Selasa, 15 September 2015

Cerpen "Mawar Yang Layu"

Mawar Yang Layu
Karya : Ismi Roichatul Jannah           
Sebenarnya hidup itu tak serumit rumus fisika yang membuat pusing kepala. Asal kita menjalani dengan ikhlas dan mengikuti alurnya seperti air yang mengalir. Menjadi orang harus seperti bunga mawar. Berduri tapi indah. Dengan durinya, dia bisa melindungi dirinya sendiri. Meskipun banyak cobaan, pada akhirnya dia akan tetap mekar dengan indah. Namun tak selamanya mawar itu akan selalu hidup. Ada kalanya mawar itu harus layu pada saatnya.
~~~
Mawar Krisma Putri atau biasa dipanggil Mawar, anak kelas 8 SMP. Mawar mempunyai latar belakang keluarga yang kurang baik. Selain itu, Mawar divonis mempunyai penyakit limfoma, sejenis kanker darah sejak baru masuk SMP. Orang tua Mawar pisah sejak Mawar masih kecil. Sekarang, Mawar tinggal bersama Mamanya di sebuah komplek perumahan Jl. Merpati no. 5 di Surabaya. Mawar cantik, baik, dan pinter. Tapi Mawar juga anak yang tomboy, itu karena Mawar gak mau ada yang kasihan karena penyakitnya.
Mamanya sibuk bekerja. Tapi Mamanya selalu punya waktu untuk Mawar. Di sekolah, Mawar punya musuh—sebenarnya bukan musuh, tapi sering cari gara – gara sama Mawar. Namanya Angela Alexandra. Setiap mereka ketemu, pasti terjadi perang dunia. Apalagi sejak Aris Prayoga dekat dengan Mawar.
Ketika pagi di depan gerbang sekolah Mawar ketemu sama Angel.
“Ada anak mama baru dianter.” Kata Angel menyindir.
Mawar tak menghiraukan perkataan Angel dan tetap berjalan masuk sekolah.
“Sombong banget lo anak mama.” Kata Angel sambil menarik tangan Mawar.
“Kenapa? Lo ngomong sama gue A-N-G-E-L?” jawab Mawar ketus.
“Lo kira gue ngomong sama pohon?”
“Gak bosen cari gara – gara terus sama gue? Ngomong aja kalo lo itu iri.”
“Iri apa’an? Gak ada yang harus gue iri’in sama lo.”
“Lo iri karena orang tua lo gak pernah perhatian sama lo. Iya kan?”
Angel tak menjawab. Mawar langsung pergi ke kelasnya dan meninggalkan Angel. Sesampainya di kelas, Alvin udah nunggu di dalam kelas.
“Kenapa? Miss Lebay gangguin lo lagi?” kata Alvin
“Iya gitu deh.” Jawab Mawar santai.
“Gak bosen ya itu anak cari gara – gara sama lo.”
“Ya udahlah. Kemaren gue gak masuk ada tugas apa aja?”
“Ada tugas kelompok dari Miss Silvi. Ngebuat kayak karya ilmiah gitu, tapi ya dalam bentuk bahasa inggris pastinya.”
“Terus gue kelompok siapa? Dan.......”
“Pagi... Mawar udah masuk?” sapa Febri yang memotong pembicaraan Mawar.
“Terus kenapa? Lo gak seneng gue masuk?” kata Mawar sebel.
“Ya enggak. Kemaren itu.. gak ada Mawar kita kesususahan. Gak ada yang jawab pertanyaan guru, gak ada yang marah – marah, ..........” “udah stop ngomongnya.” Kata Mawar memotong omongan Febri.
“Satu lagi aja. Miss Angel jadi sok kuasa.” Kata Febri cepat – cepat menambahkan.
“Udah selesai ngomong nya? Lo ngomong kayak petasan. Udah gue mau ngomong sama Alvin.” Kata Mawar yang kelihatannya kesal.
“Maaf.” Kata Febri langsung ciut. Kayak petasan kena air, gak bisa nyala lagi.
“Siapa aja kelompok gue?” tanya Mawar lagi.
“Lo satu kelompok sama gue, sama Yoga dan ..... Febri.” Kata Alvin  memberi tau Mawar.
Tettt... tett.. bel masuk terdengar berbunyi. Semua siswa masuk kelas. Waktu di kelas, Yoga buat onar. Yoga langsung di hukum seperti biasa. Tanpa terasa bel istirahat sudah berbunyi.
“Gak basket War?” tanya Alvin.
“Gakk lah. Gue baru kemaren sakit Vin.” Jawab Mawar.
Akhirnya Alvin mengajak Mawar untuk berdiskusi tentang tugas kelompoknya.
“Hm.. Kapan mulai kerja kelompoknya?” tanya Alvin.
“Kalau bisa sihh hari ini.” Jawab Mawar.
“Kalau Yoga sama Febri sih nurut aja War.”
“Ya udah nanti pulang sekolah. Tapi gue nanti ke Miss Silvi dulu. Lo pulang aja dulu. Terus jemput gue lagi ke sekolah ya Vin.”
“Terserah lo deh War. Rumah deket aja minta jemput.”
Setelah pulang sekolah, Mawar pergi ke ruangan Miss Silvi. Setelah selesai dengan urusannya, Mawar nunggu Alvin di depan gerbang sekolah. Waktu mau berjalan keluar, Mawar ketemu sama Yoga yang bawa sepeda.
“Lo udah dikasi tau kan sama Alvin kalau hari ini mau ngerjain tugas di rumah Febri?” tanya Mawar.
“Iya. Ini mau ke rumah Febri. Lo kan tau gue baru selesai di hukum. Lo ngapain masih di sekolah?” Jawab Yoga.
“Baru dari Miss Silvi. Ini lagi nunggu Alvin. Males mau jalan.”
“Ya udah bareng gue aja. Kan mau ke rumah Febri juga.”
“Ya udah deh. By the way, sejak kapan lo gowes bawa sepeda? Setahu gue lo di anter jemput mobil.”
“Gak usah dibahas. Ayo cepet!”
Akhirnya Mawar dan Yoga bareng ke rumah Febri untuk ngerjain tugas. Sesampainya di rumah Febri, rumah Febri sepi.
“Cari Febri ya. Tadi Febrinya keluar.” Kata seseorang di sebelah rumah Febri.
Lalu ada Alvin dan Febri dateng.
“Feb. Gue kira keman.” Kata Mawar.
“Gak bisa di rumah gue deh. Rumah gue di kunci.”
“Terus ke rumah siapa?” tanya Yoga.
“Ke rumah lo aja deh War. Gak jauh – jauh banget.” Kata Alvin menyarankan.
“Jangan ke rumah gue!” kata Mawar.
“Kenapa? Ke rumah lo deh War. Biar cepet selesai.” Kata Yoga agak memaksa.
“Terserah kalian.” Kata Mawar pasrah.
Lalu Alvin, Yoga, Febri bareng ke rumah Mawar. Mawar dan Yoga nyampe duluan. Sedangkan Febri dan Alvin masih di jalan.
“Kok sepi War? Orang tua lo kemana?” tanya Yoga.
 “Mama gue jam segini belum pulang. Kerja.”
“Papa lo?”
“...” Mawar gak menjawab pertanyaan Yoga. “Gakpapa War?” tanya Yoga.
“Gakpapa. Gue gak pernah tau siapa papa gue. Dari gue kecil Mama sama Papa gue udah pisah.” Kata Mawar.
“Sorry. Gue gak tau.”
“Gakpapa. Yuk masuk.” Ajak Mawar.
Mawar langsung ke dapur untuk mengambil minuman. Setelah Mawar balik lagi ke ruang tamu, Alvin dan Febri udah ada di ruang tamu.
“Hah.. bagus udah ada minum. Udah capek banget War!” kata Alvin langsung mengambil minuman.
“Rakus lo.” Kata Yoga.
“Ye.... suka – suka gue. Mama nya Mawar aja gak keberatan kalo gue anggep rumah ini kayak rumah sendiri. Kenapa lo yang sewot?” kata Alvin ngomel.
“Rumah Mawar bagus ya? Katanya gak ada yang tau rumah Mawar. Anak satu sekolahpun gak ada yang tau dari dulu. Sekarang Febri tau rumah Mawar.” Kata Febri.
“Kecuali gue yang udah tau dari dulu rumah Mawar.” Kata Alvin.
“Mau ngerjain tugas apa mau ngoment rumah gue terus?” Mawar mulai kesal. Setelah Mawar  marah – marah, semuanya mulai ngerjain tugas.
“Kamus dong War.” Kata Yoga.
“Ambil aja sendiri di situ.” Kata Mawar sambil menunjuk lemari yang berisi buku – buku. “Kalau gak ada ambil di meja belajar gue.”
