekerja menjadi tukang kebun di sebuah sekolah SMA swasta. Kadang, saat aku lewat di depan setiap kelas untuk membersihkan tempat sampah, aku sering mendengar guru yang mengucapkan istilah yang asing bagiku seperti integral, logaritma, torsi, dan masih banyak lagi. Saat pagi – pagi aku membersihkan kelas, terdapat banyak angka dan rumus di papan tulis yang tidak aku mengerti, dan akhirnya aku akan merenung lama dan melihat tulisan – tulisan tersebut. Aku sangat ingin melanjutkan sekolahku, tapi aku tidak mau sampai mnyusahkan ayah lagi.
Aku pernah meminta ayah untuk membawakan sisa – sisa kayu yang tidak terpakai dari tempat kerja ayah. Bos ayah juga tidak melarangnya karena kayunya sudah tidak dibutuhkan.
Aku bekerja di sekolah hanya beberapa jam. Dan ayah sekarang juga tidak memperbolehkanku untuk ikut ke tempat kerjanya. Untuk mengisi waktu luang, aku membuat kerajinan dari kayu – kayu sisa. Awalnya aku membuat kerajinan tersebut hanya untuk kesenanganku. Tapi suatu hari, seorang tetangga yang juga temanku datang ke rumah.
“Tidak biasanya kamu kesini. Ada apa?” tanyaku.
“Aku disuru mengantarkan jahitan ini.” Kata Ainur.
“Mari masuk. Aku mengambil uang dulu.” Ajakku.
Setelah aku kembali dari mengambil uang, Ainur melihat – melihat beberapa kerajinan yang aku buat.
“Kamu membuatnya sendiri?” tanya Ainur.
“Iya.” Jawabku singkat.
“Kamu berbakat Bima. Sebentar lagi akan diadakan pameran seni. Lukisan, ukiran, kerajinan tangan, semuanya. Kamu bisa ikut.” Kata Ainur antusias.
“Ah masak karya seperti ini bisa dimasukkan dalam pameran?” kataku merendah.
“Tentu bisa. Ini sangat bagus. Aku akan mendaftarkanmu untuk ikut pameran itu. Aku pulang dulu ya.” Ainur langsung pulang dari rumahku.
Aku tidak menganggap serius perkataan Ainur, karena menurutku karyaku itu hanya sederhana dan tidak mungkin masuk dalam pameran. Aku tidak memikirkan perkataan Ainur lagi sampai hari itu. Hari itu Ainur datang ke rumah dan menunjukkan keseriusannya. Ainur  ke rumah untuk mengambil kerajinan yang aku buat.
Setelah acara pameran itu sering ada orang yang memesan kerajinan dariku. Seiring waktu, orang yang memesannya bertambah banyak. Bisa dibilang aku menjadi wirausaha. Meskipun banyak uang yang aku hasilkan dari kerajinan itu, aku tetap bekerja sebagai tukang kebun. Karena aku sangat ingin sekolah. Meskipun aku tidak dapat ikut belajar bersama murid yang lain, aku senang melihat mereka belajar.
Kabar kerajinanku sudah sampai di telinga majikan ayahku. Majikan ayah sampai memperingatkan ayah.
“Apa yang dilakukan anakmu itu? Apa dia mau membuatku bangkrut?” kata majikan ayah.
“Dia hanya membuat kerajinan kecil. Tidak akan sampai merugikan Anda.” kata Ayah.
“Mulai sekarang jangan pernah mengambil kayu lagi dari tempatku. Dan suru anakmu itu berhenti atau kau aku pecat.”
Sejak saat itu aku berusaha untuk menolak pesanan. Namun ada beberapa orang yang memaksa dan akhirnya aku menurutinya. Aku tetap menerima pesanan kerajinan meskipun tidak sebanyak dulu. Aku tidak mau membuat ayah dalam masalah. Aku tahu gaji ayah tiap bulan dipotong untuk melunasi hutangnya. Hutang untuk membiayai sekolahku dulu. Oleh karena itu aku mengalah demi ayah.
Majikan ayah bukanlah orang sembarangan. Dia akan melakukan apapun kepada seseorang yang mengancam bisnisnya. Terakhir kali, Paman Robi masuk rumah sakit karena tidak menuruti perintah dari majikan ayah. Aku tidak mau ayah ataupun aku mengalami hal yang sama. Jadi aku tetap ke sekolah sampai siang dan mengerjakan kerajinan jika ada pesanan.
Suatu hari, saat sudah waktunya pulang turun hujan deras. Aku tetap berada di sekolah sampai hujan reda. Sampai seorang guru menghampiriku.
“Mas, kok belum pulang? Sekolah sudah bersih bukan?” tanya guru tersebut.
“Saya menunggu hujan reda.” Jawabku.
“Saya ada payung. Kalau mau dipinjam boleh.” Kata guru tersebut menawariku.
“Tidak terimakasih. Saya tidak suka berada di bawah hujan. Biar saya menunggu hujan reda. Sekali lagi terimakasih atas tawarannya, Pak.” Jawabku dengan sopan.
Setelah hujan reda, hari sudah sore. Aku segera bergegas pulang takutnya ayah akan mencemaskanku. Saat akan menuju rumah, terlihat keramaian di jalan. Aku ingin tahu apa yang sedang terjadi. “Wonten nopo niki, Pak.” Tanyaku dengan sopan kepada seseorang.
Niki loh Mas, Wonten kecelaaan.” Jawab orang tersebut. Saat aku mendekat, seseorang yang sedang membungkuk dan ikut mengerumuni orang yang kecelakaan tersebut memanggilku. Dan aku mengenalinya sebagai Paman Sofi, teman kerja ayahku. “Bima, Ayahmu sudah tiada.” Hanya itu yang keluar dari mulut Paman Sofi. Akuhanya terdiam kaku setelah mendengarnya.
“Ayahmu bilang akan menjemputmu. Tapi jalanan licin dan dia jatuh dari sepedanya, dan dari belakang melaju sepeda motor kencang dan menabrak Ayahmu yang sudah terjatuh.” Jelas Paman Sofi. Paman Sofi hendak merangkulku tapi aku menepisnya dan lari. Lari kemanapun kaki ini membawaku. Hujan mulai turun lagi, aku sudah tidak peduli lagi pada hujan. Sekarang, hujan juga telah mengambil satu – satunya orang yang aku punya di dunia ini. Dan itu juga karena aku. Entah sampai kapan aku akan berhenti membawa kesialan. Hujan sepertinya tak pernah mau bersimpati padaku.
“Dari dulu hujan selalu mengambil apa yang aku punya. Kenapa hujan juga tidak membunuhku? Dan menghentikan pembawa kesialanku ini?”
Sampai malam tiba, hujan juga belum reda. Aku juga masih enggan untuk pulang. Aku tidak mau jika aku pulang nanti, akan melihat ayah yang sudah terbujur kaku. Aku terus berjalan, entah kemana. Aku hanya mengikuti kemanapun kakiku melangkah. Melangkah di bawah hujan yang aku benci. Sekarang aku benar – benar benci pada hujan.
Saat aku melangkah, tiba – tiba kepalaku terasa ditutup dengan kain dan aku diseret oleh tangan yang kekar. Aku meronta dan berteriak, tapi sepertinya tak ada orang disekitarku kecuali orang yang menyeretku.
Hal terakhir yang kurasakan, perutku seperti ditusuk. Aku merasakan sakitnya dan semuanya gelap. Sebelum aku benar – benar kehilangan kesadaran, aku masih bisa merasakan tetesan hujan mengalir diatas wajahku. Tetesan kebencian. Dan saat aku sudah di atas sana, aku sadar bahwa Tuhan mengabulkan doaku. Hujan telah mengambilku dari dunia ini dengan perantara seseorang yang kusebut malaikat maut.
~THE END~