“Gue kan baru masuk rumah lo kali ini War.” Kata Yoga yang mengisyaratkan kalau dia gak tau dimana letak meja belajar Mawar.
“Vin, anterin dia nyari kamus. Lemari buku di kamar gue.”
Alvin dan Yoga meninggalkan Mawar dan Febri di ruang tamu. Alvin sudah sering keluar masuk rumah Mawar.
“Lo sering ke rumah Mawar?” tanya Yoga.
“Sering banget.” Kata Alvin sambil membuka pintu kamar Mawar.
“Sering masuk kamar Mawar?”
“Iya kalau dia males keluar.”
“Berarti lo kenal baik mamanya Mawar?”
“Iyalah. Gue kan temen Mawar dari kecil.”
“Emang Mawar gak risih apa? Ada yang masuk kamarnya? Maksud gue kan dia punya privacy. Apalagi buat anak remaja perempuan.”
“Emangnya lo liat Mawar kayak remaja perempuan yang centil kayak umumnya?”
“Enggak siihh.. dia...........” “Ni kamusnya. Lo mau nyari kamus atau ngintrogasi gue?” kata Alvin memotong bicara Yoga. “Ayo balik.” Ajak Alvin.
Setelah kembali ke ruang tamu, mereka semua lanjut mengerjakan tugas. Terdengar suara mobil dari luar rumah disusul seorang perempuan cantik berpakainan rapi masuk ke dalam rumah, Mama Mawar.
“Oh.. ada temen – temen Mawar! Mawar gak pernah bawa temen barunya ke rumah sejak kelas 8.. kecuali Alvin.” Kata Mama Mawar.
“Gak pernah?” tanya Yoga heran.
“Sama sekali?” tambah Febri dengan nada tinggi.
“Apa’an siih Ma!” kata Mawar tak menanggapi Yoga dan Febri.
“Apa kabar Alvin?” tanya Mama Mawar tak menghiraukan Mawar.
“Baik tante.” Kata Alvin singkat.
“Ya udah tante ke dalam dulu. Kalian lanjutin belajarnya.” Kata Mama Mawar.
Setelah Mama Mawar masuk, Yoga dan Febri masih heran.
“Kenapa?” tanya Yoga.
“Apanya?” balas Mawar ketus.
“Gakpapa.” Kata Yoga.
Setelah selesai mengerjakan tugas... Alvin, Febri, Yoga diajak makan bersama. Setelah makan, Febri, Yoga, Alvin pamit pulang. Di perjalanan, Yoga masih menanyakan tentang Mawar.
“Yang tadi dibilang Mamanya Mawar itu.... Mawar gak pernah ajak temennya ke rumah nya?” tanya Yoga.
“Kenapa emang?” balas Alvin.
“Ya aneh aja. Mawar kan punya banyak teman. Aneh gak ada yang pernah diajak ke rumahnya.”
“Ya terserah Mawar. Dia kan yang punya rumah.”
“Pasti punya alasan kan?”
“Gakk tau.” Kata Alvin cuek.
“Dulu kayaknya Mawar sering ngajak temennya ke rumahnya waktu kelas 1.” Sela Febri.
“Katanya dia gak mau di kasihanin.” Jawab Alvin.
“Dikasihani? Kenapa? Apa?” kata Yoga tak mengerti.
“Gak tau. Dia gak cerita ke gue masalah itu. Mungkin karena keluarganya. Ayahnya gak ada. Tapi meskipun gue yakin ada alasan lain sihh...” kata Alvin.
“Lo kan sahabat deketnya! Lo gak pernah nanya? Mawar gak pernah cerita?” tanya Yoga lagi.
“Gue emang sahabatnya. Tapi gue gak pernah maksa dia buat cerita dan gue GAK PERNAH ngintrogasi dia buat tau segalanya tentang dia.” Kata Alvin dengan menekankan kata ‘GAK PERNAH’ yang menandakan Alvin tak suka membicarakan sahabatnya.
Setelah itu mereka berjalan pulang dengan membisu. Tak ada yang bertanya – tanya lagi.
Keesokan Harinya di sekolah........
“Hai Mawar..”
“Hai Ga.. kenapa? Mau nanya tugas yang kemarin ya? udah selesai kan? Tinggal dikumpulin.”
“Gue bukan mau nanyain itu.” kata Yoga menjelaskan.
“Terus apa?” tanya Mawar gak ngerti.
“Gue mau ngajak lo ke toko buku yang di mall itu!” kata Yoga dengan cepat. “Ngapain?” tanya Mawar lagi.
“Lo kan sering ke toko buku tuh! Gue minta temenin aja kok!”
“Dari mana lo tau gue sering ke toko buku.. kok lo jadi sok tau sih?”
“Er—itu... buku lo banyak banget waktu gue lihat di kamar lo kemarin. Dan gue pernah liat lo di toko buku?” jawab Yoga tergagap. “Oh ya?” tanya Mawar  dengan ketus.
“Mau ya??” Yoga memohon – mohon. “Oke! gue ke kelas dulu.”
Saat mau ke kelas, tiba – tiba aja Angel menarik tangan Mawar.
“Ngomong apa tadi lo sama Yoga?” tanya Angel ketus. Wajah nya marah.
“Gak ngomong apa – apa! Tadi cuma ngomongin tugas. Gue satu kelompok sama Yoga. Lo gak tau??” jawab Mawar berusaha tenang tapi dengan nada menantang.
“Yang bener lo? Lo itu dari dulu selalu ngerebut apa yang gue punya! Dulu Dion, sekarang Yoga.”
“Sejak kapan Dion dan Yoga itu punya lo? Dion.. gue cuma temenan sama Dion. Dan Dion yang ngedeketin gue. Gue gak pernah ngerasa ngambil Dion dari lo. Kalo emang Dion itu punya lo, kenapa gak ikut pindah aja lo sama Dion. Biar sekolah gue tenang gak ada lo!”
“Berani – beraninya lo..............”
“Apa? Semua itu kenyataan. Gue gak pernah deketin Dion. Dan Yoga?? Gue cuma ngomongin tugas. Dia temen sekelas gue. Gue gak pernah ngerasa sama sekali pernah ngerebut apa yang lo punya. Mending berhenti cari gara – gara sama gue. Gue gak akan ngerebut Yoga.” Setelah itu Mawar melepaskan cengkraman Angel dari tangannya dan masuk ke kelas.
---
Sepulang sekolah, mau gak mau Mawar harus menepati janjinya sama Aris meskipun tadi ada sedikit masalah.
“Lo masuk duluan deh Ga. Gue mau ke toilet dulu.”
“Ya udah. Gue masuk duluan ya??
Mawar belum balik sampai Yoga sudah membayar bukunya. Akhirnya Yoga memutuskan untuk mencari Mawar. Dan Yoga melihat Mawar dari kejauhan di arena games. “Ngomong mau ke toilet malah ngegames.” Yoga langsung menghampiri Mawar dan langsung ngomel – ngomel.
“Mawar, lo dari mana sih? Bilangnya mau ke toilet malah disini. Gue khawatir nyariin lo. Kalo ada apa – apa sama lo nanti Alvin pasti ngamuk – ngamuk sama gue. Ayo pulang.” Mawar bingung dengan omelan – omelan Yoga dan Yoga langsung menarik tangan Mawar.
“Siapa sih lo narik – narik.” Kata Mawar ketus. “Lo apa – apaa sih War. Jangan bercanda deh! Ayo pulang.”
Tiba – tiba ada laki – laki yang menghampiri mereka. “Ada apa Melati?” tanya laki – laki yang baru aja dateng itu. “Ini nih. Ini orang tiba – tiba narik tangan aku. Manggil aku Mawar segala lagi.” Kata Mawar kepada laki – laki itu.
---
Sekarang malah Yoga yang bingung. Mawar dan cowok itu pergi sementara Yoga masih bingung dengan apa yang barusan terjadi. Yoga memutuskan pulang dan lewat toko buku itu lagi. Tiba – tiba ada orang yang manggil Yoga dan keluar dari toko buku. “Yoga...”
“Lho? Mawar?” tanya Yoga heran. “Ada apaan sih? Lo kok ninggalin gue? Gue nyariin lo di toko buku tadi.”
“Bukannya tadi lo pergi sama cowok itu??” kata Yoga masih bingung dan menggaruk – garuk kepala.
“Cowok siapa? Gue habis dari toilet langsung balik. Tapi lo malah gak ada.” Kata Mawar menjelaskan.
“Wahh.. Lo jangan bercanda dong!”
“Gue gak bercanda Yoga. Gue serius. Lo kenapa sih kok jadi bingung gitu. Dan gue pergi sama cowok? Siapa? Apa sih maksud lo? Gue gak ngerti.”
“Gue lebih gak ngerti lagi War. Haduh pusing gue!”
“Ya udah. Pulang yuk!” Ajak Mawar.
Sesampainya di rumah, Mawar dan Yoga ngobrol sebentar di teras.
“War, tadi itu sebenernya... gue kan nyari lo soalnya gak balik – balik. Nah gue lihat lo main games. Gue samperin deh.” Kata Yoga menceritakan apa yang tadi terjadi di mall.
“Gue gak main games. Udah gue bilang dari toilet gue langsung balik.”
“Nah itu yang gue bingung. Wajah lo mirip banget sama orang yang gue lihat di tempat games itu. tapi rambutnya emang lebih panjang sihh! Dan dia sama seorang cowok! Itu beneran bukan lo?”
“Harus berapa kali gue bilang Ga?”
“Tapi sumpah wajahnya mirip banget sama lo. Kayaknya tadi gue denger namanya disebut.. siapa ya?? Amel.. bukan – bukan.. Imel.. bukan.. Haduhh., siapa ya???” Yoga mikir – mikir buat nginget nama cewek yang mirip Mawar. “Melati.” Kata Yoga tiba – tiba.
“Apanya?” tanya Mawar gak ngerti. “Ya nama cewek tadi. Melati! Kebetulan banget ya? Wajah.. mirip.. nama juga nyambung! Sama – sama nama bunga. Mungkin kembaran kali lo sama cewek tadi.”
“Ada – ada aja lo. Mungkin cuma kebetulan! Udah.. udah.. sana lo pulang!”
---
“Mawar?” tokk.. tokk.. tokk.. tok.. Mama Mawar mengetuk pintu kamar Mawar.
“Mawar? Obat kamu yang tadi pagi sama tadi sore gak kamu minum ya?” tanya Mama Mawar dari luar. Tapi tidak ada jawaban dari Mawar.  Mama mulai panik. “Mawar?” tokk.. tokk.. tokk.. tokk...
Mama mencoba membuka pintu. Ternyata gak dikunci. Mama langsung masuk ke dalam dan melihat Mawar pingsan dengan muka pucat. “Mawar?” Mawar langsung di bawa ke rumah sakit.
---
“Vin, mana Mawar?” tanya Yoga. Dari pagi Yoga udah nyari Mawar tapi sampai bel masuk bunyi, Mawar belum ketemu. “Lah lo kira gue nyokapnya yang tau kemana si Mawar?” Jawab Alvin dengan sewot.
“Kan bisanya lo tau kemana Mawar!”
“Nyokapnya bilang dia sakit. Udah ah. Gue masuk kelas dulu.”
Sepulang sekolah, Yoga pergi ke rumah Mawar buat ngejenguk Mawar. Tapi di rumah Mawar gak ada siapa – siapa. Gak tau kenapa, Yoga kepikiran buat ke rumah sakit. Saat sampai di rumah sakit Yoga mendengar suster yang bicara tentang Mawar.
“Orangtua pasien di kamar 20, Mawar Krisma Putri bilang akan segera mendapatkan donor sumsum tulang Dokter.”
Donor sumsum tulang? Bukannya itu untuk penderita kanker darah? Apa mungkin yang disebut tadi bukan Mawar? Tapi namanya sama, Mawar Krisma Putri. Banyak pertanyaan di benak Yoga. Yoga memutuskan untuk melihat pasien yang dibicarakan, apakah benar itu Mawar atau bukan.
Setelah sampai di kamar nomer 20, Yoga langsung membuka pintunya. Dan yang sedang tidur ternyata benar – benar Mawar. “Mawar sakit kanker? Tapi kenapa Alvin gak tau? Gak ada yang tau tentang ini?” kata Yoga berkata pada diri sendiri. Melihat Mawar yang sepertinya akan bangun, Yoga cepet – cepet keluar dari ruangan.
“Tadi suara Yoga?” gumam Mawar. “Mungkin cuma halusinasi!” kata Mawar lagi.
---
Baru aja Mawar masuk gerbang sekolah, udah ketemu Angel. “Heh.. dari mana aja lo anak mama?” Mawar langsung jalan masuk ke kelas gak menghiraukan perkataan Angel.
“Mawar.” Yoga yang melihat Mawar sudah masuk sekolah, langsung menghampiri Mawar.
“Iya, ada apa Ga?”
“Lo udah pulang dari rumah sakit?” Ekspresi Mawar langsung terkejut mendengar apa yang diucapkan Yoga. “Rumah sakit? Dari mana lo tau?”
Yoga yang keceplosan langsung bingung mau jawab apa. “Er—itu.. Em—gue itu.. gue.. gue ke rumah lo tapi gak ada orang, ya gue pikir lo pasti di rumah sakit. Kata Alvin lo kan sakit.” Kata Yoga gugup.
“Oh.. gue ke kelas dulu.”
Mawar baru mau masuk kelas tapi Angel menghalangi jalan. “Udah berapa kali gue bilang, lo jangan deketin Yoga.” Mawar tidak menghiraukan perkataan Angel dan mau langsung masuk kelas tapi Angel mencekal tangan Mawar. “Mau kemana lo anak mama? Kenapa?”
“Gue gak deketin Yoga. Dan gue akan pergi ngejauh dari Yoga.” Lalu Mawar langsung masuk ke kelas. Di kelas, udah ada Alvin yang ngelihatin Mawar dan Angel dari tadi.
“Ngapain lagi si nenek lampir?” tanya Alvin saat Mawar udah duduk.
“Gak tau gue. Capek ngurusin si Angel.”
“Lo masih pucat. Kenapa lo masuk?”
“Gue udah baikan kok Vin.”
---
“Kamu udah pulang sayang?” Mama Mawar udah nunggu Mawar pulang dari tadi. “Iya Ma.” Jawab Mawar singkat dengan nada yang lemah. “Mama mau ngajak kamu ketemu seseorang. Kamu ganti baju dulu ya?”
Mawar langsung berjalan menuju kamarnya. Belum sampai di kamarnya, Mawar jatuh pingsan. Mama Mawar langsung membawa Mawar ke rumah sakit.
“Halo Alvin? Mawar masuk rumah sakit. Kamu bisa ke sini?.. Iya udah tante tunggu.”
Gak beberapa lama, Alvin dateng ke rumah sakit bareng Yoga, Febri dan... Angel. “Mawar kenapa tante?” tanya Alvin.
“Mawar dari dulu udah di vonis penyakit limfoma, sejenis kanker darah.” Jelas Mama Mawar.
“Kanker?” Angel sponten mengeluarkan suara. “Dari dulu Mawar gak mau ada yang tau tentang penyakitnya. Tapi sekarang kalian harus tau. Keadaan Mawar tambah parah.” Mama Mawar melanjutkan penjelasannya.
“Tante mau ke ruangan dokter dulu. Kalian tunggu di luar dulu ya?”
Semuanya duduk di depan ruangan Mawar. “Jadi ini maksud Mawar?” kata Angel tiba – tiba bicara. “Apa maksud lo nenek lampir?” kata Alvin langsung nyamber.
“Mawar bilang kalo dia bakal pergi ngejauh dari Yoga.”
“...” tidak ada yang bicara lagi.
Tiba – tiba ada yang datang. “Kamu?” kata Yoga tiba – tiba. Membuat yang lain melihat ke arah seseorang yang baru datang.
“Lo Mawar? Tapi Mawar kan sakit. Ada di dalam.” tanya Febri.
“Masak Mawar ada dua. Siapa lo?” tanya Angel juga.
“Dia bukan Mawar.” Kata Yoga menjawab pertanyaan Febri dan Angel.
“Iya. Dia bukan Mawar. Rambut Mawar lebih pendek, dan Mawar gak punya tahi lalat di bawah mata.” Kata Alvin menjawab dengan nada dramatis.
“Gue mau ketemu Tante Saras. Katanya Tante Saras ada disini.” Kata seorang cewek yang baru dateng.
“Tante Saras lagi sama dokter. Lo siapa?” tanya Yoga agak ketus.
“Nama gue Melati. Ini temen gue Kevin.” Kata Melati sambil memperkenalkan laki – laki bernama Kevin yang ada di sampingnya. “Gue disuru nenek nemuin Tante Saras.”
“Lo tunggu aja.”
---
“Melati ini kembaran Mawar, Melati selama ini ikut Papanya.” Semuanya terperangah mendengar perkataan Tante Saras. Antara kaget dan gak percaya. “Mawar membutuhkan donor dari Melati. Tapi untuk saat ini itu tidak bisa dilakukan karena keadaan Mawar tidak stabil.” Pinta Tante Saras pada Melati.
“Jadi Mawar gimana tante?” tanya Yoga.
“Mawar akan dibawa ke luar negeri untuk berobat. Melati mau ikut kan?”
Yang ditanya hanya diam. Air mata yang sudah dibendung, tidak bisa ditahan lagi oleh Melati. “Aku perlu waktu. Semua ini terlalu cepat.” Melati langsung lari keluar dengan air mata mengalir di pipinya. Kevin langsung menyusul Melati.