Selasa, 09 Juni 2015

Cerpen Line "Hari Pertama"

HARI PERTAMA
Tahun lalu, aku sudah mulai berpuasa. Aku dididik dengan pengetahuan agama sejak kecil. Teman sekelasku belum ada yang mulai berpuasa. Sebagai hadiah untuk puasaku di tahun pertama, aku mendapat hadiah handphone baru dari ibu dan ayah.
Kalau puasa itu artinya aku harus bangun pagi untuk sahur. Dan kakak mendapat bagian untuk mebangunkanku. Karena kakakku itu usil, dia membangunkanku dengan mengirimi stiker line sahur berkali – kali sehingga handphoneku bergetar dan berdering berkali – kali. “Line... Line... Line... Line... Line... Line... Line... Line...Line...” Kakak baru berhenti mengirim kalau aku sudah keluar dari kamar untuk sahur bersama.
Sekolahku mengizinkan muridnya untuk membawa handphone, dengan catatan tidak digunakan saat pelajaran. Saat jam istirahat handphone baruku berbunyi karena lupa aku matikan.
“Line.”
Aku membuka handphoneku dan mendapat pesan dari kakakku. Tak ada kata – kata atau apapun, yang ada di pesan line kakak hanya gambar ice cream yang terlihat lezat. Ditambah lagi banyak teman – temanku yang tidak berpuasa dan makan di kelas.
“Asataghfirullah, Sabar!” kataku sambil mengelus dadaku sendiri. Lalu handphoneku berbunyi lagi.
“Line.”
Lina dari ibu. “Sabar ya, Dik. 8 jam lagi. *line stiker semangat*”
Saat pulang, mama menjemputku dan mengajakku untuk ikut belanja keperluan berbuka puasa. Ibu megajakku berbelanja di supermarket. Ibu berbelanja sambil memegangi tanganku agar aku tidak hilang.
Saat akan membayar belanjaan di kasir, aku melihat seorang anak kecil yang sedang makan ice cream. Rasanya gak tahan, tadi udah dikirimi gambar ice cream oleh kakak dan sekarang aku melihat anak kecil sedang makan ice cream. Tanpa sadar, aku melihat anak tersebut cukup lama dan tidak menyadari kalau ibu memanggilku. Aku langsung menghampiri ibu dan mengikutinya untuk pergi pulang.
Di rumah, kakak tak bosan – bosannya selalu menggodaku.
“Dik, masih kuat puasanya? Kalau gak kuat udah minum aja!” kata kakak diikuti tawanya yang senang karena sudah menggodaku.
Dan saat kakak sudah menggodaku, aku selalu berteriak. “Bu... Kakak!!” kataku mengadu pada ibu.
“Kak, sudah jangan ganggu adik.” Mama menghampiriku.
“Masih satu jam lagi, kamu main game aja dulu.” Kata ibu memberi saran. Akhirnya aku main game Line Bubble, Line Pop, Line Rangers, sampe gak kerasa udah terdengar adzan maghrib. Akhirnya aku berhasil puasa dihari pertama.aku langsung mengetik pesan dan stiker line ke semua temanku termasuk kakakku kalau aku berhasil puasa di hari pertama.