“Melati tunggu...” Kevin berteriak agar Melati berhenti. “Sebenarnya Ada apa ini Vin? Mama aku masih hidup.. Aku punya kembaran.. apa – apaan semua ini?”
“Melati.. Mawar itu saudara kamu. Masak kamu gak mau bantu?”
“Aku perlu waktu Vin.”
---
“Tolong doakan Mawar cepat sembuh ya.. Mawar akan kembali secepatnya setelah keadaannya membaik.” Kata Tante Saras memberi salam perpisahan.
Semua menatap sosok Mawar yang akan segera berangkat ke luar negeri. Tak ada yang mampu membendung air mata kesedihan yang ada. Semuanya mengalir begitu saja.
“Sampai ketemu lagi Mawar. Cepet sembuh ya!” kata Yoga dalam hati.

~THE END~

Cerpen "The First Rain"

The First Rain
Hari ini adalah hari pertama Rey Ferdinand pindah ke sekolah barunya. Rey harus tinggal bersama dengan kakaknya karena orang tuanya harus pindah jauh dan Rey tidak mau ikut dengan orang tuanya. Rey memilih tinggal dengan kakaknya meskipun akhirnya dia juga harus pindah sekolah.
Sepertinya, hari ini Rey terlalu pagi untuk datang ke sekolah.
“Kayaknya salah nih dateng jam segini.” Kata Rey pada diri sendiri.
Saat matanya sibuk melihat sekeliling sekolahnya yang baru, tiba – tiba... Brakkk..
“Maaf.” Kata seseorang yang menabrak Rey tadi sambil membereskan bukunya yang terjatuh.
Rey membantu orang yang menabraknya tadi untuk membereskan bukunya. “Saya juga minta maaf. Tadi gak lihat jalan.” Kata Rey sambil memberikan buku milik orang yang tadi ditabraknya.
“Terimakasih. Permisi.” Kata orang yang menabrak Rey. Sekilas orang tersebut menatap Rey lalu langsung pergi.
---
Sejak pagi, mentari sudah terhalang oleh awan hitam yang siap menjatuhkan airnya kapan saja. Membuat suasana masih terlihat sangat pagi. Namun hal itu tidak membuat gadis blasteran Indonesia-Inggris yang bernama Meisya Wilson menjadi malas. Meisya berangkat sekolah sejak pukul 6 pagi.
Saat Meisya memasuki kelas, sudah ada Dwi Ariani—teman Meisya dan beberapa murid lainnya.
“Tumben dateng pagi Mei?” tanya Dwi.
“Belom ngerjain PR. Nyontek dong!”
“Dikirain udah tobat sekarang dateng pagi. Eh—ternyata modus dateng pagi.”
“Ngomelnya nanti aja ya Dwi sayang. Kamu kan sahabatku yang paling baik.” Kata Meisya dengan nada yang manis untuk merayu Dwi. Dwi meberikan bukunya untuk di contek Mei.
“Gak mungkin banget si Mei dateng pagi kalo gak ada maksudnya. Biasanya juga datengnya mepet – mepet bel masuk.” Kata teman Mei yang lain.
“Udah deh Jo. Jangan cari gara – gara pagi – pagi kayak gini. Emang kenapa kalo gue dateng pagi cuma buat ngerjain PR? Masalah buat lo?” kata Mei menanggapi perkataan Jonathan.
“Tiap ada PR selalu nyontek. Kalo gitu mending gak sekolah lo?” kata Jonathan pada Mei.
“Kayak lo gak nyontek aja. Asal lo tau ya.. Ini pengecualian buat pelajaran kimia si guru chiller. Gue gak minat ngerjain sendiri pelajaran kimia.” Kata Mei tambah nyolot.
“Udah kalian berdua selalu gak pernah tenang. Mei kerjain aja PR kamu.” Kata Dwi menengahi.
            Mei mengerjakan PR kimianya dengan cepat sebelum bel masuk sekolah berbunyi. Atau kalau enggak, Mei akan dihukum berdiri di bawah tiang bendera sampai jam istirahat. Jam pertama berlalu dengan sangat membosankan. Bukan hanya Mei, tapi semua satu kelas merasakan hal yang sama.
Tettt... Tett... Tett...
“Ye... Istirahat.”
“Jangan lupa kerjakan pekerjaan rumah kalian.” Kata guru kimia menjelaskan.
“Hadehh... kapan sih nih guru gak ngasi PR. Capek ngerjain kimia mulu. Kalau PR kamu udah selesai, aku nyontek ya Dwi... Kamu kan baik.” Kata Mei mengeluh sekaligus merayu Dwi lagi.
“Selalu gitu.” Kata Dwi menimpali.
Setelah itu Mei langsung lari keluar kelas. “Ehh Mei mau kemana?” tanya Dwi.
“Mau ke perpus. Mau pinjem buku buat ulangan fisika besok.” Kata Mei.
“Tapi aku mau ngomong dulu.”
“Udah nanti aja. Sekarang aku ke perpus dulu. Bye! Jangan kangen sama aku ya?” Mei lari keluar diikuti suara tawanya.
---
Mei memasuki perpustakaan dan mencari buku yang ingin dia pinjam. Tapi saat dia asik mencari buku, ada yang menggangu.
“Ngapain lo? Mau pinjem buku? Emang lo pernah belajar?” kata Jonathan meledek Mei.
Mei tidak memerhatikan perkataan Jonathan dan  tetap mencari bukunya.
“Sok rajin banget lo. Emang lo peduli kalo besok ulangan?” kata Jonathan lagi.
“Lo jangan cari gara – gara ya! lo jadi orang jangan nyebelin dong.” Kata Mei dengan nada tinggi.
Penjaga perpustakaan mendengar pertengkaran Jonathan dan Meisya. Jonathan dan Meisya langsung diusir keluar dari perpustakaan. Mereka jalan beriringan menuju kelas, di jalan.. mereka berdua tetap berantem dan tidak melihat jalan yang di depannya. Dan mereka berdua menabrak sesuatu. Meisya dan Jonathan melihat siapa yang baru saja mereka tabrak. Keduanya terbelalak setelah melihat siapa yang mereka tabrak.
“Hadduuhh.. si chiller!” kata Mei dalam hati.
“Kali kalau jalan itu lihat ke depan. Kalian berdiri di bawah tiang bendera sampai jam pulang sekolah.”
“Tapi Bu...” “Tidak ada yang membantah.” Sebelum Jonathan menyelesaikan perkataannya, Bu Riska sudah memotong pembicaraannya.
“Saya gak sengaja Bu. Ini nih bu gara – gara Jo.” Kata Mei menyalahkan Jo.
“Enak aja. Lo yang gak liat jalan.” Kata Jonathan menyalahkan Mei.
“Sudah! Cepat kalian berdiri di bawah tiang bendera.” Kata Bu Riska.
“Tapi kayaknya bentar lagi hujan Bu.” Kata Mei.
“Lalu? Daripada kalian kepanasan. Cepat!” kata Bu Riska tegas.
Meisya dan Jonathan terpaksa menjalani hukuman yang menurut mereka gak adil. Tapi itulah yang harus dilakukan jika melakukan kesalahan apalagi sama guru ‘chiller’. Saat di tengah hukuman, Jonathan dipanggil untuk menemui guru BK yang artinya Jonathan selamat dari hukuman. Sekarang tinggal Meisya sendirian. Dan bel pulang sekolah tinggal 15 menit lagi. Namun, hujan sudah turun dengan deras dan membuat seluruh badan Meisya basah.
Teett... Teett.. Teett.. Teett.. bel pulang sekolah berbunyi.
Meisya kembali ke kelasnya untuk mengambil tas dan barang – barangnya. Semua temannya sudah pulang. Dwi juga sudah tidak ada di kelas. Setelah itu, Meisya menunggu jemputan di luar sekolah sambil hujan – hujanan. Entah hanya perasaan Meisya atau memang laki – laki yang dari tadi berteduh di depan kelas memperhaikannya.
Tiba – tiba..
“Ngapain lo hujan – hujanan? Masa kecil lo gak menyenangkan sampe – sampe sekarang lo main hujan – hujanan.” Kata Jonathan meledek Meisya. Meisya tidak menjawab, Meisya menyimpan tenaganya karena sudah kedinginan.
“Gue lagi baik sama lo. Lo mau bareng gak?” tanya Jonathan. Tapi Meisya tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan dari Jonathan. “Ya udah kalo gak mau.” Jonathan langsung meninggalkan Meisya.
---
Kelas Rey berada di dekat lapangan upacara. Sedari istirahat, Rey memperhatikan dua orang yang dihukum di bawah tiang bendera. Rey memerhatikan sosok perempuan yang sedari tadi dilihatnya terus – terusan bertengkar dengan laki – laki disebelahnya yang sedang dihukum juga.
“Mereka siapa?” tanya Rey pada temannya.
“Mereka? Mei sama Jonathan? Mereka udah sering dihukum kayak gitu.” Kata teman Rey.
“Sering?” tanya Rey heran.
“Iya itu karena ulah mereka sendiri. Mereka selalu berantem. Dan itu yang membuat mereka sering dihukum. Mereka udah satu kelas sejak awal masuk sekolah ini.” Kata teman Rey menjelaskan.
Sepulang sekolah, Rey menunggu hujan reda di depan kelasnya. Matanya menemukan sosok yang sedang berdiri di depan sekolah dan sedang hujan – hujanan. Sosok itu adalah orang yang sama yang Rey lihat di lapangan upacara tadi ketika perempuan itu di hukum.
Entah apa yang menarik dari diri perempuan yang sedari istirahat tadi Rey perhatikan. Rey merasa ada yang tidak asing pada diri perempuan itu. Rey menghampiri perempuan yang sedang kehujanan itu. Rey memayungkan tasnya agar dia tidak kehujanan.
“Kenapa tidak berteduh?” Rey bertanya saat dia sudah di sebelah perempuan yang sedari tadi dia perhatikan. Meisya langsung melihat orang yang berbicara di sebelahnya.
“Aku?” kata Mei bertanya seperti orang bodoh.
“Ya. kau! Kenapa tidak berteduh?” tanya Rey lagi.
“Seragamnya juga udah basah. Ngapain berteduh.” Jawab Mei enteng.
“Gak takut sakit?”
Bukan menjawab pertanyaan Rey, Mei malah melihat Rey dengan tatapan aneh. Membuat Rey risih. “Kenapa?” tanya Rey lagi.
“Kamu anak baru? Kok gak pernah lihat?” pertanyaan Rey dijawab dengan pertanyaan pula dari Mei.
“Oh ya.. Aku Rey.” Rey mengucapkan salam kenal dan mengulurkan tangannya.
Mei melihat uluran tangan Rey dan sedikit berpikir sebelum akhirnya dia menerima uluran tangan Rey. “Meisya.” Kata Mei menyebutkan namanya sambil tersenyum.
---
Sesampainya di rumah, Mei langsung mandi dan ganti baju. Setelah itu, Mei langsung menghadap bukunya di meja belajar untuk mengerjakan PR kimianya. Buku kimianya memang sudah dibuka, namun hanya diletakkan disampingnya. Sedangkan, tangannya menulis sesuatu di buku yang lain.
The First Rain on 2014
Aku selalu tidak suka hujan. Apalagi hujan pertama saat baru masuk musim hujan. Setiap hujan pertama turun, aku selalu mengingatnya. Mengingat kejadian saat dimana aku mendapatkan buku ini.
Tapi hari ini, saat hujan pertama turun.. Aku bisa tersenyum di bawah tetesan airnya.. Karena seseorang yang baru kukenal.
Mei memikirkan lagi saat dia bertemu dan berkenalan dengan Rey. “Kenapa tiba – tiba anak baru itu nyamperin aku ya?” pikir Mei.
Mei tertidur di atas meja belajarnya. Akhirnya, paginya Mei terburu – buru dan memasukkan semua buku yang ada di atas meja belajarnya.
Sesampainya di sekolah, Mei langsung berlari menuju ke perpustakaan.
“Mei mau kemana?” tanya Dwi yang berteriak pada Mei.
“Mau ke perpustakaan dulu. Mau ngembaliin buku.”
Karena 10 menit lagi bel masuk, Mei cepat – cepat mengeluarkan buku yang ingin dia kembalikan dan kembali ke kelas sebelum dia telat dan mendapat hukuman lagi.
---
Pagi ini Rey berangkat sekolah agak pagi karena harus pergi ke perpustakaan untuk meminjam buku. Setelah menemukan buku yang ingin dipinjam, Rey membawanya. Saat akan keluar dari perpustakaan, Rey melihat seseorang menjatuhkan buku dari dalam tasnya. Rey ingin mengembalikannya, tapi orang itu sudah lari. Akhirnya, Rey mengambilnya dan berniat akan mengembalikannya nanti.
Rey penasaran dengan isi buku yang dia temukan tadi. Rey membuka buku bersampul pink yang ia temukan tadi. Dan Rey menemukan nama pemilik buku itu.
---
Setelah sampai di kelas, Mei langsung duduk di sebelah Dwi dengan nafas terengah – engah. Untungnya Mei tepat waktu. Sebelum pelajaran pertama di mulai, Mei sudah ada di kelas. Di kelas, Mei memerhatikan teman sebangkunya—Dwi yang sedari tadi gak fokus senyum – senyum sendiri. Padahal sedang ada pelajaran matematika, dan faktanya Dwi tidak pernah melewatkan pelajaran matematika sedikitpun.
“Dwi!” panggil Mei.
“Hm.. Apa?” tanya Dwi.
“Kamu kenapa sih?”
“Gakpapa.”
“Gakpapa apanya? Dari tadi senyum – senyum sendiri.”
“Dari kemaren aku mau cerita sama kamu tapi kamu ke perpustakaan.” Kata Dwi berbicara kepada Mei dengan sedikit berbisik.
“Emang mau cerita apa’an? Sampe senyum – senyum gitu.”
“Kamu tau atau belom kalo ada murid baru di sekolah kita?”
“Kelas berapa? Kelas 10 apa kelas 12?”
“Emang kelas 10 ada siswa baru?”
“Ada. Aku juga gak tau kenapa dia baru masuk sini di tengah semester. Kalo gak salah sih dia adiknya Rey.”
“Apa? Rey siapa?”
“Anak baru di kelas 12. Anak cowok yang katanya pinter itu?”
“Kamu kok tau namanya?”
Kemaren aku ketemu sama dia waktu pulang sekolah!”
“Apa?” Dwi berbicara terlalu keras dan membuat guru matematika yang sedang mengar di kelas menjadi menoleh ke arahnya.
“Kenapa Dwi?” tanya guru.
“Mm.. gakpapa Pak.” Jawab Dwi.
“Paling itu ulah Mei yang ganggu Dwi, Pak.” Kata Jonathan tiba – tiba berbicara.
“Eh—kok lo nyamber – nyember aja sih. Jangan sok tau deh.” Kata Mei marah.
“Kalo bukan lo yang ganggu Dwi siapa lagi? Dwi kan anaknya pendiam dan selalu dengerin pelajaran. Gak kayak lo.” Kata Jonathan mengejek Mei.
“Eh kayak lo kerajinan aja.” Jawab Mei.
“Sudah.. Mei.. Jonathan.. kalian sering sekali buat keributan di kelas.”
“Mei yang selalu buat keributan, Pak!” kata Jonathan.
“Enak aja. Jo duluan yang mulai, Pak!” kata Mei gak mau kalah.
“Sudah. Kalian ini selalu saja seperti ini. Kalian berdua berdiri di luar kelas sampai jam pelajaran saya selesai. Cepat! Sekarang.”
Mei dan Jonathan terpaksa keluar kelas dan berdiri di depan kelas. Saat berdiri di depan kelas, Mei melihat Rey yang masuk ke kelas sebelah. Rey melihatnya, dan Mei hanya tersenyum melihat tatapan Rey.
---
Rey pergi ke kelas XII-MIA 1 untuk memberikan tugasnya kepada seorang guru. Saat akan memasuki kelas XII-MIA 1, Rey melihat Mei dan satu orang lagi bersama Mei sedang ada di depan kelas XII-MIA 2. Rey melihat Mei yang sedang di hukum, Mei memberikan senyum pada Rey. Kebetulan saat Rey akan masuk kelas XII-MIA 1, bel pergantian jam sudah berbunyi. Jadi Rey menunggu guru yang ada di kelas XII-MIA 1 keluar.
Saat menunggu, guru di dalam kelas XII-MIA 1 keluar.
“Ternyata pelajaran matematika. Tapi kenapa mereka di luar? Apa mereka dihukum lagi?” pikir Rey.
Rey mendengarkan perkataan guru matematika itu terhadap Mei dan Jonathan.
“Kalian berdua, temui saya nanti saat jam istirahat di ruang guru.”
“Baik, Pak!” jawab Mei dan Jonathan bersamaan.
Setelah guru matematika sudah pergi, Mei dan Jonathan bertengkar sebelum masuk ke dalam kelas. Dan Rey melihat Mei dan Jonathan sedang beradu mulut.
“Ini semua gara – gara lo.” Kata Jonathan.
“Kenapa nyalahin gue? Lo yang ikut campur masalah gue sama Dwi.”
Bu Dian—guru yang baru saja mengajar kelas XII-MIA 1 keluar, membuat Rey mengalihkan perhatiannya dari Jonathan dan Mei kepada Bu Dian.
“Ada apa Rey?” tanya Bu Dian.
“Ini Bu saya mau mengumpulkan tugas.” Rey memberikan kertas tugasnya kepada Bu Dian.
Perhatian Bu Dian teralihkan oleh pertengkaran Mei dan Jonathan.
“Mei.. Jo..” kata Bu Dian menegur Mei dan Jonathan.
Mei dan Jonathan tersenyum melihat Bu Dian lalu masuk ke dalam kelas.
“Saya permisi Bu.” Kata Rey.
Saat kembali ke kelas, ternyata guru yang mengajar kelas Rey—XII-MIA 5 belum datang ke kelas. Rey mengobrol dengan temannya.
“Lo kenal yang namanya Meisya Wilson?” tanya Rey pada temannya.
“Emang kenapa? Dari kemaren lo tanya tentang Mei terus. Lo suka sama dia?” kata teman Rey.
“Dari kemaren? Maksudnya?” tanya Rey tidak mengerti.
“Meisya Wilson is Mei. Dia yang selalu dihukum bareng Jo.” Kata teman Rey menjelaskan.
“Gue gak tau kalau nama lengkapnya Mei itu Meisya Wilson.”
---
“Mei, maaf ya.. gara – gara aku, kamu jadi dihukum.”
“Nyantai aja kali Dwi. Aku kan udah biasa dihukum. Ini bukan gara – gara kamu. Tapi ini semua itu salahnya Jo. Udahlah gak usah dibahas. Tadi kenapa tiba – tiba berteriak gitu?”
“Kamu tau nama anak baru di kelas MIA 5?”
“Rey?”
“Iya.”
“Aku kenalan sama dia kemaren.”
Dwi hanya diam. Lalu Mei yang bicara lagi. “Kamu suka ya sama Rey?” goda Mei.
“Eng—Eng-Enggak.”
“Gak usah bohong.” Goda Mei lagi.
“Aku mau ke perpustakaan dulu.” Kata Dwi mengelak dan langsung pergi.
---
“Dwi, nanti aku ke rumah kamu ya mau belajar bareng.” Kata Mei pada Dwi.
“Maaf. Aku gak bisa.” Jawab Dwi.
“Lho kenapa?”
“Aku ada acara.”
Beberapa saat sebelumnya....
“Hay.” Kata salah satu siswa yang menyapa Dwi di perpustakaan. Dwi kaget melihat siapa yang baru saja menyapanya. Melihat reaksi Dwi yang tidak merespon, Rey menjadi heran.
“Kamu gakpapa?” tanya Rey pada Dwi. Pertanyaan Rey membuat Dwi menemukan kembali kesadarannya.
“Eh—Iya gakpapa.” Jawab Dwi sedikit gugup.
“Kamu anak kelas MIA 2 kan?” tanya Rey.
“Iya.”
“Berarti kamu tau Meisya dong?”
Dwi terkejut mendengar nama sahabatnya disebut oleh yang membuatnya kagum. “Iya memangnya kenapa?” tanya Dwi akhirnya. Raut wajahnya berubah ketika nama sahabatnya disebut – sebut.
“Gakpapa sih. Cuma nanya aja! Aku duluan ya.
Setelah itu, Rey pergi meninggalkan Dwi.
---
Rey melihat Mei sedang duduk membaca sebuah buku di perpustakaan. Rey masuk ke dalam dan menghampiri Mei.
“Hai Mei..” Sapa Rey.
“Oh.. Hai Rey.” Jawab Mei.
“Lagi baca apa?” tanya Rey.
“Baca novel. Aku bukan anak rajin yang tiap hari bacaannya buku pelajaran.”
“Suka baca novel?” tanya Rey.
“Iya daripada baca buku pelajaran.”
“Dari tadi nyambunginnya sama pelajaran terus. Kayaknya otak kamu perlu di refresh biar gak selalu ngomong kata ‘pelajaran’.”
“Iya emang otakku itu gak pernah di refresh sejak masuk sekolah ini. Tiap hari mikirin pelajaran yang gak aku ngerti.”
“Gimana kalo lusa kita nonton. Ada film baru yang bagus di bioskop. Gimana?” kata Rey menawari.
Mei tidak menjawab tawaran dari Rey. Malah Mei menatap Rey aneh. “Kenapa ngeliatinnya kayak gitu?” tanya Rey.
“Lo ngajak gue nge-date?” tanya Mei, tapi hanya bercanda.
“Cuma nonton. Terserah kamu nyebutnya apa!”
“Tapi....” Mei memikirkan sesuatu dan tidak meneruskan kata – katanya.
“Gak ada tapi. Pokoknya lusa kita nonton.”
“Lah kok maksa?”
Ditengah pembicaraan Rey dan Mei, tiba – tiba Jonathan datang dan menyela.
“Heh.. Ini perpustakaan, bukan tempat pacaran.” Kata Jonathan pada Mei dan Rey.
“Sirik aja lo.” Kata Mei yang sedang malas berdebat dengan Jonathan.
---
Hari ini, Rey pergi ke rumah Mei. Saat memasuki kompleks perumahan, Rey mengecek alamat Mei yang dia dapat dari temannya. Setelah mencari, akhirnya Rey menemukan rumah Mei.
“Permisi..”
Seseorang datang membukakan pintu...
“Iya mas, nyari siapa ya?” tanya orang paruh baya yang membukakan pintu.
“Mei. Mei nya ada?” tanya Rey.
“Ada. Sebentar ya, Mas.” Kata wanita paruh baya tadi.
Setelah beberapa lama, Mei keluar menemui Rey. Dari ekspresinya, sepertinya Mei kaget melihat Rey ada di depan pintu rumahnya. “Rey?” kata Mei dengan nada tinggi.
“Hay.. Kamu belum siap?” tanya Rey. Mei heran mendengar perkataan Rey.
“Siap?” kata Mei tidak mengerti.
“2 hari yang lalu kan kita janjian mau nonton.” Kata Rey dengan nada ringan.
“Aku kira itu hanya bercanda. serius?”
“Ya ini aku udah disini. Masak aku harus pulang sia – sia?”
“Baik. Tunggu!” Mei langsung lari masuk ke dalam. Sekitar 5 menit, Mei sudah berganti baju dan siap untuk pergi.
Sesampainya di gedung biosop..
“Tau dari mana alamat rumahku?” tanya Mei pada Rey.
“Itu gak penting. Anggep aja aku ini fans kamu jadi aku tau segalanya tentang kamu.” Mei tertawa mendengar perkataan Rey. Lalu Mei dan Rey masuk ke gedung bioskop.
Itu adalah awal kedekatan antara Rey dan Mei. Mei lupa dengan perasaan Dwi yang menyukai Rey. Dan sepertinya, Mei mulai merasakan rasa yang sama seperti yang dialami Dwi pada Rey. Setelah kejadian ini, Mei dan Rey semakin dekat dan sering jalan berdua.
---
“Dwi.. Dwi...” Mei memanggil Dwi dari kejauhan. Mei melihat Dwi berjalan ke arah lapangan basket. Mei yakin suaranya sudah cukup keras. Tapi mungkin Dwi tidak mendengarnya. Karena Dwi tidak menghiraukannya, Mei pergi ke kelas karena beberapa menit lagi sudah bel masuk kelas.
“Kamu dari mana tadi Dwi?” tanya Mei ketika Dwi masuk kelas.
Betapa kagetnya Mei dengan sikap Dwi. Dwi tidak menghiraukan Mei. “Jo, tuker tempat duduk dong.” Kata Dwi pada Jonathan.
“Ogah.” Jawab Jonathan santai.
“Reva, tuker tempat duduk ya?” kata Dwi pada Reva—teman sebangku Jonathan—
Tettt... Tett.. Tett.. Tett...
Bel pulang sekolah sudah berbunyi. Tapi Mei belum membereskan buku – bukunya. Kebetulan Jonathan juga belum pulang.
“Kenapa lo belum pulang?” tanya Mei pada Jonathan.
“Ngapain lo nanya – nanya? Gue emang udah sering pulang belakangan. Nah lo kenapa?” Jonathan bertanya balik kepada Mei.
“Em---.” Mei menimbang – nimbang untuk bertanya sesuatu kepada Jonathan. Setelah berpikir akhirnya Mei melanjutkan kata – katanya “Em—lo tau Dwi kenapa? Dia kayaknya marah sama gue. Bener – bener marah. Gue gak pernah liat Dwi semarah itu sama siapapun. Lo tau?”
Dengan entengnya, Jonathan menjawab. “Enggak.”
“Haahh.. Percuma ngomong sama lo.” Mei menyesali keputusannya untuk cerita kepada Jonathan.
“Lagian siapa yang nyuru lo ngomong sama gue?” kata Jonathan. Mei langsung pergi meninggalkan Jonathan sendirian di kelas.
Di luar sekolah, Mei bertemu dengan Rey.
“Mau pulang Mei?” tanya Rey.
“Iya. Ini mau minta jemput.” Jawab Mei. Tiba – tiba Jonathan keluar dari sekolah dengan motornya.
“Gimana kalo barengan aja. Rumah kita searah kan? Dan kalo kamu mau, kita bisa makan dulu sebelum pulang.”
“Hm.. Boleh juga... Kalo gak ngerepotin..”
“Gak papa lagi Mei. Ayo!” ajak Rey.
---
“Sampai kapan kamu nyimpen semuanya?” tanya seorang cewek kepada cowok yang duduk di sebelahnya.
“Maksud lo?” tanya cowok pada cewek.
“Kamu simpen perasaan kamu mulai dari kecil. Sampai sekarang kamu terus menyimpan semuanya rapi – rapi. Sebentar lagi, kamu pasti kehilangan Mei.” Kata cewek memberikan penjelasan kepada cowok.
“Maksud lo kehilangan?”
“Kamu pasti tau akhir – akhir ini Mei dekat dengan Rey. Cinta kamu akan sia – sia kalau kamu gak bilang sama Mei sekarang juga. Kamu harus bilang sama dia Jo.”
“Lo bilang gini karena sebenernya lo suka sama Rey kan? Lo sekarang ngejauh dari Mei karena Mei deket sama Rey kan. Gue pasti akan bilang tentang perasaan gue, nanti. Lo gak seharusnya perlakuin Mei kayak gitu. Mei selalu baik sama lo. Mei juga hanya dekat dengan Rey. Gak ada status apa – apa diantara mereka. Kalo lo emang sahabatnya Mei, lo seharusnya bisa jelasin semuanya sama Mei. Kalo lo nyuru gue kesini cuma buat ngomong itu, itu gak penting. Tentang perasaan gue sama Mei itu urusan gue sendiri. Lo pikirin persahabatan lo sama Mei. Jangan hanya karena Rey persahabatan lo berdua hancur.”
“Aku pikirin itu nanti. Aku pulang dulu.” Dwi keluar dari kafe. Di luar kafe, Dwi melihat sesuatu yang membuat hatinya semakin sakit.
---
Rey mengajak Mei makan di sebuah kafe sebelum pulang. Mei menurut karena sebenarnya perutnya juga sudah lapar karena tidak makan saat jam istirahat. Rey memarkir motornya dan masuk ke dalam kafe.
Mei seperti melihat sosok yang dia kenal baru keluar dari kafe. “Dwi...Dwi...” kata Mei berteriak. Tapi, orang yang dipanggilnya tidak menengok. Mungkin itu hanya perasaan Mei saja...
“Kenapa?” tanya Rey.
“Gakpapa. Orang itu mirip temenku.” Jawab Mei.
Rey dan Mei masuk dan memesan makanan. Setelah pelayan pergi, Jonathan pergi. Tapi Mei melihatnya dan memanggilnya.
“Jo!” panggil Mei. Jonathan menoleh.
“Lo?” Jonathan bingung dan gelisah melihat Mei di dalam kafe.
“Lo kesini sama siapa? Atau tadi yang gue liat bener – bener Dwi?” kata Mei pada Jonathan.
“Ngomong apa sih lo?” jawab Jonathan.
“Lo kesini sama Dwi? Tadi gue panggil dia tapi gak nengok. Lo pasti tau kenapa dia hari ini? Kenapa sikapnya sama gue?” kata Mei lagi.
“Jawab dong Jo. Dwi itu sahabat gue.” Kata Mei lagi setelah tidak mendapat jawaban apapun dari Jonathan.
Akhirnya Jonathan menjawab semua pertanyaan Mei. “Iya gue kesini ketemu Dwi.” Jonathan menghembuskan nafas panjang. “Sekarang lo pikir apa yang bisa ngebuat sikap Dwi ke lo itu berubah. Lo sahabatnya kan? Seharusnya lo ngerti.”
“Maksud lo apa? Gue gak ngerti.” Tanya Mei. Rey hanya melihat perdebatan antara Jonathan dan Mei.
“Sekarang lo sadar gak lo lagi jalan sama siapa? Hari ini lo makan bareng siapa?” kata Jonathan.
“Ada apa? Kenapa? Kenapa kayaknya gue dibawa – bawa dalam masalah ini?” Rey angkat bicara.
Mei kaget dan baru menyadari sesuatu. Mei mengingat sesuatu yang telah dia lupakan selama ini.
---
Setelah dari kafe, Mei pergi dengan Jonathan.
“Lo tau Dwi suka sama Rey? Lo tau Dwi marah sama gue karena Rey deket sama gue? Tapi lo gak bilang apa – apa?” kata Mei marah – marah.
“Gue gak punya hak buat bilang itu. Ini masalah antara lo sama Dwi. Buat apa gue ikut campur.” Kata Jonathan dengan tenang.
“Sejak kapan Dwi cerita sama Lo?” tanya Mei.
“Sejak Dwi ngeliat Lo sama Rey nonton bareng.” Kata Jonathan dengan ekspresi yang tenang.
“Apa?” kata Mei kaget.
“Iya waktu itu dia keluar sama kakaknya dan ngeliat lo sama Rey. Dan mungkin, tadi Dwi juga ngeliat lo masuk ke kafe bareng Rey.”
Mei terdiam... memikirkan semuanya. Persahabatannya yang sudah lama harus hancur karena seorang Rey. “Tunggu! Kenapa Dwi cerita sama lo? Kenapa gak sama orang lain?” tanya Mei.
Jonathan tidak langsung menjawab pertanyaan Mei. “Kenapa Jo?” tanya Mei lagi.
“Karena Dwi tau kalau gue suka sama lo.” Jawab Jonathan tetap tenang.  Mei kaget dengan pernyataan Jonathan. Mei melihat ke arah Jonathan, sedangkan orang yang dilihatnya hanya menatap kedepan.
Selama beberapa waktu, tidak ada yang bicara sama sekali. Setelah hening beberapa lama, Jonathan angkat bicara. “Ini udah sore. Gue anterin lo pulang.” Jonathan berdiri. Sedangkan Mei masih terdiam duduk. “Lo mau tidur di taman?” tanya Jonathan.
Akhirnya Mei beranjak dari tempat duduknya dan pergi pulang bersama Jonathan. Setelah sampai di rumah Mei, Mei turun dari motor Jonathan. Dan Jonathan langsung berbalik tanpa mengucapkan apapun.
“Jo.” Panggil Mei.
“Iya?” kata Jonathan sambil menoleh.
“Makasih udah ngenterin gue pulang.” Kata Mei. Jonathan hanya membalasnya dengan senyuman.
---
Keesokan harinya, Dwi tetap duduk dengan Jonathan. Saat pelajaran di kelas Jonathan berbicara dengan Dwi.
“Lo belum pikirin apa yang gue bilang kemarin?”
“Belum.” Jawab Dwi singkat.
---
Rey melihat Mei di perpustakaan. Akhirnya Rey masuk ke dalam dan menghampiri Mei. Tapi, saat melihat Rey, Mei malah pergi. Seperti menghindari Rey. Selama seharian, Rey mencoba untuk berbicara dengan Mei, namun Mei terus menghindar.
Akhirnya Rey memutuskan untuk pergi ke rumah Mei saat pulang sekolah. Namun, Rey mengurungkan niatnya saat melihat Mei diantar pulang Jonathan. Selama seminggu, Rey tidak bisa bicara dengan Mei.
Hari ini, Rey pulang agak telat. Saat mau pulang, hujan turun sangat deras. Akhirnya Rey memutuskan untuk menunggu hujan reda. Saat matanya melihat sekeliling sekolah, Rey melihat Mei mengulurkan tangannya menangkap tetesan air hujan. Mei menatap air yang jatuh ke tangannya dengan tatapan kosong. Rey menghampiri Mei.
“Kenapa belum pulang Mei?” tanya Rey seolah tidak pernah terjadi apa – apa diantara mereka.
Orang yang diajaknya bicara seperti terkejut melihat kehadiran Rey. “Eh—tadi mau pulang masih hujan.” Jawab Mei.
“Bukannya kamu suka hujan – hujanan. Kamu sampe gak peduli meskipun sakit.”
“Itu beda. Itu hanya hujan pertama saat musim hujan tiba.”
Hening.
“Kamu kenapa?” tanya Rey.
“He? Kenapa apanya?” Mei balik bertanya.
“Kamu berubah. Aku gak tau sih. Tapi menurutku kamu berubah. Selama seminggu ini.”
“Oh ya?”
“Iya. Kenapa?”
“Memangnya penting?”
“Kenapa pertanyaanku selalu dijawab pertanyaan? Aku hanya ingin tau alasan kamu.”
Gak ada alasan khusus. Kehidupanku juga berubah dengan cepat selama beberapa bulan terakhir.”
“Kenapa kamu ngejauhin aku?” tanya Rey to the point.
“Kamu mau tau alasannya?” Mei balik bertanya.
“Mei tolong, jawab pertanyaanku.” Kata Rey
“Karena Dwi.”
“Dwi? Teman sekelas kamu?” Rey tidak mengerti.
“Dia bukan cuma teman sekelasku. Dia sahabatku. Dan dia suka sama kamu.”
---
Sudah lama sejak itu, Mei tidak pernah berbicara lagi dengan Rey. Rey juga tidak pernah berusaha mencari Mei lagi. Mei juga berusaha menyeesaikan masalahnya dengan Dwi.
“Dwi, kamu bilang dong kalo aku ada salah? Aku kan gak tau kalo kamu gak bilang? Dan soal Rey semuanya sudah selesai. Aku gak pernah berhubungan lagi sama dia. Maafin aku yaa.”
“Seharusnya aku yang minta maaf. Gak seharusnya aku marah cuma karena hal ini. Gak seharusnya aku merusak persahabatan kita karena laki- laki.”
“Kamu seharusnya nanya ke aku. Aku sama Rey gak ada apa – apa. Cuma temen.”
“Aku gakpapa kok kalo kamu sama Rey.”
“Sudahlah semuanya sudah selesai, Dwi.”
---
Suatu sore, ada yang mengetuk pintu rumah Mei. Hari itu pembantunya sedang tidak ada di rumah. Jadi Mei sendiri yang membuka pintunya.
“Hai.” Kata seseorang yang berdiri di depan pintunya.
Mei masih diam menatap orang yang ada di depannya. “Aku kesini hanya untuk bicara sebentar.” Kata orang itu lagi.
“Oke. Masuklah.” Ajak Mei.
“Aku ke sini mau mengembalikan ini. Udah lama aku mau ngembaliin tapi lupa.” Kata Rey mengeluarkan sebuah buku bersampul pink. “Aku tidak membuka dan membacanya. Aku hanya membuka bagian depannya saja untuk mengetahu pemiliknya.” Sambung Rey lagi.
“Dar mana?” tanya Mei singkat sambil mengarahkan pandangannya ke bukunya.
“Waktu di perpustakaan kamu menjatuhkannya aku rasa.”
“Oh. Terima kasih ya Rey.”
“Hm.. Iya. Aku ke sini juga mau berbicara sesuatu.”
Mei hanya diam. Rey melanjutkan kata – katanya. “Aku hanya ingin jujur. Apapun yang akan terjadi nanti aku terima. Aku sayang sama kamu Mei. Aku tau ini terlalu cepat dan kita baru kenal beberapa bulan. Tapi kamu bisa buat aku nyaman. Aku hanya ingin jujur. Terserah apa tanggapan kamu.”
“Aku hargai semua kejujuran kamu. Jujur aku juga nyaman selama ini sama kamu. Tapi kamu tau bagaimana jawabanku dan alasanku.”
“Bagaimana kalau Dwi yang memintaku jujur padamu?” kata Rey. Mei tidak mengerti maksud perkataan Rey. “Dwi tidak keberatan dengan ini. Dengan kita.” Kata Rey menjelaskan.
“Ada yang tidak kamu mengerti Rey. Suatu saat kamu pasti akan mengerti. Dan jika Tuhan menakdirkan, kita akan bersama pada waktunya. Namun, jika tidak mungkin itu yang terbaik untuk kita.” Kata Mei akhirnya.
---
Tibalah saat pesta perpisahan sekolah. Semua siswa datang untuk mengucapkan perpisahan kepada masing – masing teman.
“Hai Mei. Kamu cantik hari ini.” Puji Rey kepada Mei yang sedang berkumpul bersama Dwi dan Jonathan. Setelah Rey datang, Dwi dan Jonathan meninggalkan Mei sendiri.
“Terima kasih, kau juga keren.” Ucap Mei dengan tulus.
“Aku mau memberimu sesuatu.” Kata Mei lagi dan mengeluarkan sesuatu dari tasnya dan memberikannya pada Rey.
“Buku ini? Ini milikmu.” Kata Rey.
“Sekarang tidak lagi. Itu milikmu. Kau boleh membacanya. Tapi saat hujan pertama turun di Indonesia. Aku minta maaf dan berterima kasih atas semuanya selama ini. Aku akan melanjutkan sekolahku di London.”
Rey langsung memeluk Mei. Pelukan pertama mereka. “Aku mungkin akan sangat rindu padamu. Jaga diri baik – baik ya.”
---
Mei terbang ke London untuk melanjutkan pendidikannya. Saat hujan pertama turun di tahun 2015, Rey membuka buku yang diberikan Mei kepadanya.
Dari buku The First Rain itu dia mengetahui banyak tentang Mei. Dari mana Mei mendapatkan bukunya dan kenapa dinamainya The First Rain. Ayahnya meninggal tepat setelah membelikannya buku itu. Dan waktu itu keadaan sedang hujan. Hujan di awal tahun.
Dari buku itu juga Rey tahu kalau Jo dan Mei sudah mengenal dari dulu dan keadaannya selalu sama. Mereka tidak pernah akur. Sampai pada tulisan terakhir di buku itu yang bertanggalkan Maret 2014. Tulisan terakhir bukan karena lembarannya sudah habis, lembarannya masih sangat banyak. Tulisan terakhir yang Mei tulis untuk Rey. Setelah Rey membacanya, Rey menangis dan bahkan sempat bertanya – tanya kenapa dia dan Mei dipertemukan seperti waktu itu.
---
3 tahun kemudian…
Jonathan menghadiri undangan pertunangan Rey bersama dengan kekasihnya. Jonathan menggandeng perempuan yang sangat disayanginya itu menuju gedung tempat dilangsungkannya acara pertunangan itu. Dari jauh, Jonathan sudah melihat kawan – kawannya waktu SMA.
“Hai Reva… Hai Dwi… sudah punya pacar juga kalian rupanya.” Mereka tertawa mendengar perkataan Jonathan.
“Kau datang terlambat Jo. Tadi dia sangat cantik.” Kata Dwi.
“Baiklah aku minta maaf. Sekarang dimana Rey?” tanya Jonathan. “Di sana.” Kata Reva sambil menunjuk ke suatu arah.
Jonathan membawa kekasihnya untuk menemui Rey. Rey sudah melihat Jonathan yang sedang berjalan ke arahnya. “Hai Jo… Hai Mei… Syukurlah kalian bisa datang. Aku kira kalian masih di London.”
“Mana mungkin kita melewatkan pertunangan kamu.” Kata Mei
“Mana calon tunanganmu?” tanya Jonathan. Lalu Rey memanggil tunangannya.
“Hai Selly Iskandar. Nama yang cantik. Seperti orangnya.” Ucap Mei dengan tulus memuji calon tunangan Rey.
“Yah, kau beruntung Rey calon tunanganmu secantik dia.” Kata Jonathan menggoda Rey. Semuanya tertawa mendengar perkataan Jonathan. Setelah perbincangan singkat, Jonathan pamit ke toilet dan Selly kembali bersama teman – temannya meninggalkan Rey dan Mei berdua.
“Jadi Rey Ferdinand? Kau sudah menemukan takdirmu?” kata Mei memulai pembicaraan.
“Iya. Mungkin memang takdir menginginkan kita seperti ini. Dan kalau aku boleh bicara, seharusnya perbedaan tak akan menghalangi cinta. Tapi ya sudahlah, meskipun kita berbeda kita akan tetap menjadi teman?” kata Rey panjang lebar.
“Tentu saja. Dan percayalah padaku, perbedaan memang tidak bisa menghalangi cinta. Tapi perbedaan kita terlalu besar. Mungkin takdir sudah menentukan jalannya akan seperti ini.”
Diluar, titik – titik air mulai berjatuhan. “Hujan di awal tahun.” Kata Mei pelan.
---
Maret 2014
Kenapa Tuhan mempertemukanku dengannya saat seperti ini? Mengapa harus tercipta perbedaan yang besar di antara kami? Kenapa Tuhan membuatku mencintainya jika tidak mungkin untuk aku memilikinya?
Aku tak bisa mengorbankan Yesusku demi duniaku, aku tak bisa mengingkari janjiku, Aku tak bisa jauh dari Tuhan dan gerejaku. Aku tidak terbiasa dengan semuanya. Meski itu ketahuilah, kamu adalah yang terindah dari semua yang terindah. Dan kamu akan tetap menjadi yang terindah di antara yang terindah.
Tuhanmu menciptakan engkau sangatlah indah. Sekarang, bila aku jatuh cinta, bilaku terlanjur sayang apalah dayaku? Apakah Tuhanmu akan marah jika aku mencintai dan menyayangimu? Bisa tanyakan Tuhanmu, bolehkah aku yang bukan umatnya, mencintai hambanya?

~THE END~